Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden tandatangani aturan senjata terbaru. Foto: AFP
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden tandatangani aturan senjata terbaru. Foto: AFP

Biden Sahkan RUU Kepemilikan Senjata Api, Secercah Harapan Bagi AS

Willy Haryono • 27 Juni 2022 08:07
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah menandatangani Rancangan Undang-Undang (RUU) kepemilikan senjata api bipartisan yang disepakati Partai Demokrat dan juga Republik. Lewat penandatanganan pada tanggal 25 Juni tersebut, RUU Bipartisan Safer Communities Act berubah menjadi Undang-Undang (UU) yang berlaku untuk seantero wilayah AS.
 
UU ini merupakan usaha terbaru Pemerintah AS dalam menekan angka kekerasan senjata api yang telah menelan ratusan hingga ribuan jiwa dari tahun ke tahun.
 
Aturan terbaru akan memperkuat pemeriksaan latar belakang bagi individu termuda yang hendak membeli senjata api; menjauhkan senjata api dari pelaku kekerasan dalam rumah tangga; dan membantu negara-negara bagian di AS dalam mengambil senjata api dari individu yang dianggap berbahaya. Sebagian besar anggaran dari total USD13 miliar terkait UU tersebut akan membantu memperkuat program kesehatan mental dan mendukung sekolah-sekolah yang pernah terkena dampak penembakan massal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apakah UU ini dapat secara efektif menekan angka kekerasan senjata api di AS? Masih terlalu dini untuk mengatakannya. Namun yang jelas, kemungkinan terjadinya penembakan massal dengan skala seperti peristiwa di Sandy Hook pada 2012 dan Robb Elementary School pada Mei lalu masih terbuka lebar. Ini dikarenakan tingginya ketersediaan senjata api di Negeri Paman Sam.
 
Katakanlah seorang individu muda di AS hendak membeli senjata api dengan niat ingin melakukan penembakan massal. Ia menjalani pemeriksaan latar belakang, dan dinyatakan tidak bisa membeli senapan serbu karena alasan tertentu. Jika niatnya sudah bulat untuk berbuat kejahatan, maka masih ada beberapa alternatif lain dalam mendapatkan senjata api di AS.
 
Individu tersebut bisa saja membayar seseorang yang lebih tua darinya untuk membelikan senjata api. Ia juga bisa saja membeli senjata api di tempat-tempat ilegal, baik di lokasi fisik atau daring. Alternatif lain, ia juga bisa mengambil senjata api milik orang tuanya. Masih ada banyak skenario lain, yang semuanya memungkinkan karena didukung tingginya ketersediaan senjata api.
 
Peliknya masalah kekerasan senjata api di AS ini menjadikannya seolah-olah seperti epidemi, semacam penyakit. Disahkannya UU terbaru diharapkan dapat menjadi obat mujarab dalam mengatasi penyakit tersebut. Namun karena epidemi ini sudah demikian akut, yang juga dipengaruhi faktor budaya senjata api di AS, maka efek yang diharapkan dari UU kepemilikan senjata api belum akan terlihat dalam waktu dekat.
 
Biden mengatakan kompromi bipartisan dalam RUU ini "tidak mencakup semua yang saya inginkan," tapi "meliputi langkah-langkah yang sudah saya serukan sejak dulu dalam upaya menyelamatkan banyak nyawa."
 
"Saya tahu ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan saya tidak akan pernah menyerah. Tapi hari ini adalah hari yang monumental," ungkapnya.
 
Ada satu kekhawatiran tersisa: Donald Trump. Mantan presiden AS itu berencana maju kembali dalam pemilihan umum 2024. Ia dikenal sebagai pendukung kuat kebebasan memiliki dan membawa senjata api. Alih-alih mendukung pengendalian senjata api, Trump justru menyerukan agar lebih banyak warga AS membawa senjata api. Menurutnya, "orang baik" dengan senjata api dapat menekan angka penembakan massal di ruang publik, termasuk di sekolah-sekolah.
 
Jika Trump pada akhirnya memang maju ke pilpres AS 2024 dan menang, bukan tidak mungkin ia akan mencoba menghapus UU kepemilikan senjata api, seperti yang sudah pernah dilakukannya kepada program Obamacare. Walau upaya pencabutan tersebut berakhir gagal, hal itu menunjukkan bahwa Trump memiliki kecenderungan untuk menghapus aturan yang tidak sesuai dengan keinginannya.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif