Pasukan Ukraina di perbatasan melawan Rusia. Foto: AFP
Pasukan Ukraina di perbatasan melawan Rusia. Foto: AFP

Pasukan Rusia Mundur dari Kherson, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Willy Haryono • 14 November 2022 18:13
Jakarta: Pasukan Rusia telah mundur dari kota Kherson. Peristiwa tersebut merupakan satu dari sejumlah kekalahan yang dialami Presiden Rusia Vladimir Putin sejak dirinya memerintahkan "operasi militer khusus" ke Ukraina pada Februari 2022.
 
Apakah pasukan Rusia memang sudah benar-benar mundur? Dan apakah Putin menyerahkan begitu saja Kherson, kota yang diduduki Rusia di fase-fase awal invasi di Ukraina?
 
Menurut keterangan Kementerian Pertahanan Rusia pada Jumat lalu, langkah mundur pasukan dari kota Kherson sudah selesai. Pengumuman tersebut mengindikasikan bahwa penarikan mundur pasukan dari Kherson memang keputusan resmi dari Kremlin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak Juni lalu, tentara Ukraina telah menggunakan sistem rudal HIMARS dari Amerika Serikat (AS) untuk secara sistematis menyerang dan merusak jembatan di atas Dnieper, sungai terpanjang di negara itu. Serangan rutin ini pasukan Rusia di tepi kanan atau barat Dnieper, tempat Kherson berdiri, untuk memenuhi pasokan amunisi dan kebutuhan logistik lainnya. Kemenhan Rusia mengatakan bahwa semua pasukan dan peralatannya yang ada di Kherson kini sudah berada di tepi timur Sungai Dnieper.
 
Mundurnya Rusia adalah kekalahan bersejarah Rusia, mirip dengan upaya gagal merebut ibu kota Kyiv di fase awal invasi. Ini juga merupakan pukulan telak bagi patriotisme dan moral prajurit Rusia yang relatif rendah dalam beberapa bulan terakhir.
 
Dari sudut pandang militer, kekalahan di Kherson sangat signifikan bagi Rusia. Hilangnya kendali di wilayah tepi kanan Dnieper akan mempersulit Rusia dalam melancarkan operasi militer menuju kota Mykolaiv dan Odessa. Sejumlah pihak berpendapat bahwa dua kota tersebut dapat menjadi penentu dari perang Rusia di Ukraina. Jika Ukraina dapat mempertahankan keduanya, bisa saja operasi militer Rusia pada akhirnya tidak akan mendapat hasil apapun.
 
Menurut laporan The New York Times, Putin baru-baru ini dilaporkan melarang para jenderalnya untuk menyerahkan kota Kherson. Namun pada akhirnya Putin menyetujui penarikan pasukan dari Kherson. Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa dirinya mungkin telah belajar dari kesalahan sebelumnya.
 
Dari perspektif Rusia, menyerahkan sisi kanan Dnieper merupakan langkah logis karena memang sulit dipertahankan. Sejumlah pakar militer di negara-negara Barat juga mengatakan hal serupa.
 
Tetapi para pakar yang sebelumnya mencoba menggali lebih dalam mengenai tindakan Rusia di Ukraina, mengenai apa sebenarnya tujuan Putin, sepertinya hanya membuang-buang waktu. Perang ini sejak awal terasa seperti sesuatu yang janggal, mirip seperti saat Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina pada tahun 2014.
 
Sejumlah artikel dan buku menggambarkan bagaimana Rusia selama ini cenderung tidak memperhatikan korban jiwa selama konflik bersenjata. Perang Rusia di Ukraina juga demikian. Garis depan pertempuran di Ukraina, dengan panjang lebih dari 1.000 kilometer, sangatlah panjang sehingga Rusia tidak memiliki cukup prajurit untuk mempertahankannya. Itulah mengapa Rusia perlu memobilisasi puluhan ribu tentara cadangan pada September lalu, dan perintah mobilisasi parsial ini dikabarkan akan diperpanjang.
 
Mundurnya pasukan Rusia dari kota Kherson memalukan bagi Putin, tetapi dia menyetujuinya. Hal ini menunjukkan bahwa Putin sepertinya tidak lagi mengikuti emosinya dan memilih untuk mengikuti rekomendasi dari otoritas militer, dalam hal ini Kemenhan Rusia. Dikhawatirkan jika Putin tetap mengikuti emosi, maka kekalahan yang lebih parah dari Kherson dapat terjadi. Namun, kendati menarik pasukan dari Kherson, Putin kemungkinan tidak akan melepaskan rencananya untuk menduduki sebanyak mungkin wilayah di Ukraina dan menggulingkan pemerintahan pusat di Kyiv.
 
Lantas, apa yang mungkin terjadi setelah ini? Rusia mungkin akan melakukan beberapa langkah, termasuk menembakkan artileri dari sisi kiri Sungai Dnieper ke arah Kherson. Jika ini terjadi, maka kota Kherson dapat mengalami nasib serupa seperti Mariupol yang hancur berantakan. Kemungkinan lain adalah, Rusia akan memfokuskan pertempuran di Donbas Donbas. Pasukannya di sana mungkin akan diperkuat dengan para prajurit yang sebelumnya ditarik dari kota Kherson.
 
Beberapa bulan lalu, saat gagal menduduki ibu kota Kyiv, pasukan Rusia mengumpulkan kembali kekuatan dan bergerak menguasai kota Severodonetsk dan Lysychansk. Ukraina tidak mau peristiwa tersebut terulang kembali, dan itulah mengapa tidak ada selebrasi berlebihan saat Kherson berhasil direbut. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan dalam sebuah pesan video bahwa pasukannya akan terus menekan Rusia setelah kemenangan Kherson. Ia menyadari bahwa mengusir Rusia sepenuhnya dari Ukraina masih belum dapat terwujud dalam waktu dekat.
 
Kemenangan Ukraina di Kherson kembali memperlihatkan tekad kuat negara tersebut dalam menghalau Rusia, negara tetangga yang sumber dayanya jauh lebih besar. Jika dilihat dari perbandingan kekuatan militer, mungkin tidak akan ada yang menyangka bahwa Ukraina mampu menahan Rusia hingga selama ini. Namun tentu saja, perjuangan Ukraina ini juga didukung bantuan militer dan pendanaan dari negara-negara Barat, terutama AS. Tanpa adanya bantuan, mungkin Ukraina sudah lama tumbang di tangan negara tetangganya itu.
 
Pelajaran paling penting dari Kherson adalah bahwa Ukraina sekali lagi membuktikan bahwa ia dapat berhasil bertahan melawan Rusia dan sumber daya negara yang unggul. Ini juga penting untuk dukungan Barat, yang merupakan kunci bagi Ukraina. Tanpa itu, tidak akan ada kemenangan Ukraina di Kherson.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif