Reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran. (Foto: AFP).
Reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran. (Foto: AFP).

Nuklir Iran dan Tekanan Masif dari Pemerintahan Trump

Internasional nuklir iran
Arpan Rahman • 09 Juli 2019 20:13
Washington: Ketika Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian nuklir dengan Iran dan menerapkan kembali sanksi, tanggapan Teheran mudah diperkirakan dan diprediksi secara luas. Iran mulai menembus batas-batas yang disepakati dalam pengayaan uranium dan pekerjaan lain yang dapat memimpin perlombaan senjata nuklir.
 
Benar saja, beberapa kantor berita Iran pada Senin melaporkan bahwa rezim telah melampaui garis baru dengan memperkaya uranium di atas batas yang ditentukan oleh kesepakatan. Bahkan sebelumnya telah menjangkau total stok uranium yang diperkaya itu diizinkan untuk dikelola.
 
Topik AS versus Iran ini menjadi isu yang dibahas oleh Dewan Redaksi the Washington Post, seperti dilansir dari opini, Senin 8 Juli 2019, berikut:

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak memulai konfrontasi yang telah meningkatkan ketegangan di Teluk Persia, Anda akan berpikir pemerintahan Trump akan mengantisipasi balasan Iran dan melakukan langkah selanjutnya, dengan tujuan mencapai tujuan nyata tanpa menjerumuskan Amerika ke dalam Perang melawan negara lain di Timur Tengah.
 
Tanggapan Trump terhadap pengumuman Iran menunjukkan sebaliknya. "Iran, lebih baik hati-hati" adalah segala yang diucapkannya untuk wartawan pada Minggu. Omong kosong itu sekali lagi mengungkapkan kurangnya kebijakan presiden atas tujuan yang koheren untuk kampanye "tekanan maksimum", atau strategi buat mencapainya.
 
Untungnya, respons Iran yang dikalibrasi secara hati-hati terhadap provokasi Trump tidak berarti ada keadaan darurat. Meskipun melanggar batas pengayaan, rezim Iran masih jauh dari memperoleh bahan atau sarana untuk menghasilkan hulu ledak nuklir. Juga tidak berpacu mencapai kemampuan itu: Sebaliknya, Iran telah menunda langkah-langkah lebih lanjut selama 60 hari, sementara itu juga menuntut agar negara-negara Eropa membelanya dengan berbagai cara demi menghindari sanksi AS dan memberi manfaat ekonomi yang dijanjikan perundingan nuklir.
 
Negara-negara Eropa mungkin mencoba, tetapi upaya mereka sebelumnya gagal. Kenyataannya, beberapa perusahaan Barat ingin melakukan bisnis di pasar Iran yang sulit dengan risiko meninggalkan AS.
 
Di saat yang sama, pemerintahan Trump berharap Eropa akan menanggapi tindakan Iran dengan menerapkan sanksi mereka sendiri tidak mungkin dipenuhi dalam waktu dekat. Para pemimpin Prancis, Jerman, dan bahkan Inggris, sebagaimana Rusia dan Tiongkok, menyalahkan AS karena menarik diri dari kesepakatan nuklir dan memicu respons Iran, yang kemungkinan juga mencakup serangan baru-baru ini terhadap tanker minyak di Teluk Persia.
 
Jika Trump beruntung, Eropa akan menegosiasikannya dari kekacauan yang telah ia ciptakan. Presiden Prancis Emmanuel Macron menelepon Presiden Iran Hassan Rouhani pada Sabtu untuk meminta pembicaraan.
 
Sementara Iran mengatakan tidak akan berurusan dengan pemerintahan Trump kecuali jika mencabut sanksi, mungkin negara-negara seperti Perancis atau dari Arab seperti Oman dapat berfungsi sebagai perantara. Agar keberhasilan bisa terjadi, Trump harus menentukan tujuan yang dapat dicapai -- bukan layaknya daftar 12 tuntutan yang ditetapkan oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, yang, seperti yang ia sendiri akui, adalah bukan baru.
 
Pompeo dan penasihat keamanan nasional John Bolton, seperti pemerintah Israel dan Saudi, mendukung perubahan rezim di Iran dan terbuka buat menggunakan kekuatan militer AS.
 
Trump mengatakan ia hanya ingin meningkatkan kesepakatan nuklir, dan tidak menghendaki perang. Jika itu masalahnya, ia harus berpaling dari kedua pembisiknya itu dan mencari cara untuk meredakan ketegangan -- sebelum terlambat.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif