Era Baru Bagi Perpolitikan Malaysia
Mahathir Mohamad memimpin Pakatan Harapan memenangkan Pemilu Malaysia 2018 (Foto: AFP).
Jakarta: Euforia masih mewarnai para pendukung oposisi Pakatan Harapan. Setelah pemungutan suara pemilu 9 Mei 2018, kini Malaysia berada di era baru perpolitikan.
 
Setelah 60 tahun Barisan Nasional berkuasa, mereka akhirnya harus mengakui bahwa kekuasaan tidak akan kekal. Sekitar 14 juta rakyat Malaysia sudah menentukan pilihannya, hasilnya, pihak oposisi memenangkan Pemilu Malaysia ke-14 dengan hasil yang meyakinkan.
 
Pakatan Harapan meraih 122 kursi parlemen, sebuah angka yang menakjubkan bagi pihak oposisi yang selama ini berada di ketika Barisan Nasional. Sementara Barisan Nasional hanya mendapatkan 79 kursi diikuti oleh Partai Islam se-Malaysia (PAS) dengan 18 kursi.
 
Dalam konferensi pers usai kemenangan Pakatan Harapan, yang menjadi calon Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dari pihak oposisi itu mengatakan bahwa dirinya akan dilantik 10 Mei 2018 oleh Yang di-Pertuan Agung, Sultan Muhammad V dari Kelantan. Di saat bersamaan, dia menunjuk Wan Azizah Wan Ismail sebagai calon Wakil Perdana Menteri. Wan Azizah adalah Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang juga istri dari Anwar Ibrahim, lawan politik Mahathir ketika berkuasa.
 
Mahathir pun bersiap untuk mengupayakan pengampunan dari Anwar Ibrahim yang saat ini masih menjalani hukuman penjara. Anwar pun ditengarai akan bebas pada Juni 2018.

"Saya akan mengupayakan pengampunan bagi Anwar dan pada waktunya Anwar akan menjadi perdana menteri. Dengan catatan, Anwar harus bertarung terlebih dahulu mendapatkan kursi di Parlemen karena aturan negara menyebutkan seseorang harus menjadi anggota parlemen jika ingin menjadi perdana menteri," tuturnya.
 
Hingga pagi dini hari Mahathir masih mampu memberikan keterangan kepada pers dan kadang-kadang melontarkan lelucon. Di usia 93 tahun, seperti tidak meredup semangat untuk membantu Malaysia.
 
Sementara sosok Perdana Menteri Malaysia Najib Razak yang menjadi lawan Mahathir dalam pemilu kali ini, bukanlah yang sosok asing bagi Mahathir. Sebagai putra dari Bapak Bangsa Malaysia, Najib menjadi murid didikan Mahathir dalam dunia perpolitikan Malaysia. Bahkan ketika Najib mencalonkan sebagai perdana menteri, Mahathir turut berkampanye demi Najib.
 
Setelah Najib berkuasa, timbul rasa tidak senang dari Mahathir. Mulai skandal korupsi 1MDB hingga meningkatknya harga kebutuhan hidup masyarakat membuat Mahathir beralih ke pihak oposisi Pakatan Harapan. Padahal, selama ini Mahathir berjasa membangun Partai United Malays National Organisation (UMNO) yang memimpin koalisi Barisan Nasional (BN).
 
Hampir mirip seperti Indonesia, masyarakat Malaysia terpecah belah karena pemilu. Kini sekarang waktunya untuk memulihkan dan membangun rasa percaya antar masyarakat Malaysia.
 
Kerja keras dimulai saat ini, tetapi semua pihak harus ingat bahwa pemerintah baru tidak mungkin mengubah kebiasaan puluhan tahun dalam waktu sekejap. Kebiasaan yang sudah sangat mengakar harus diubah secara perlahan tetapi pasti.
 
9 Mei 2018 ini menjadi tanggal pengingat dimana Pakatan Harapan akan memulai era baru perpolitikan Malaysia. Tanggal keramat itu juga menjadi penanda bahwa politisi tidak boleh menganggap remeh rakyat. Politisi harus sadar bahwa rakyat adalah majikan mereka dan mereka dipilih untuk melayani bukan menjadi tuan tanah bagi rakyat.
 
Selamat untuk Malaysia. Akhirnya muncul kekuasaan dari rakyat!



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id