Presiden Joko Widodo undang Presiden Ukraina dan Presiden Rusia untuk hadiri KTT G20. Foto: Biro Pers Setpres
Presiden Joko Widodo undang Presiden Ukraina dan Presiden Rusia untuk hadiri KTT G20. Foto: Biro Pers Setpres

Jokowi Undang Zelensky, Mampukah 'Selamatkan' KTT G20 Tahun Ini?

Internasional Jokowi Vladimir Putin presiden joko widodo Volodymyr Zelensky G20 Presidensi G20 Perang Rusia-Ukraina
Willy Haryono • 02 Mei 2022 10:06
Jakarta: Ujian dilematis Indonesia sebagai negara pemegang Presidensi G20 di tengah invasi Rusia ke Ukraina memasuki babak baru. Presiden Joko Widodo telah memutuskan mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, yang disampaikan melalui sambungan telepon pada Rabu, 27 April 2022. Satu hari setelahnya, juga melalui sambungan telepon, Presiden Jokowi memastikan tetap mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin.
 
Dua langkah diplomatik ini merupakan upaya kompromi Indonesia dalam menghadapi tekanan dunia Barat, terutama Amerika Serikat (AS), yang mengancam akan memboikot KTT G20 jika Putin tetap datang ke Bali pada November 2022. Indonesia menolak mengesampingkan Putin karena Moskow adalah anggota G20, dan undangan resmi untuk menghadiri KTT sudah dilayangkan sebelum Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari lalu.
 
AS menyadari bahwa undangan Indonesia memang disampaikan sebelum invasi, dan Presiden Joe Biden pernah mengatakan, jika memang Rusia pada akhirnya tetap hadir di KTT G20, maka Ukraina pun sudah seharusnya diundang dalam kapasitas sebagai negara tamu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Undangan Jokowi ke Zelensky bukan berarti Indonesia tunduk di bawah tekanan Barat, melainkan sebuah upaya mencari kompromi di situasi serba sulit seperti saat ini. Ancaman boikot negara-negara besar bukan perkara yang bisa diabaikan begitu saja, karena pertaruhan KTT G20 tahun ini begitu besar di saat komunitas global berusaha memulihkan perekonomian mereka dari dampak pandemi covid-19. Perang di Ukraina yang juga berdampak hebat terhadap perekonomian global, secara otomatis membuatnya ikut masuk ke ranah G20.
 
Mengenai upaya kompromi Indonesia, Pemerintah AS sepertinya belum puas. Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengapresiasi undangan Jokowi kepada Zelensky, namun menentang konfirmasi kehadiran Putin. Seperti sebelumnya, AS tetap mengancam akan melakukan boikot, setidaknya dalam beberapa sesi KTT G20 yang melibatkan kehadiran Rusia.
 
Menteri Keuangan AS Janet Yellen menegaskan bahwa Negeri Paman Sam tidak bisa bersikap business as usual dengan Rusia, seolah-olah invasi di Ukraina tak pernah terjadi. Perdana Menteri Australia Scott Morrison juga mengatakan bahwa kedatangan Putin ke KTT G20 tahun ini akan menjadi "sebuah langkah yang terlalu jauh (melampaui batas)." Sementara Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengaku telah menyampaikan langsung kepada Presiden Jokowi, bahwa dirinya tidak ingin Putin hadir di KTT G20. Menurut Trudeau, kehadiran Putin akan sulit diterima sejumlah negara, yang dikhawatirkan dapat membuat KTT G20 tahun ini tidak produktif.
 
Penentangan terbuka tokoh-tokoh besar ini kemungkinan bukan sekadar gertakan, dan boikot sangat mungkin terjadi. Di waktu bersamaan, undangan Jokowi kepada Zelensky bukan merupakan jaminan bahwa negara-negara tersebut akan hadir, karena apa yang mereka minta sejak awal adalah absennya Putin, bukan kehadiran Zelensky.
 
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan Indonesia? Satu hal yang pasti adalah memastikan boikot tidak terjadi, atau setidaknya menekan peluang ke arah sana. Indonesia perlu meningkatkan upaya diplomasi, baik secara terbuka maupun senyap, untuk memastikan negara-negara besar yang sebelumnya mengancam melakukan boikot, mengurungkan niat mereka. Indonesia perlu menekankan bahwa KTT G20 adalah momen krusial bagi dunia untuk kembali ke bangkit, dan terus menyuarakan bahwa kerja sama ekonomi dalam kerangka bilateral maupun multilateral merupakan agenda utama. Indonesia perlu 'menyelamatkan' KTT G20 tahun ini, pertaruhannya terlalu besar.
 
Kembali ke Zelensky dan Putin, hingga saat ini belum ada kepastian apakah mereka akan hadir secara fisik atau melalui sambungan video. Sejak awal invasi, kedua pemimpin itu lebih sering hadir secara daring dalam berbagai kesempatan, karena meninggalkan negara di saat peperangan mungkin dirasa sebagai langkah yang tidak tepat.
 
Namun jika dilihat dari penyelenggaraan KTT G20 yang lebih kurang masih enam bulan lagi, bukan tidak mungkin Zelensky atau Putin memutuskan hadir secara fisik di Bali, apalagi jika intensitas pertempuran antar kedua negara relatif menurun.
 
Kehadiran fisik Zelensky dan Putin di KTT G20 bisa menjadi kesempatan berharga dalam upaya mengakhiri konflik, terlebih bila keduanya bersedia duduk satu meja dan berdialog secara langsung, atau dengan didampingi Turki yang selama ini berusaha memainkan peran mediator.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif