Visi 2030 dan Keterbukaan Arab Saudi
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman peletak dasar Visi 2030 Arab Saudi (Foto: AFP).
Jakarta: Beberapa hari terakhir muncul kabar bagaimana Arab Saudi mulai membuka diri untuk modernisasi budaya. Terakhir, bioskop kembali beroperasi di Negeri Petrodolar ini.
 
Perubahan demi perubahan dilakukan oleh Raja Salman yang didukung oleh Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman. Visi 2030 menjadi kunci dari reformasi yang dilakukan oleh kerajaan yang dikenal konservatif itu.
 
Kesan konservatif inilah yang ingin dihilangkan oleh Arab Saudi. Visi 2030 ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi terhadap minyak, sekaligus melakukan diversifikasi ekonomi dan mengembangkan sektor publik seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, rekreasi dan wisata.
 
Motor perubahan datang dari Pangeran Salman. Sosok pangeran berusia 32 tahun itu, menyuarakan bahwa Arab Saudi adalah negara yang moderat. Dirinya menegaskan akan membawa Arab Saudi kembali sebagai negara yang lebih terbuka pada perbedaan dan memberantas korupsi.
 
Inti Visi 2030
 
Detail awal disuguhkan oleh Pangeran Mohammad bin Salman pada 25 April 2016. Dewan Menteri menugaskan Dewan Urusan Ekonomi dan Perkembangan untuk melakukan identifikasi serta memonitor mekanisme implementasi krusial dari Visi 2030 Arab Saudi.
 
Minyak mentah penyumbang 30 hingga 40 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari Arab Saudi. Tetapi proposi ekonominya juga tergantung pada distribusi minyak. Mencoba mengurangi ketergantungan akan minyak sudah menjadi tujuan utama dari pemerintah sejak era 1970. Tetapi implementasinya sangat tidak stabil dan lagi-lagi tergantung pada harga minyak dunia.
 
Adapun Visi 2030 yang disampaikan oleh Pangeran Mohammad bin Salman memiliki tiga pilar utama. Pilar pertama adalah menjadikan Arab Saudi sebagai jantung dunia Arab dan Islam. Kedua, determinasi sebagai kekuatan investasi global dan Ketiga, mengubah Arab Saudi sebagai perantara bagi tiga benua yakni, Asia, Eropa dan Afrika.
 
Tujuan jelas di masa depan
 
Visi ini bukannya tanpa tujuan yang jelas. Kerajaan Arab Saudi di bawah kekuasaan Raja Salman melalui Visi 2030 jelas memiliki tujuan yang mereka incar.
 
Beberapa tujuan itu seperti dikutip dari situs Vision2030 antara lain:
 
1. Meningkatkan tabungan rakyat dari 6 persen menjadi 10 persen total pendapatan rakyat.
 
2. Mendorong kontribusi sektor non-profit terhadap PDB dari 1 persen menjadi 5 persen.
 
3. Menampung satu juta relawan setiap tahunnya (saat ini baru mencapai 11.000).
 
4. Meningkatkan pendapatan pemerintah dari sektor non-minyak dari 163 miliar riyal menjadi 1 triliun riyal.
 
5. Melalui visi ini, Pemerintah Arab Saudi ingin meningkatkan peringkat Indeks Efektivitas Pemerintah dari urutan 80 ke urutan 20.
 
6. Selain juga meningkatkan Indeks Survey E-pemerintah dari posisi 36 menjadi masuk ke lima besar.
 
7. Meningkatkan kontribusi sektor swasta dari 40 persen hingga 65 persen dalam PDB.
 
8. Kemudian, visi ini juga menginginkan ekspor non-minyal meningkat dari 16 persen menjadi 50 persen.
 
9. Meningkatkan aset Dana Investasi Publik dari 600 miliar riyal menjadi lebih dari 7 triliun riyal.
 
10. Investasi asing turut menjadi perhatian. Pemerintah Arab Saudi menargetkan peningkatan investasi langsung asing dari 3,8 persen menjadi 5,7 persen.
 
11. Pemberdayaan perempuan juga diperhatikan. Dengan reformasi ini, Arab Saudi menginginkan peranan perempuan dalam lingkungan dari 22 persen menjadi 30 persen.
 
12. Meningkatkan lokalisasi sektor gas dan minyak dari 40 persen menjadi 75 persen turut menjadi perhatian utama.
 
13. Meningkatkan kapasitas jemaah Umrah dari 8 juta menjadi 30 juta per tahun.
 
14. Keterbukaan budaya juga menjadi perhatian. Melalui Visi 2030, Pemerintah Arab Saudi menginginkan peningkatan pengeluaran atas aktivitas budaya dan hiburan dari 2,9 persen menjadi 6 persen.
 
Inisiatif perubahan
 
Pangeran Mohammad bin Salman menjadi penggerak perubahan Arab Saudi. Untuk pertama kalinya pada 20 April 2018, bioskop pertama kali beroperasi di Negeri Petrodolar ini.
 
Film 'Black Panther' mencatat sejarah sebagai film pertama saat bioskop pertama kali dibuka, setelah sempat dibekukan selama 35 tahun.
 
Tidak hanya itu, Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud juga akan meluncurkan konstruksi 'Kota Hiburan' di dekat Riyadh pada Rabu 25 April. Tentunya ini membuka sejarah baru bagi Arab Saudi dan bentuk upaya agar mereka tidak lagi tergantung pada minyak.
 
Proyek seluas 334 kilometer per segi di Qiddiya ini, berlokasi di barat daya Riyadh, akan menyaingi Walt Disney dan taman mewah lainnya, fasilitas olahraga bermotor dan kebun binatang.
 
Selama ini, warga Arab Saudi menghabiskan miliaran dolar per tahun untuk menyaksikan film di bioskop atau mengunjungi taman hiburan di beberapa negara tetangga seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain.
 
Februari lalu, Otoritas Hiburan Umum Arab Saudi (GEA) mengumumkan akan menggelar lebih dari 5.000 festival dan konser sepanjang tahun ini. GEA juga akan menyuntikkan USD64 miliar di sektor pariwisata dalam satu dekade terakhir.
 
Situs wisata situs kuno juga menjadi sektor wisata yang akan digerakan dengan serius oleh Arab Saudi. Para pekerja konstruksi saat ini tengah sibuk memperbaiki benteng abad 17, masjid dan situs-situs bersejarah lainnya.
 
Diriyah menjadi proyek besar pertama yang akan disuguhkan oleh Arab Saudi. Pemerintah setempat mengharapkan daerah di yang menyerupai oasis modern tersebut akan menarik wisatawan asing maupun lokal dalam jumlah besar.
 
Akankah terwujud?
 
Rencana yang bagus tidak akan terwujud dengan baik jika eksekusinya buruk. Setidaknya hal inilah yang harus diperhatikan Arab Saudi.
 
Raja Salman dan tentunya Pangeran Mohammad bin Salman, harus mewujudkan rancangan di atas kertas menjadi kenyataan. Meskipun pada akhirnya rancangan Visi 2030 itu sangat sempurna, tidak hanya kemampuan SDM yang diperlukan tetapi juga investasi asing.
 
Tetapi ada satu sektor yang patutnya mendapatkan perhatian lebih. Reformasi pendidikan harus dilakukan oleh Arab Saudi. Mengapa? pendidikan sangat penting untuk menciptakan SDM yang mumpuni menjalani reformasi yang amat penting.
 
Kemudian, korupsi juga harus menjadi fokus. Meskipun saat ini Pangeran Mohammad bin Salman sudah melakukan penangkapan terhadap beberapa pangeran atas tuduhan korupsi, penegakan hukum terutama pelaku korupsi menjadi hal krusial dalam mewujudkan Visi 2030.
 
Konsistensi dan eksekusi menjadi kunci dalam Visi 2030. Para pengamat,-khususnya dari Arab Saudi- menyuarakan optimisme mereka bahwa visi ini akan berhasil.
 
Tetapi terlepas dari semua rencananya, dunia akan menjadi saksi perubahan Arab Saudi dari negara ultrakonservatif menjadi negara moderat yang selama ini diutarakan oleh Pangeran Mohammad bin Salman dalam setiap kunjungannya ke luar negeri.

(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360