Warga di Shanghai, Tiongkok lakukan tes covid-19. Foto: AFP
Warga di Shanghai, Tiongkok lakukan tes covid-19. Foto: AFP

Amukan Covid-19 di Shanghai, Strategi "nol-Covid" Hadapi Tantangan

Internasional Virus Korona Tiongkok covid-19
Harianty • 25 April 2022 06:28
Sejak awal Maret lalu, kota-kota Tiongkok termasuk Shanghai dan Shenzhen telah menerapkan lockdown seiring dengan terjadinya lonjakan kasus demi mencapai target ‘nol-Covid’. Namun, muncul pertanyaan apakah kebijakan ini merupakan cara yang tepat untuk menahan kasus covid-19.
 
Selama pandemi, "nol-Covid", "tes massal" dan "lockdown" telah menjadi istilah baru yang akrab di telinga masyarakat Tiongkok. Untuk mencapai target tersebut, penduduk di kota yang mengalami lonjakan kasus covid-19 diwajibkan berdiam di rumah hingga 3 minggu.
 
Sejak akhir Maret,kasus covid-19 di Shanghai mulai mengalami kenaikan, bahkan sekarang telah mencakup 95 persen dari total kasus di Tiongkok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemerintah kota Shanghai menyampaikan 11 orang yang terjangkit covid-19 dilaporkan meninggal pada Kamis, 21 April 2022. Kasus kematian covid-19 terus bertambah setiap harinya, pada Sabtu, 23 April 2022, tercatat 39 orang meninggal.
 
Kota pusat keuangan yang sekarang masih berada dibawah penguncian total itu melaporkan 1.401 kasus lokal baru dan 19.657 kasus baru tanpa gejala untuk 23 April.
 
Shanghai telah membangun lebih banyak rumah sakit darurat, dan telah membawa ribuan petugas kesehatan dan pasukan dari provinsi lain untuk merawat pasien yang dikarantina di rumah sakit darurat.
 
Shanghai yang telah berjuang keras menerapkan kebijakan "nol-Covid" belum menunjukkan tanda kapan kasus covid-19 telah menurun. Menimbulkan pertanyaan bahwa apakah kebijakan ini merupakan cara yang tepat untuk mengakhiri pandemi di negeri tirai bambu.
 
Lockdown yang terlalu lama di Shanghai telah membuat warga kelaparan karena tidak adanya stok makanan serta minuman.
 
Pihak berwenang mengakui bahwa fenomena kekurangan pangan di Shanghai ini, sebagian besar merupakan karena kurangnya perencanaan dan koordinasi.
 
TIdak hanya itu,  penduduk Shanghai juga mengungkapkan frustasinya atas kehilangan penghasilan akibat lockdown dan berpisah dengan anggota keluarganya. Pembatasan covid-19 juga telah mengganggu rantai pasukan global.
 
Strategi  ‘nol-Covid’  ini tampoknya tidak hanya memberi tantangan dalam memutus mata rantai penularan virus, namun juga mempengaruhi ekonomi kota yang mengalami lonjakan kasus, serta berpotensi melemahkan pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini.
 
Namun tentunya, pemerintah Tiongkok sendiri tetap kukuh pada pendiriannya dalam menerapkan strategi ini, karena mereka yakin pada perjuangaannya dalam menahan wabah, dan tidak akan membiarkan pengendalian pandeminya yang dilakukan selama ini menjadi sia-sia.
 
DIkutip dari laman media Tiongkok Sina, Wu Zunyou, kepala ahli epidemiologi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, memposting di sosial medianya, mengungkapkan pandangannya tentang target "nol-Covid" dan kesalahpahaman terkait.
 
Wu mengatakan bahwa dengan perubahan situasi epidemi global, terutama penyebaran cepat varian Omicron, banyak penyebaran tersembunyi, dan pencegahan dan pengendalian yang sulit, dan efek pencegahan dan pengendalian di negara lain tidak memuaskan, banyak negara dengan enggan memilih untuk "berbaring".
 
"Baru-baru ini, negara saya juga mengalami situasi epidemi yang kompleks yang memiliki banyak segi dan cakupan yang luas. Beberapa orang di Tiongkok tidak percaya diri untuk terus bersikeras pada 'nol-Covid', dan beberapa bahkan membingungkan "nol-Covid" dengan "nol infeksi", percaya bahwa 'nol-Covid' tidak mungkin dicapai mengingat situasi epidemi baru saat ini," ungkap Wu.
 
Wu menegaskan, "jiwa dari nol-Covid" adalah untuk mengetahui lebih awal, mengendalikannya lebih awal, dan menghilangkan setiap epidemi sejak awal. Jangan biarkan epidemi mengakar secara lokal. Meminimalkan ancaman epidemi terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat, serta dampaknya terhadap stabilitas sosial dan pembangunan ekonomi.

 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif