Jamal Khashoggi: Dunia Arab Butuh Kebebasan Berekspresi
Pengunjuk rasa membawa foto Jamal Khashoggi di depan Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, 8 Oktober 2018. (Foto: AFP/OZAN KOSE)
Washington: Jurnalis Jamal Khashoggi ditengarai dibunuh di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober. Berikut, Medcom.id merilis kolom terakhirnya yang dipublikasikan di Washington Post edisi Rabu 17 Oktober 2018: 

Baca: Arab Saudi Akui Khashoggi Dibunuh di Konsulat 

Saya baru-baru ini membaca laporan berjudul "Freedom in the World" yang diterbitkan Freedom House. Saya terkejut dan menyadari sesuatu usai membaca laporan tahun 2018 tersebut. 


Hanya ada satu negara di dunia Arab yang diklasifikasikan sebagai "bebas." Negara tersebut adalah Tunisia. Yordania, Maroko dan Kuwait bersama-sama duduk di peringkat kedua dengan klasifikasi sebagai negara "setengah bebas." Selain empat negara itu, sisanya diklasifikasikan sebagai "tidak bebas."

Warga yang hidup di negara setengah atau tidak bebas itu kemungkinan kurang mendapat atau sama sekali salah dalam menerima informasi. Masyarakat tidak mampu menyuarakan pendapat, apalagi mendiskusikan, hal-hal yang memengaruhi kawasan serta kehidupan sehari-hari mereka.

Sebagian besar narasi di negara-negara tersebut dikendalikan pemerintah. Meski banyak yang tidak memercayainya, tapi mayoritas populasi dari sejumlah negara itu menjadi korban dari narasi palsu pemerintah. Sayangnya, situasi ini kemungkinan sulit diubah.

Harapan pernah muncul di Dunia Arab saat musim semi 2011 (Arab Spring). Jurnalis, akademisi dan masyarakat umum kala itu memiliki harapan besar akan adanya kehidupan cerah dan bebas. Mereka berharap dapat terbebas dari hegemoni pemerintah, termasuk mengenai sensor informasi yang hampir selalu dilakukan secara konsisten. Harapan ini dengan cepat dihancurkan; masyarakat dunia Arab kembali ke situasi sebelumnya, atau bahkan ke kondisi yang jauh lebih buruk.

Teman baik saya, penulis asal Arab Saudi, Saleh al-Shehi, pernah menuliskan salah satu kolom ternama di media Saudi. Sayangnya, dia sekarang menjalani vonis lima tahun penjara atas komentar yang dianggap bertentangan dengan kerajaan Arab Saudi. 

Sementara di Mesir, pemerintah pernah menyita seluruh edisi sebuah surat kabar bernama al-Masry al Youm. Hal tersebut tidak memicu kemarahan dari kalangan jurnalis, atau bahkan komunitas internasional. Biasanya aksi semacam itu hanya memicu kecaman sesaat, yang dengan cepat diikuti sikap bungkam. Alhasil, Mesir dan sejumlah pemerintah di dunia Arab merasa memiliki kebebasan untuk terus membungkam media.


Infografis kasus Jamal Khashoggi. (Foto: AFP)

Ada suatu masa ketika jurnalis merasa Internet akan membebaskan informasi dari pengawasan pemerintah. Namun sejumlah pemerintah, yang eksistensinya mengandalkan pengawasan informasi, secara agresif memblokade Internet. Mereka juga menangkap banyak reporter lokal dan menekan sejumlah pihak untuk tidak memasang iklan di kantor berita tertentu.

Terdapat beberapa oase yang merefleksikan semangat dari revolusi Arab Spring. Pemerintah Qatar terus mendukung peliputan berita internasional, yang bertolak belakang dengan usaha beberapa negara tetangganya dalam mengontrol informasi demi menegakkan "tatanan lama dunia Arab." 

Bahkan di Tunisia dan Kuwait, di mana pers dianggap "setengah bebas," laporan media hanya berfokus pada isu-isu domestik, bukan masalah yang dihadapi dunia Arab secara umum. Sementara di Lebanon, salah satu negara Arab yang dikenal dengan kebebasan persnya, juga berujung menjadi korban polarisasi dan pengaruh kelompok Hizbullah yang pro kepada Iran.

Dunia Arab menghadapi versi tersendiri dari Iron Curtain -- istilah yang digunakan Uni Soviet dalam membagi dua wilayah Eropa sejak akhir Perang Dunia II hingga berakhirnya Perang Dingin. Iron Curtain atau Tirai Besi dalam dunia Arab tidak diterapkan oleh aktor-aktor eksternal, tapi melalui sejumlah kekuatan domestik yang berlomba-lomba mendapatkan kekuasaan. 

Selama Perang Dingin, Radio Free Europe, yang tumbuh menjadi sebuah institusi kritis, memainkan peranan penting dalam membina dan menjaga harapan akan adanya kebebasan. Dunia Arab membutuhkan hal serupa. Pada 1967, New York Times dan The (Washington) Post bersama-sama memegang kepemilikan surat kabar International Herald Tribune, yang kemudian menjadi media untuk menyuarakan berbagai informasi ke seluruh dunia.

Tempat saya bekerja, The Post, berinisiatif menerjemahkan banyak karya saya dan merilisnya kembali dalam Bahasa Arab. Untuk itu, saya berterima kasih. Dunia Arab perlu membaca (berita) dalam bahasa mereka sendiri, sehingga mereka dapat memahami dan mendiskusikan berbagai aspek demokrasi di Amerika Serikat dan Barat. Jika seorang warga Mesir membaca artikel mengenai harga sebenarnya dari proyek konstruksi di Washington, maka dia diharapkan mampu memahami implikasi dari proyek serupa di negaranya.

Menurut saya, Dunia Arab membutuhkan versi modern dari media transnasional, sehingga warganya bisa mendapatkan informasi mengenai beragam kejadian di dunia. Dunia Arab juga membutuhkan panggung untuk menyuarakan suara-suara dari kawasan. Kami menderita kemiskinan, buruknya manajemen pemerintah dan pendidikan. Melalui pembentukan forum internasional independen, yang terisolasi dari pengaruh serta propaganda pemerintah, warga biasa di dunia Arab diharapkan dapat mengatasi beragam masalah struktural di tengah masyarakat mereka.

(Catatan dari Karen Attiah, editor Global Opinions di Washington Post: "Saya menerima kolom ini dari penerjemah dan asisten Jamal Khashoggi, sehari setelah Jamal dilaporkan hilang di Istanbul. The Post menunda penerbitan karena kami berharap Jamal akan kembali sehingga dia dan saya bisa mengeditnya bersama. Sekarang saya harus menerima kenyataan bahwa hal itu tidak akan terjadi. Ini adalah karya terakhirnya yang saya edit untuk The Post. Kolom ini dengan sempurna menangkap komitmen dan semangatnya demi kebebasan di dunia Arab. Kebebasan yang dia tukarkan dengan hidupnya. Saya akan selamanya bersyukur dia telah memilih The Post sebagai rumah jurnalistik terakhirnya, dan memberi kami kesempatan untuk bekerja sama.")

 



(WIL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id