Presiden Joko Widodo saat kunjungi Korea Selatan pada November 2019 lalu. Foto: AFP
Presiden Joko Widodo saat kunjungi Korea Selatan pada November 2019 lalu. Foto: AFP

Hubungan Spesial RI-Korsel, Pemain Kunci Perdamaian Kawasan

Marcheilla Ariesta • 29 Agustus 2022 13:50
Jakarta: Hubungan Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) akan memasuki usia ke-50 tahun depan. Di usia setengah abad ini, banyak pencapaian yang berhasil diraih kedua negara, salah satunya sama-sama menjadi anggota G20 - 20 negara dengan ekonomi terbesar dunia.
 
Ragam pencapaian ini tentu saja tidak cukup. Perlu penguatan lebih lanjut dari kedua negara di berbagai bidang.
 
Saat ini, sektor yang sedang digali dengan baik adalah ekonomi. Korea Selatan merupakan negara keenam terbesar sebagai mitra perdagangan Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri RI, tercatat total perdagangan kedua negara pada tahun lalu mencapai USD18,41 triliun. Meski demikian ada defisit sekitar USD446,72 juta.
 
Ekonomi menjadi fokus utama dalam kerja sama dengan Negeri Ginseng tersebut. Kepala Pusat Badan Kebijakan Strategis Luar Negeri untuk Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri RI, Muhammad Takdir mengatakan, bidang industri, transportasi, infrastruktur, kesehatan dan lingkungan yang paling gencar ditangani kedua negara.
 
"Kedua negara secara ambisius menargetkan nilai perdagangan hingga USD30 triliun tahun ini," ucap Takdir dalam workshop 'Assessing Indonesia-Korea Special Strategic Partnership Towards Its 50 Years Diplomatic Relations' yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia dan Korean Foundation, Jumat, 26 Agustus 2022.
 
Dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke Korsel Juli lalu, disampaikan bahwa, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) harus dimanfaatkan, termasuk dengan Seoul.
 
"Namun, hambatan non-tarif (NTMs) akan berpengaruh negatif pada perdagangan Indonesia-Korea Selatan. NTMs yang diterapkan Korea Selatan lebih banyak, dan menjadi salah satu penghambat ekspor Indonesia," kata Takdir.
 
Hal ini, menurutnya, akan menjadi pekerjaan rumah bersama dengan Korsel. Tentunya, kerja sama sama harus menguntungkan dua belah pihak.
 
Selain ekonomi, peningkatan tenaga kerja semi profesional Indonesia di Korea Selatan juga meningkat. Ia menyebutkan, dalam dua dekade terakhir, junlah tenaga kerja terampil Indonesia meningkat hingga dua kali lipat.
 
"Bahkan pada 2019, 42 persen angkatan kerja Indonesia adalah skilled labor," sambungnya. "Efek penuaan populasi di Korsel mempengaruhi perekonomian dan keamanan nasional. Dalam konteks ekonomi, mereka (Korsel) membutuhkan lebih banyak tenaga kerja," ucap Takdir.
 
Di sisi Korsel, kerja sama di Indo-Pasifik diharapkan dapat menjadi fokus kerja sama dengan Indonesia ke depannya. Hal ini disebabkan letak Negeri Ginseng itu yang berada di tengah situasi keamanan yang sulit.
 
Bagaimana tidak? Tiongkok dan Amerika Serikat saling berebut pengaruh di kawasan. Sementara itu, perselisihan dengan Korea Utara dan rudalnya cukup mengkhawatirkan.
 
Peneliti Pusat Studi ASEAN-India The Institute of Foreign Affairs and National Security (IFANS) Cho Wondeuk mengharapkan, adanya langkah baru dalam kerja sama Indonesia-Korsel di 50 tahun hubungan kedua negara.
 
"Perlunya kedua negara membangun dialog konstruktif yang menunjukan komitmen jangka panjang dalam menciptakan perdamaian dan kemakmuran serta stabilitas di kawasan," serunya.
 
"Ini adalah saat yang tepat bagi kedua negara menjadi pemegang peran penjaga perdamaian di kawasan," sambung Cho.
 
Hubungan Indonesia dan Korea Selatan memasuki usia ke-50 tahun depan. Diharapkan hubungan kedua negara semakin erat dan banyak potensi kerja sama baru yang terpenuhi.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif