Kapal selam nuklir jadi hasil kesepakatan AUKUS yang menguntungkan Australia. Foto: AFP
Kapal selam nuklir jadi hasil kesepakatan AUKUS yang menguntungkan Australia. Foto: AFP

Heboh Aliansi AUKUS, Apakah Indonesia Patut Waspada?

Internasional Amerika Serikat Kapal Selam Inggris Australia Tiongkok AUKUS
Willy Haryono • 20 September 2021 09:14
Jakarta: Banyak negara terkejut saat Amerika Serikat (AS) mengumumkan pembentukan aliansi baru dengan Australia dan Inggris pada Rabu, 15 September 2021. Bukan hanya terkejut, beberapa negara bahkan marah besar.
 
Bagaimana tidak, pemberitahuan pembentukan pakta pertahanan trilateral bernama AUKUS itu baru disampaikan beberapa jam sebelum pengumuman resmi. Padahal, AUKUS adalah sebuah pakta serius yang berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap geopolitik global, terutama di kawasan Indo-Pasifik.
 
Lantas, apa sebenarnya AUKUS itu? AUKUS adalah pakta pertahanan yang fokus pada kapabilitas militer AS, Australia, dan Inggris. Pakta ini meliputi elemen perang siber, kepintaran buatan (AI), kemampuan bawah laut, dan juga teknologi nuklir. Hal seputar nuklir inilah yang menjadi masalah. AUKUS dipandang sebagai sebuah pakta yang tidak sejalan dengan komitmen non-proliferasi nuklir, atau janji untuk tidak membuat atau menyebarkan senjata nuklir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Australia menjadi sorotan, karena melalui AUKUS ini, Negeri Kanguru akan mendapat bantuan dari AS dan Inggris untuk mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir. Komunitas internasional sudah dapat menebak bahwa AUKUS pastilah merupakan upaya Barat dalam menghadapi pengaruh Tiongkok di kawasan, walau ketiga negara sama sekali tidak menyebutkan nama spesifik dalam pengumuman mereka. Kepada parlemen Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson menegaskan bahwa AUKUS tidak ditujukan untuk menghadapi Negeri Tirai Bambu.
 
Tiongkok marah. Beijing menyebut pembentukan AUKUS merupakan tindakan tak bertanggung jawab yang dapat mengancam stabilitas regional. Adanya poin kesepakatan mengenai kapal selam nuklir dipandang sebagai pelanggaran komitmen Australia terhadap non-proliferasi nuklir. Kemarahan Tiongkok beralasan, walau sebenarnya kapal selam yang akan didapat Negeri Kanguru hanya bertenaga nuklir, bukan bersenjata nuklir. Presiden AS Joe Biden telah menegaskan hal itu dalam pengumumannya.
 
Kemarahan yang lebih meluap-luap datang dari Prancis. Bukan mengenai stabilitas kawasan atau teknologi nuklir, melainkan atas kontrak pembelian kapal selam yang telah disepakati mereka dengan Australia. Kontrak tersebut dibatalkan sepihak, dan Prancis mengaku baru menerima informasi seputar AUKUS beberapa jam sebelum pengumuman. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengaku sangat kecewa atas tindakan ketiga negara mitra, yang disebutnya sebagai sebuah pengkhianatan besar. Ia mengumumkan bahwa Prancis telah menarik duta besarnya dari AS dan Australia. Dubes Prancis di Inggris tidak ditarik karena Paris menganggap London hanya "ikut-ikutan" dan bukan pemain utama.
 
Sebagai negara tetangga Australia, Indonesia telah menerima pemberitahuan seputar AUKUS, walau kemungkinan -- sama seperti Prancis -- juga disampaikan beberapa jam sebelum pengumuman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan kepada Medcom.id bahwa Indonesia telah mengungkapkan keprihatinan atas berlanjutnya 'perlombaan senjata' dan 'proyeksi kekuatan' terkait AUKUS ini. Indonesia meminta Australia untuk tetap memegang komitmennya memenuhi semua kewajiban non-proliferasi nuklir, dan juga terus mendorong perdamaian, stabilitas dan keamanan regional sesuai dengan Traktat Persahabatan dan Kerja Sama.
 
Perlombaan senjata yang dimaksud adalah, dengan kemunculan kapal selam bertenaga nuklir Australia suatu saat nanti, negara-negara rival juga akan menghadirkan atau menambah armada serupa atau yang lebih canggih lagi.
 
Sejumlah pihak khawatir AUKUS nantinya tidak hanya akan menghadirkan kapal selam bertenaga nuklir, tapi kapal selam yang dapat menembakkan senjata nuklir. Jika itu terjadi, sudah dapat dipastikan ketegangan di kawasan Indo-Pasifik akan meningkat tajam. Dalam skenario konflik terbuka, semisal antara Australia dan Tiongkok, Indonesia yang letak geografisnya diapit kedua negara tersebut, pasti akan terkena imbasnya.
 
Saat ini hubungan bilateral Indonesia dengan Australia dan Tiongkok terjalin baik, bahkan disebut-sebut berada di level terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Namun naif rasanya jika mengatakan hubungan bilateral antar negara akan berlangsung mulus selamanya. Apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti hubungan Indonesia dengan Australia dan Tiongkok memburuk, di saat kedua negara tersebut memiliki armada kapal selam atau alutsista lain yang bertenaga -- atau bahkan bersenjata -- nuklir? Hal itu mungkin saja terjadi, dan AUKUS dapat semakin meningkatkan kekhawatiran tersebut.
 
Kekhawatiran semacam ini kembali mengingatkan Indonesia mengenai pentingnya memperkuat pertahanan negara. Meski Indonesia merupakan negara cinta damai, dan kita pun tengah hidup di era yang relatif damai, pertahanan Indonesia tak bisa dikesampingkan begitu saja. Peremajaan alutsista mutlak diperlukan dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, karena diplomasi juga memiliki batasannya tersendiri jika konflik terbuka sewaktu-waktu meletus.
 
Untuk saat ini, AUKUS rasa-rasanya belum akan berpengaruh signifikan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Indonesia. Perlu diingat, untuk saat ini. Namun pemerintah harus mendiskusikan AUKUS secara serius, dan mencari skema serta langkah-langkah terbaik untuk memastikan kepentingan nasional Indonesia terjaga dengan baik dari segala ancaman.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif