Warga London, Inggris didera gelombang panas. Foto: AFP
Warga London, Inggris didera gelombang panas. Foto: AFP

Gelombang Panas Eropa Indikasi Serius Dampak Perubahan Iklim

Willy Haryono • 25 Juli 2022 18:13
Jakarta: Gelombang panas menyapu benua Eropa secara tak terduga bak petir di siang bolong. Temperatur udara di sejumlah negara Eropa melonjak tajam, bahkan ada yang sampai menyentuh 47 derajat Celcius.
 
Di kawasan tropis seperti Indonesia, yang masyarakatnya relatif terbiasa dengan cuaca panas, angka 47 derajat Celcius masih terbilang tinggi untuk ukuran temperatur udara. Bagi masyarakat di Eropa, yang iklimnya relatif sejuk jika dibandingkan dengan wilayah tropis, angka 47 derajat Celcius tentu terasa sangat, sangat panas.
 
Sebenarnya gelombang panas bukan sesuatu yang baru di Eropa. Benua Biru pernah beberapa kali mengalaminya, dengan temperatur udara yang juga pernah menyentuh atau melampaui 40 derajat Celcius. Namun, frekuensi terjadinya gelombang panas di Eropa cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seperti yang pernah terjadi pada 2018 dan 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelum 2018, gelombang panas terakhir yang cukup signifikan di Eropa terjadi pada 2003 dan 2006. Dari 2006 hingga 2018, dalam periode selama lebih kurang 12 tahun, benua Eropa relatif terbebas dari gelombang panas.
 
Meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa, dan juga benua Amerika serta kawasan lainnya, disebut para ilmuwan di berbagai negara sebagai indikasi serius dari dampak buruk perubahan iklim. Banyak penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan fenomena nyata yang dapat memicu konsekuensi serius jika tidak segera diantisipasi.
 
Namun sayangnya, kesadaran masyarakat global terhadap isu perubahan iklim secara umum masih relatif rendah. Kebanyakan masyarakat masih menganggap perubahan iklim sebagai sesuatu yang tidak terlalu mengancam, dan bahkan ada juga yang menilainya hanya sebagai rekaan atau konspirasi global.
 
Padahal, jika para skeptis perubahan iklim mau lebih jujur terhadap diri sendiri, mereka mungkin merasakan ada yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggal masing-masing saat ini. Temperatur udara mungkin terasa lebih panas dari sebelumnya; guyuran hujan menjadi lebih sering atau jarang dari sebelumnya; tiupan angin terasa jauh lebih kencang dari sebelumnya; dan cuaca secara umum menjadi lebih sulit diprediksi dari sebelumnya.
 
Perubahan pola cuaca semacam itu mungkin hanya dianggap angin lalu. Namun bagi para ilmuwan, hal semacam itu sudah semakin mengindikasikan dampak perubahan iklim, yang dikhawatirkan dapat memicu konsekuensi serius yang akan semakin parah dari waktu ke waktu.
 
Salah satu konsekuensi perubahan iklim yang menjadi sorotan saat ini adalah gelombang panas yang memicu kebakaran hutan di Eropa. Sejak bulan lalu, gelombang panas melanda beberapa negara Eropa, dengan temperatur berkisar antara 40 hingga 43 derajat Celcius sepanjang Juni. Gelombang panas kedua terjadi pada pertengahan Juli, yang meluas hingga ke Britania Raya, dengan temperatur melampaui 40 derajat Celcius untuk kali pertama. Temperatur tertinggi yang tercatat dalam gelombang panas Eropa tahun ini adalah 47 derajat Celcius di Portugal pada 14 Juli.
 
Para ahli klimatologi mengaitkan gelombang panas ekstrem ini dengan dampak perubahan iklim. Mereka juga memprediksi bahwa perubahan aliran udara 'jet stream' sebagai imbas dari perubahan iklim, dapat menyebabkan meningkatnya frekuensi gelombang panas di Eropa. Gelombang panas yang lebih sering terjadi tentu juga akan meningkatkan frekuensi terjadinya kebakaran hutan mematikan yang mengancam masyarakat.
 
Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) cabang Eropa pada 22 Juli lalu, gelombang panas yang membuat temperatur udara di sejumlah negara Eropa melonjak tajam telah menyebabkan lebih dari 1.700 kematian di Spanyol dan Portugal. "Kami meyakini angka ini akan terus bertambah dalam beberapa hari ke depan," Direktur Regional WHO Eropa, Hans Kluge, kala itu.
 
Kebakaran hutan di Spanyol tahun ini merupakan yang terburuk dalam sejarah. Dalam tujuh bulan perdana 2022, kebakaran hutan telah menghanguskan lebih dari 197.000 hektare hutan di Spanyol. Angka tersebut sudah melampaui keseluruhan area terbakar di Spanyol pada 2012, di saat kebakaran hutan menghanguskan 189.376 hektare lahan. Kobaran api juga dilaporkan terjadi di Yunani, termasuk di area resor pulau Lesbos. Ratusan turis dan warga setempat telah dievakuasi demi menghindari risiko terjadinya kematian.
 
Seiring terus menghangatnya planet Bumi, gelombang panas akan lebih sering terjadi dengan intensitas yang juga lebih kuat dari sebelumnya. Bukan tidak mungkin kondisi yang terjadi saat ini di Eropa dan Amerika, akan terjadi juga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Temperatur udara yang terasa lebih panas dan lebih sering dari sebelumnya belakangan ini, mungkin akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
 
Mungkin saja di masa mendatang nanti, kita akan melihat kembali ke belakang, ke tahun 2022, dan mengenangnya sebagai salah satu tahun terdingin dalam beberapa dekade terakhir.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif