Benjamin Netanyahu digulingkan dari jabatan Perdana Menteri Israel. Foto: AFP
Benjamin Netanyahu digulingkan dari jabatan Perdana Menteri Israel. Foto: AFP

Elite Politik Israel Bersatu Melengserkan Netanyahu

Internasional Israel pemilu israel Benjamin Netanyahu Naftali Bennett
Wahyu Dwi Anggoro • 14 Juni 2021 08:28
Jakarta: Setelah memimpin selama kurang lebih 12 tahun berturut-turut, Benjamin Netanyahu harus melepaskan jabatan perdana menteri. Tadi malam, Naftali Bennett resmi dilantik sebagai orang nomor satu di Israel.
 
Elite politik Israel berhasil melakukan hal yang dianggap hampir mustahil oleh banyak pihak. Mereka mengesampingkan perbedaan ideologi demi melengserkan Netanyahu.
 
Koalisi yang mengusung Bennett terdiri dari partai-partai yang beraliran sentris, sayap kanan dan sayap kiri. Koalisi tersebut bahkan didukung oleh Partai Arab Bersatu  yang berideologi Islam konservatif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan kesepakatan, Bennett akan menjabat selama 2 tahun. Setelah Bennett, posisi perdana menteri akan jatuh ke tangan Yair Lapid.
 
Bennett memimpin Partai Yamina yang memiliki 7 anggota parlemen, sedangkan Lapid adalah pendiri Partai Yesh Atid yang menguasai 17 kursi Knesset. Lapid rela berbagi kekuasaan dengan Bennet walaupun ia memiliki lebih banyak kursi di parlemen. Lapid sadar dukungan Bennett dibutuhkan agar koalisi antiNetanyahu bisa terbentuk. 
 
Para anggota koalisi sepakat bahwa Israel butuh perubahan. Kondisi politik Israel tidak memiliki titik terang beberapa tahun ke belakang. Netanyahu berulang kali gagal membentuk pemerintahan yang permanen.
 
Selain itu, Netanyahu juga sedang disibukkan oleh pengadilan setelah didakwa tiga kasus korupsi awal tahun ini. Jika ia terus berkuasa, pemimpin Partai Likud tersebut bisa saja menggunakan pengaruhnya untuk menghindari jeratan hukum. 
 
Upaya pembentukan koalisi anti-Netanyahu di ambang kegagalan ketika terjadi eskalasi kekerasan antara Israel dan Palestina. Namun koalisi akhirnya disepakati di menit-menit terakhir menjelang tenggat waktu.
 
Partai Arab Bersatu memutuskan mendukung koalisi setelah sempat menunda negosiasi. Bennett pun memilih bergabung walaupun banyak ditekan kelompok-kelompok sayap kanan.
 
Meskipun demikian, koalisi ini dianggap rapuh oleh banyak pengamat. Bila ada satu saja anggota koalisi yang mundur, pemerintahan otomatis akan bubar.
 
Sosok Bennett juga dipertanyakan banyak pihak. Dia dianggap memiliki pemikiran yang lebih ekstrim dibandingkan dengan Netanyahu dan diketahui mendukung pembangunan pemukiman ilegal di wilayah Palestina.
 
Di sisi lain, Bennett membutuhkan dukungan Partai Arab Bersatu untuk tetap berkuasa sehingga ia diprediksi akan lebih lunak saat menjadi perdana menteri. Melihat komposisi koalisi yang sangat beragam, arah kepemimpinan Bennett sangat sulit untuk ditebak.
 
Berkaca dari Malaysia, aliansi antara Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim tidak bertahan lama sehabis memenangkan pemilu. Kedua musuh bebuyutan kembali berseberangan setelah menggulingkan Najib Razak dan Partai UMNO dari kekuasaan.
 
Lengsernya Netanyahu mungkin mengawali babak baru bagi Israel. Akan tetapi situasi politik bisa berubah menjadi rumit dengan cepat di Negeri Zionis tersebut.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif