Perdana Menteri Inggris Theresa May harus cepat bergerak mengatasi penolakan parlemen atas kesepakatan Brexit. (Foto: AFP).
Perdana Menteri Inggris Theresa May harus cepat bergerak mengatasi penolakan parlemen atas kesepakatan Brexit. (Foto: AFP).

Inggris Membutuhkan Keajaiban dalam Brexit

Internasional uni eropa brexit
Arpan Rahman • 18 Januari 2019 10:28
London: Pekan ini, ketika rakyat Inggris yang cemas bersiap menyaksikan rencana Brexit dari Perdana Menteri Theresa May akan tidak mampu dielakkan lagi, Nicholas Soames, cucu Winston Churchill, mencuitkan salah satu peringatan serius kakeknya pada tahun 1930-an.
 
Soames, seorang politisi Konservatif, mengulangi bait-bait dari sebuah puisi, karya Edwin J. Milliken, yang dikutip oleh kakeknya buat menyatakan keputusasaannya karena lumpuhnya politik Inggris dalam menghadapi ancaman Nazi:
 
"Siapa yang bertanggung jawab atas laju kereta? Poros roda berderit, dan kopeling ditekan. Ketika kecepatannya memburu dan batasnya sudah dekat, dan Kantuk telah menulikan telinga pengemudi, dan sinyal menyala sepanjang malam dengan sia-sia. Siapa yang bertanggung jawab atas derap kereta?"

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak ada yang tahu. Di kala kabinet PM May, negara, partai-partai politik, dan Parlemen terpecah-belah putus asa tentang bagaimana atau apakah akan melakukan Brexit, blantika politik Inggris meledak dan demikian juga norma-normanya secara politikal.
 
Di saat berbeda, seorang perdana menteri yang kehilangan kebijakan andalan pemerintahnya diperkirakan akan mengundurkan diri. Pada Selasa malam, rencana Brexit May digagalkan di Parlemen dengan pemungutan suara 432 berbanding 202. Segera setelah itu, Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh oposisi, menyerukan pemungutan suara atas mosi tidak percaya. Itu hampir pasti akan dipecundangi pada Rabu. Tidak ada yang menghendaki May mundur, pekan ini.
 
Sebelum pemungutan suara, dia katakan kepada kabinetnya bahwa tidak peduli berapa banyak dia kehilangan suara, dia berniat untuk tetap kukuh dan mengarahkan bentuk utuh sebuah Brexit. Dia berharap bisa tetap memegang kemudi, meskipun sebagian besar penumpangnya memberontak terhadap tujuannya. Tetapi kini sesudah pemungutan suara selesai, semua plot untuk membela dan melawannya, dan untuk mempertahankan dan meninggalkan setiap kemungkinan permutasi Brexit, akan dilepaskan.
 
Setiap faksi di masing-masing dari dua partai utama akan berjuang dan merencanakan hasil yang lebih disukai, mulai dari "Brexit tanpa kesepakatan" hingga keberangkatan lebih nyaman yang membuat Inggris justru makin dekat ke Uni Eropa demi menepis ide meninggalkannya sama sekali. Memprediksi siapa yang akan menang adalah hal yang mustahil karena tidak satu pun dari faksi ini yang memiliki mayoritas dan tidak ada yang tahu bagaimana atau apakah mereka akan membentuk aliansi.
 
Para politisi dan jurnalis dengan panik mencoba permainan beberapa pekan ke depan. Setiap hasilnya mustahil dan tampaknya sangat tidak masuk akal, namun semuanya -- dari pemilihan yang tidak pasti hingga pemerintahan persatuan nasional -- sedang diusulkan.
 
Baru-baru ini penulis bertanya kepada tiga politisi senior Konservatif di jantung intrik ini yang akan dihadapi Inggris di masa depan dalam 10 pekan, ketika jam Brexit habis. "Hanya Tuhan yang tahu," kata seorang menteri kabinet, seorang Brexiteer (pendukung Brexit) yang tajam. "Tidak ada yang tahu," kata yang kedua, pendukung Brexit yang malas-malasan. "Belum ada satu pun petunjuk," kata salah satu juru kampanye utama untuk referendum kedua.
 
Semua orang dengan mengerikan -- atau dengan gembira -- menyadari bahwa jika dalam beberapa pekan ke depan Parlemen tidak dapat menyetujui kesepakatan May, atau pada kesepakatan lain, atau tentang melontarkan masalah mendukung negara tersebut dalam sebuah referendum, maka Inggris akan keluar dari Uni Eropa pada akhir Maret, menghancurkan ekonomi, dan hubungannya dengan mitra dagang terdekatnya.
 
Sementara Partai Konservatif yang berkuasa begitu terbelah, Partai Buruh Corbyn berada dalam posisi yang berpotensi kuat. Jika ia memberi suaranya di belakang para politisi Tory yang mendukung perjanjian May, atau mendukung referendum kedua, atau memutuskan untuk mendukung Brexit yang lebih lunak yang mempertahankan hubungan yang lebih dekat dengan Eropa -- mengacu istilah "Norwegia Plus," seperti yang diketahui -- proposal itu kemungkinan besar akan lolos. Namun sejauh ini, partai tersebut telah menolak berkomitmen pada solusi semacam itu karena partai itu juga terpecah antara mereka yang ingin meninggalkan Uni Eropa dan mereka yang ingin tetap tinggal di dalamnya.
 
Sejauh ini sudah cocok bagi Corbyn, seorang Euroskeptik kawakan, untuk tetap bersikukuh, dengan lantang menentang semua proposal Tory dan menyatakan bahwa jika hanya Buruh yang berkuasa, secara ajaib dapat mencapai kesepakatan Brexit yang lebih baik. Dia enggan untuk mendukung apa pun yang diusulkan Tory karena dia menghitung bahwa melakukan hal itu, maka akibat Brexit akan berbalik padanya dalam kerusakan ekonomi yang tak terhindarkan. Dia tidak menginginkan referendum kedua lantaran dia tidak tahu harus menyokong pihak mana.
 
Pengelakan yang nyaman ini tidak dapat dipertahankan setelah May mengalami kekalahan pada Selasa. Partai Buruh harus memihak dan mematuhi konsekuensinya. Anggota Parlemen dan para pemimpin di semua partai akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang paling jelas: masa depan Inggris akan diputuskan dalam bulan depan.
 
Tidak ada partai yang memiliki cukup suara untuk membuat pilihan itu sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kepemimpinan di kedua belah pihak memiliki kemauan, imajinasi atau karakter demi merangkul yang lain dan menghindari bencana tanpa kesepakatan. Tidak ada dalam karir mereka yang menyarankan demikian.
 
Setelah kekalahannya, May mengumumkan bahwa dia ingin berbicara dengan pihak oposisi guna menemukan kompromi apa yang disiapkan anggota Parlemen untuk didukung. Corbyn yang marah menjawab bahwa selama dua tahun sebelumnya dia telah menutup setiap upaya dialog, dan satu-satunya prioritasnya adalah Partai Konservatif.
 
Sangat disayangkan Inggris bahwa pada saat ini, ketika kerja sama dan kenegarawanan diperlukan demi mencegah bencana politik dan ekonomi, baik perdana menteri maupun pemimpin oposisi dikenal karena sikap mereka yang berhati-hati, keras kepala, tidak imajinatif, berkarakter kesukuan, dan tanpa pesona.
 
Itulah sebabnya saran yang lebih liar sekarang adalah bahwa pemberontak Partai Buruh dan Tory yang moderat dapat melangkah maju dan menyatakan diri mereka suatu kelompok parlementer baru, yang siap memimpin negara itu dalam pemerintahan persatuan nasional yang jauh dari tepi jurang. Rasanya tidak masuk akal -- tetapi begitu juga hampir semua hal lain.
 
Bisakah May dan Corbyn menunda permusuhan naluriah mereka? Bisakah armada di belakang sang pria gagah dan si wanita pemberani di Parlemen itu melangkah maju atau tidak? Inggris sangat membutuhkan pengemudi yang dapat menguasai kereta yang melaju.
 
(Opini ini dikutip Medcom.id dari New York Times, Rabu 16 Januari 2019; ditulis oleh Jenni Russell (@jennirsl), kolumnis untuk The Times of London dan kontributor opini di New York Times.)
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif