Menlu Retno Marsudi hadir dalam pertemuan retreat Menlu ASEAN di Kamboja. Foto: AFP
Menlu Retno Marsudi hadir dalam pertemuan retreat Menlu ASEAN di Kamboja. Foto: AFP

ASEAN Jangan Mau Tersandera Myanmar dan Rivalitas!

Marcheilla Ariesta • 16 Januari 2023 12:28
Jakarta: Per 1 Januari 2023, Indonesia memegang keketuaan ASEAN. Banyak harapan muncul untuk keketuaan Indonesia, termasuk mengembalikan demokrasi di Myanmar. Namun, situasi Myanmar bukan satu-satunya masalah yang harus diselesaikan ASEAN.
 
Laut China Selatan, pemulihan ekonomi kawasan, pengaruh di Indo-Pasifik menjadi satu dari sekian banyak masalah yang harus dihadapi ASEAN. Kawasan yang kaya dengan sumber daya ini menjadi rebutan pengaruh kekuasaan negara adidaya.
 
Dalam pidato tahunannya, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyoroti kekecewaan ASEAN terhadap Myanmar. Dia mengatakan, junta militer Myanmar tidak membuat kemajuan signifikan dalam implementasi 5-Point Consensus (5PC) atau lima poin konsensus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Padahal, hingga saat ini Indonesia aktif berkontribusi dalam mengupayakan konsensus untuk Myanmar. Hal ini terbukti dari upaya Indonesia yang terus mendorong implementasi 5PC antara lain melalui inisiasi Pertemuan Menteri Luar Negeri di Jakarta dan Phnom Penh serta Pertemuan pada tingkat Leaders di Phnom Penh. 
 
"ASEAN kecewa terlepas semua upaya Ketua dan semua anggota ASEAN, implementasi 5PC oleh junta militer Myanmar tidak mengalami kemajuan signifikan," ujar Menlu Retno dalam pidatonya di PPTM 2023. 
 
Retno juga mengatakan, posisi Indonesia bahwa ASEAN tidak boleh lemah di hadapan Myanmar. Ia menegaskan ASEAN tidak boleh didikte Myanmar. Menurutnya, lima poin konsensus merupakan satu-satunya pendekatan ASEAN dalam menyelesaikan persoalan di Myanmar.
 
Retno Marsudi mengatakan lima poin konsensus ini merupakan satu-satunya pendekatan ASEAN dalam menyelesaikan persoalan di Myanmar. Retno menegaskan kembali jika ASEAN tidak boleh didikte oleh junta militer di Myanmar.
 
Ia bersama mitranya dari Malaysia, Menlu Zambry Abdul Kadir sepakat bahwa ASEAN tidak boleh didikte oleh junta militer Myanmar. Keduanya menegaskan, lima poin konsensus ASEAN itu sedianya dilaksanakan secara keseluruhan.
 
"Kerja-kerja ASEAN tidak boleh ditentukan oleh junta tentara Myanmar. Dalam hal ini Malayasia dan Indonesia akan memastikan keadaan di Myanmar tidak akan mengganggu community di ASEAN," kata Zambry.
 
Sementara itu, pada keketuaan Indonesia ini, Retno akan menjadi utusan khusus ASEAN untuk Myanmar tahun ini. Hal ini sudah menjadi preseden, di mana menlu negara ketua ASEAN akan jadi utusan khusus.
 
"Yang pasti, setelah penetapan special envoy, menteri luar negeri sudah menjadi preseden sebagai utusan khusus (sejak kudeta Myanmar terjadi)," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah kepada awak media.
 
"Tadi, Ibu Menlu sudah menyebutkan akan bertindak sebagai special envoy, dibantu oleh satu tim sekretariat yang didedikasikan untuk membantu masalah Myanmar," lanjut Faizasyah.
 
Ia menjelaskan, Indonesia sebagai ketua akan memiliki sekretariat keketuaan ASEAN. Fungsinya untuk fokus pada isu-isu prioritas keketuaan Indonesia di ASEAN, seperti pertumbuhan ekonomi, perdamaian dan kestabilan di kawasan.
 
Selain masalah Myanmar, ASEAN harus bersatu dalam menghadapi 'pemecahan' yang dilakukan Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).  Indonesia ingin menjadikan ASEAN tangguh dan menjadi barometer kerja sama yang dapat berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan kawasan dan dunia.
 
Di Keketuaan ASEAN 2023 ini, Indonesia mengambil tema 'ASEAN Matters: Epicentrum of Growth'. "Dengan ASEAN Matters, Indonesia bertekad menjadikan ASEAN tetap penting dan relevan bagi rakyat ASEAN and beyond," ucapnya.
 
Retno mengatakan, dalam kaitan ini, maka masa depan ASEAN mulai harus disiapkan untuk menyongsong ASEAN 2045. "Sentralitas ASEAN harus diperkuat agar mampu menjaga perdamaian, stabilitas, kemakmuran di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik," ujar Retno.
 
Ia menambahkan, melalui sub-tema Epicentrum of Growth, Indonesia bertekad untuk terus menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Terlebih, saat ini berada dalam ancaman resesi, ekonomi Asia Tenggara diperkirakan masih lebih baik dari rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. 
 
Retno mengatakan, di keketuaan ASEAN, kawasan Indo-Pasifik yang damai dan stabil, penghormatan terhadap hukum internasional, dan kerja sama yang inklusif merupakan kunci bagi ASEAN untuk menjadi Epicentrum of Growth. "Untuk itu, implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) akan menjadi ruh besar pelaksanaan prioritas Keketuaan Indonesia," ucapnya.
 
Saat ini, banyak negara memiliki konsep Indo-Pasifik. "Disinilah diperlukan sebuah sinergi, sehingga berbagai konsep tersebut tidak akan semakin memperuncing rivalitas," kata dia.
 
Ia menuturkan, paradigma kolaborasi akan menjadi pendekatan Indonesia di IndoPasifik. Indonesia akan terus menekankan bahwa Indo-Pasifik harus didekati tidak saja dari aspek keamanan, namun juga aspek dari pembangunan ekonomi secara inklusif. 
 
Keketuaan Indonesia di ASEAN memang tidak seheboh G20. Namun, tantangan yang dihadapi dalam keketuaan ini bukanlah perkara mudah. Masih banyak potensi di ASEAN yang belum tergali dan masalah yang belum terurai.
 
Harapan demi harapan membangun ASEAN yang lebih baik ditumpuk ke Indonesia dalam keketuaannya. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia layaknya menjadi panutan bagi anggota lainnya.
 
Jadi, apakah ASEAN masih relevan? Kita lihat saja gebrakan RI dalam keketuaannya tahun ini.
 

 

 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif