Presiden Joko Widodo bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kiev, 29 Juni 2022. Foto: Kantor Presiden Ukraina
Presiden Joko Widodo bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Kiev, 29 Juni 2022. Foto: Kantor Presiden Ukraina

Lawatan Sukses Presiden Jokowi Atasi Krisis Pangan Dunia

Marcheilla Ariesta • 04 Juli 2022 12:12
Presiden Joko Widodo baru saja merampungkan kunjungan kenegaraan ke Ukraina dan Rusia. Ada yang menyebutnya nekat, ada pula yang mengatakan ia berani. Pasalnya kedua negara ini kita tahu sedang berperang hebat.
 
Ribuan tewas dan terluka, termasuk anak-anak. Tapi kehadiran Jokowi ke sana, membawa misi perdamaian. Tidak memihak, tidak pula menghakimi.
 
Jokowi meminta agar perang dihentikan, karena yang terkena imbasnya tak hanya kedua negara berseteru itu, tapi juga Indonesia dan negara berkembang serta penghasilan rendah lainnya. Bagaimana tidak? Harga pangan melonjak, begitu pula pupuk, menyebabkan kelaparan mengintai dunia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lawatan Jokowi ke kedua negara itu dinilai sukses. Terlebih ia menjadi pemimpin Asia pertama yang ke Ukraina dan Rusia di tengah perang. Membuatnya memimpin terobosan terbaru dalam kepemimpinan non-blok.
 
Perjalanan Jokowi dinilai sukses mendorong penyelesaian krisis pangan. Tercatat, Rusia-Ukraina adalah pemasok besar sejumlah bahan pangan, seperti gandum, jagung, dan beragak biji-bijian. Bahkan untuk urusan gandum, kedua negara memasok sepertiga pasokan global.
 
Perang memaksa ekspor biji-bijian dari Ukraina terhambat. Menyebabkan masyarakat Eropa khawatir karena menjadi salah satu komoditas utama mereka. Pasukan Rusia menguasai pelabuhan Ukraina, tempat mereka mengirimkan ekspor, yang membuat pengiriman terhambat.
 
Namun, bukan berarti Rusia dapat dengan leluasa mengirimkan gandum dengan leluasa. Komoditas biji-bijian dari Rusia juga bernasib sama. Peperangan memaksa negara Barat menerapkan sanksi bagi sektor perbankan sehingga Negari Beruang Merah itu tidak dapat mengekspor bahan pangannya.
 
Kelangkaan di pasar dunia memicu naiknya harga gandum di sejumlah negara yang menggantungkan pasokan dari Ukraina-Rusia, antara lain Somalia, Libya, Lebanon, Mesir, dan Sudan. Harga gandum di negara itu melonjak hingga 750 persen.
 
"Saya sangat menghargai Presiden (Vladimir) Putin yang menyampaikan bahwa memberikan jaminan keamanan pasokan pangan dan pupuk dari Ukraina maupun Rusia. Ini sebuah berita yang baik,” ujar Jokowi usai bertemu dengan Putin pekan lalu.
 
"Demi kemanusiaan, saya juga mendukung upaya PBB untuk reintegrasi komoditi pangan dan pupuk Rusia dan komoditi pangan Ukraina untuk masuk lagi dalam rantai pasok dunia. Khusus untuk jalur ekspor produk pangan Ukraina, terutama melalui jalur laut, tadi sekali lagi Presiden Putin sudah memberikan jaminannya," sambung dia.
 
Dalam pertemuan keduanya, Putin mengatakan, Rusia siap memenuhi sepenuhnya kebutuhan pupuk produsen pertanian dari negara sahabat.
 
"Kami berbicara tentang isu-isu yang menarik untuk sementara waktu untuk seluruh dunia, semua negara. Maksud saya pasokan bahan makanan, barang pertanian lainnya, termasuk pupuk mineral, ke pasar global," kata pemimpin Rusia itu.
 
"Kami siap untuk sepenuhnya memenuhi permintaan produsen pertanian dari Indonesia dan negara-negara sahabat lainnya untuk nitrogen, fosfat, pupuk kalium dan bahan baku untuk produksi mereka," tegas Putin.
 
Ia menjelaskan, sanksi yang diberikan kepada negaranya malah menyiksa hampir seluruh dunia.
 
Pengamat pertahanan dan militer Connie Rahakundini Bakrie bahkan menilai lawatan Jokowi ke Rusia berdampak signifikan. Hal itu terbukti dari harga komoditas yang mulai stabil.
 
Connie mencontohkan harga sejumlah komoditas, seperti jagung, mulai menurun. Kemudian, Presiden Rusia Vladimir Putin berkomitmen memasok pupuk ke berbagai negara.
 
Karenanya, misi perdamaian Jokowi di Rusia dan Ukraina dinilai sukses, dan diharapkan terus membawa dampak baik bagi komunitas global yang terancam kelaparan. Dunia hanya bisa berharap kedua negara berseteru dapat sadar dan menghentikan perang untuk mengembalikan stabilitas pangan dunia.

 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif