Presiden Prancis Emmanuel Macron dihadapkan pada protes yang menggoyang pemerintah. (Foto: AFP).
Presiden Prancis Emmanuel Macron dihadapkan pada protes yang menggoyang pemerintah. (Foto: AFP).

Nasib Presiden Prancis Penting bagi Dunia

Internasional prancis politik prancis
Arpan Rahman • 14 Januari 2019 16:39
London: Presiden Emmanuel Macron pekan ini akan meluncurkan ‘debat utama nasional’ selama tiga bulan tentang masa depan Prancis setelah protes anti-pemerintah 'rompi kuning' yang berkepanjangan. Demonstrasi sudah sangat melemahkan Macron dan salah satu pertanyaan kunci politik pada 2019 adalah apakah ia dapat memulihkan sebagian dari popularitasnya yang setinggi langit.

Jawabannya penting tidak hanya bagi Prancis, tetapi juga Eropa dan dunia pada umumnya, mengingat Macron telah muncul sebagai tokoh pembela orde internasional liberal yang paling otoritatif dalam periode singkatnya di kepresidenan. Memang, Presiden Prancis bersama rekannya dari Amerika Serikat, Donald Trump, saat ini mewujudkan lebih dari para pemimpin demokratik lainnya melalui 'pertarungan' dalam hubungan internasional antara pasang-surut populis yang meningkat dan titik pusatnya, yang akan terus dimainkan pada 2019.

Kemenangan Macron pada 2017 melawan kandidat Front Nasional ekstrem kanan yang lebih disukai Trump, Marine Le Pen, sangat mengejutkan karena menentang mars populisme di banyak negara yang menyaksikan berbagai partai di pusat permainan terkadang melancarkan pukulan politik. Kemenangan Macron lantas tampaknya mewakili setidaknya berputarnya sebagian pihak dalam peruntungan -- setidaknya di Eropa -- di blantika politik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Dari perspektif politik domestik Prancis, pertanyaan kritis bagi Macron pada 2019 adalah apakah protes ‘Rompi Kuning’ telah memadamkan program reformasi ekonominya. Berbagai perubahan ini terlontar ke dalam keraguan sesudah presiden mengumumkan pada Desember bahwa ia mundur atas kenaikan pajak bahan bakar dan memberikan miliaran dana dalam bantuan demi upaya mengakhiri protes selama beberapa pekan. Dalam pidatonya di Tahun Baru, Macron menegaskan reformasi akan berlanjut, dan menegaskan bahwa pemerintahannya "dapat berbuat lebih baik" dalam meningkatkan kehidupan warga di seluruh negara itu. Namun, banyak demonstran ‘Rompi Kuning’ berseru agar dia meletakkan jabatan.

Kemarahan itu digarisbawahi dalam jajak pendapat yang dirilis pekan lalu, menunjukkan bahwa 75 persen dari populasi tidak senang dengan cara Macron memerintah negara. Survei tersebut, untuk franceinfo dan surat kabar Figaro, membandingkan kesuraman buat Macron pada April 2018 ketika 'hanya' 59 persen dari mereka yang disurvei tidak senang dengan pemerintah, dan bahwa prioritas utama bagi penduduk Prancis adalah menemukan cara buat meningkatkan daya beli konsumen.

Jajak pendapat ini menggarisbawahi perubahan suasana politik di Prancis yang, ironisnya, semula membantu mendorong naiknya begitu cepat Macron ke kekuasaan pada 2017.

Sentimen politik antikemapanan yang serupa menempatkan negara itu masuk ke wilayah yang belum dipetakan dengan memastikan partai En Marche! dari Macron -- yang baru didirikan pada April 2016 -- tidak hanya bisa memenangkan kursi kepresidenan, tetapi juga memenangkan pemilihan suara legislatif dengan salah satu mayoritas terbesar sejak kemenangan mutlak 1968 mantan Presiden Charles de Gaulle.

Dalam konteks yang terus bergejolak, prospeknya sangat tidak pasti terhadap sisa masa kepresidenan Macron. Meskipun mayoritas pemilih memutuskan tetap mendukung harapan (Macron) daripada kemarahan (Le Pen) pada 2017, gelombang pasang sekarang berpotensi berbalik arus secara tegas terhadapnya jika ia gagal mengatasi kemarahan anti-kemapanan yang dipicu oleh rasa sakit hati ekonomi, yang kadung membuat negara tersebut menderita bertahun-tahun pengangguran dua digit dan juga pertumbuhan rendah sebelum kepresidenannya.

Bagian dari tantangan untuk Macron, presiden termuda di Republik Prancis selama enam dekade, sudah menjadi harapan awal yang sangat tinggi di sekitar jabatannya. Di sini ia akan sangat sadar betapa optimisme awal selama dua kepresidenan terakhir Nicolas Sarkozy dan Francois Hollande pun gagal, bahkan keduanya pada akhirnya menjadi kepala negara yang tidak populer. Kendati sesungguhnya, Hollande -- yang menjadi presiden paling tidak populer sejak rekor itu dimulai -- memutuskan tidak maju ke pemilu kembali, petahana pertama yang tidak mengincar masa jabatan kedua di Prancis.

Taruhannya sangat tinggi karena, jika pemilih tidak puas dengan duopoli politik tradisional Partai Republik moderat dan kaum Sosialis, jika Macron gagal dengan program politiknya, maka penerima manfaat utama ketidakpuasan bersama itu pula mungkin sangat ekstrem menjadi tokoh-tokoh penting anti-kemapanan, terutama menopang pemimpin Front Nasional sayap kanan, Le Pen. Meskipun dikalahkan secara komprehensif oleh Macron pada 2017, ia masih mendapatkan lebih dari 40 persen suara dan cukup muda usianya untuk berpotensi dalam beberapa pemilihan presiden lagi.

Demi mendapatkan kembali inisiatif politik dalam konteks ini dan menjadi pesaing kuat untuk masa jabatan kedua, Macron perlu membangun kembali kepercayaan publik dalam agenda kebijakannya. Selama kampanye pemilunya, ia menunjukkan bahwa para politisi mapan sering mendapat manfaat dengan memiliki visi yang optimistis dan berwawasan ke depan untuk mengatasi tantangan kebijakan jangka panjang yang rumit seperti menangani standar hidup yang stagnan, dan melibatkan kembali masyarakat dengan proses politik, guna membantu membangun kepercayaan publik di sekitar solusi bagi mereka.

Mengatasi tantangan sulit yang harus dipecahkan, urutan pertama dalam konteks ini berupa rintangan signifikan di mana para politisi sentris di sebagian besar dunia secara luas dianggap telah gagal, membantu memunculkan persepsi tentang proses politik yang hancur. Guna mendapatkan kembali langkah terdepan, Macron perlu menunjukkan dengan terampil lagi bagaimana politik demokrasi yang adil, toleran, dan inklusif dapat membantu mengatasi atau memperbaiki tantangan yang dialami banyak orang di dunia yang berubah cepat dalam menghadapi globalisasi.


(Opini ini dikutip Medcom.id dari laman gulfnews, Minggu 13 Januari 2019; ditulis oleh Andrew Hammond, cendekia di lembaga penelitian kebijakan luar negeri LSE IDEAS di London School of Economics.)


(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi