Ketua DPR AS Nancy Pelosi bertemu Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Foto: Taiwan Presidential Office
Ketua DPR AS Nancy Pelosi bertemu Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Foto: Taiwan Presidential Office

Pelosi Tantang Tiongkok

Wahyu Dwi Anggoro • 08 Agustus 2022 06:54
Taipei: Ketika konflik di Ukraina masih membara, Ketua Parlemen Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi memicu krisis baru di Selat Taiwan. Kunjungannya ke Taiwan membuat Tiongkok murka. Kondisi ini menambah ketidakstabilan di dunia yang masih belum sepenuhnya bebas dari pandemi covid-19.
 
Pekan lalu, Pelosi menyambangi Taiwan di sela-sela turnya ke kawasan Asia. Kunjungan ini merupakan yang pertama dilakukan oleh pejabat tinggi AS dalam 25 tahun ke belakang. Pada 1997, Ketua Parlemen AS saat itu, Newt Gingrich, juga melakukan aksi serupa.
 
Namun, Tiongkok pada tahun 1997 berbeda jauh dengan Tiongkok sekarang. Kini, Tiongkok merupakan raksasa ekonomi di dunia dan raksasa militer di kawasan. Negeri Tirai Bambu saat ini memiliki lebih banyak sumber daya untuk merespons aksi Pelosi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Banyak pihak bingung dengan tujuan dari tindakan Pelosi. Situasi di Selat Taiwan bisa dibilang relatif tenang sebelum kunjungan Pelosi. Media Barat bahkan melaporkan bahwa Presiden AS Joe Biden sebenarnya tidak setuju dengan rencana Pelosi.
 
Negeri Paman Sam selama ini menjalankan "Kebijakan Satu China". Seperti mayoritas negara di dunia, AS tidak mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat. Meskipun demikian, Pemerintah AS menekankan upaya unifikasi harus dilakukan dengan cara damai.
 
Dalam tulisannya yang diterbitkan surat kabar the Washington Post, Pelosi membela manuvernya terkait Taiwan. Ia mengatakan lawatannya bertujuan untuk mendukung demokrasi di Taiwan. Dia mengeklaim Tiongkok terus mengancam Taiwan dan berniat mengubah status quo.
 
"Amerika Serikat terus menentang upaya sepihak untuk mengubah status quo," kata Pelosi dalam tulisannya.
 
"Dengan melakukan perjalanan ke Taiwan, kami menjunjung komitmen kami terhadap demokrasi," tukasnya.
 
Tidak lama setelah Pelosi menginjakkan kaki di Taiwan, Tiongkok mengumumkan berbagai aksi balasan. Pemerintah Tiongkok menyetop kerja sama dengan AS dan menjatuhkan sanksi untuk Pelosi. Mereka juga mengeluarkan sanksi dan aksi balasan terhadap Taiwan.
 
Yang paling mengkhawatirkan, Tiongkok melakukan latihan militer besar-besaran di sekeliling wilayah Taiwan. Latihan militer ini jauh lebih besar dibandingkan dengan latihan-latihan sebelumnya. Misil Tiongkok bahkan memasuki zona ekonomi ekslusif milik Jepang.
 
Pengamat Tiongkok dari Universitas Oxford, Todd Hall mengatakan, kunjungan Pelosi justru bisa mengubah status quo di Selat Taiwan. Kunjungan Pelosi mendorong Tiongkok melakukan latihan militer yang lebih masif di dekat Taiwan. Di masa depan, dia menduga militer Tiongkok mungkin saja akan semakin sering memasuki wilayah Taiwan.
 
Waktu akan menunjukkan dampak kunjungan Pelosi ke Taiwan terhadap stabilitas keamanan di kawasan. Pelosi menyatakan kunjungannya bermaksud untuk mempertahankan status quo. Tetapi, hasilnya bisa jadi justru sebaliknya.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif