Jurnalis The Daily Beast Anna Nemtsova dalam editorialnya pada Sabtu 13 Februari menyoroti pentingnya arti pertemuan ini.
Ini adalah pertemuan perdana setelah hampir 1.000 tahun setelah wilayah Timur dan Barat umat Katolik pecah. Pertemuan di terminal bandara di Kuba adalah yang pertama yang pernah ada antara Paus dan pemimpin Ortodoks.
Pertemuan ini dianggap penting sebagai hal gerejawi dan adanya dorongan untuk politik saat konfrontasi berbahaya dan diplomasi antara Rusia dan Barat.
Bahkan, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta patriark Rusia untuk memainkan peran diplomatik, untuk membantu meyakinkan Paus Fransiskus berkontribusi dalam mengakhiri permusuhan antara Amerika Serikat (AS) dan Kuba. Dan ia harus membantu kelancaran jalan untuk pemahaman yang lebih baik antara AS dan Rusia.
Agenda resmi pertemuan antara dua pemimpin agama ini difokuskan pada upaya mengakhiri pembunuhan massal dan penganiyaan umat Nasrani di Timur Tengah. Di Irak saja populasi umat Nasrani telah menyusut dari satu juta menjadi 270 ribu dalam 12 tahun terakhir.
Hal tersebut menjadi keprihatinan besar bagi gereja-gereja Katolik, Kristen dan Ortodoks.
Seorang pejabat Rusia mengatakan pesan yang dibawa Ortodoks Rusia adalah kebaikan hati, peduli dengan umat Kristiani di mana-mana dan Barat harus berhati-hati untuk tidak memprovokasi perang.
"Patriark mengeluhkan tentang politisi AS yang tidak bertanggung jawab," ungkap pejabat tersebut, seperti dikutip Daily Beast, Sabtu (13/2/2016).
Juru Bicara Patriark pun membantah laporan adanya tujuan politik dan Patriark Kirill tampak tidak terlalu senang dengan adanya pertemuan tersebut.
Namun, di sisi lain, presiden dari Pusat Teknologi Politik Igor Bunin melihat bahwa Kirill tidak ingin melihat Paus. Kirill tidak ingin membuat kalangan nasionalis Rusia marah.
"Tapi Putin meyakinkan patriark untuk pergi, karena Kremlin membutuhkan Vatikan," ucapnya.
Patriark Kirill sendiri memiliki banyak masalah untuk diletakkan di atas meja pada pertemuan dengan Paus, yaitu pembantaian umat Nasrani di Suriah, konflik Kremlin dengan Ukraina dan Turki, perpecahan gereja Ortodoks di Ukraina dan perdamaian ketegangan dengan Barat.
"Patriark Rusia tidak berniat untuk membuat kompromi dengan gereja Katolik," kata Bunin.
Secara global, Kirill memimpin sebuah gereja yang kuat dan berpengaruh dari 165 juta orang kaum Ortodoks di seluruh dunia. Meskipun jumlah tersebut tidak bisa disandingkan dengan Paus Fransiskus yang memimpin sekitar 1,2 miliar umat Katolik di seluruh dunia yang berpusat pada Gereja Katolik Roma di Vatikan.
Kremlin melihat Vatikan sebagai multi dimensi yang besar dalam beberapa hal, dan itu menjadi alasan mengapa Putin telah dua kali bertemu dengan Paus Fransiskus dalam beberapa tahun terakhir untuk membahas pentingnya mengubah iklim politik.
Rusia sangat mengandalkan Kirill untuk membawa diplomasi, di mana Rusia menganggap AS adalah kekaisaran jahat dan sebaliknya, AS menganggap Rusia sebagai pusat kejahatan.
Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev, dalam perjalanan menuju perundingan perdamaian Suriah di Munich, Jerman, pekan ini mengatakan bahwa jejak asing dalam konflik Suriah bisa menjadi perang permanen.
Berbicara dengan Putin pada Juni lalu, Paus menyatakan harapannya bahwa Rusia dan Ukraina akan menghentikan pertempuran dan berkomitmen untuk menerapkan penjanjian Minsk untuk kesepakatan perdamaian. Bulan demi bulan berlalu, ricuh di timur Ukraina belum berakhir.
Dalam hal persaingan antar gereja pertemuan tersebut adalah simbolik. Masalah substantif tidak akan hilang dari dua agama ini. Ini bukanlah hal baru. Seperti saat Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Kiev, Ukraina pada 2001, pengikut patriark Rusia mengadakan doa sepanjang malam untuk memastikan bahwa Paus menjauh dari tempat suci mereka.
Saat ini, umat Ortodoks di Kiev merasa takut jika gereja Katolik dan Ortodoks disatukan berdasarkan pertemuan pemimpin mereka dan Paus.
Jadi apa yang Rusia harapkan dari pertemuan di bandara Kuba tersebut? Paus Fransiskus tidak akan begitu naif. Pertemuan ini hanya untuk membuka pintu dialog.
Tidak ada pembicaraan tentang membawa gereja-gereja untuk lebih dekat bersama-sama. Rusia hanya ingin mendiskusikan masalah dengan kekuatan Vatikan yang besar dan memiliki begitu banyak dimensi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News