Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: AFP/MANAN VATSYAYANA)
Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: AFP/MANAN VATSYAYANA)

Rohingya Eropa Berharap Sidang Suu Kyi Berlangsung Adil

Internasional konflik myanmar rohingya pengungsi rohingya
Willy Haryono • 10 Desember 2019 13:44
Esbjerg: Komunitas Rohingya di Eropa berharap sidang tuduhan genosida terhadap pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi di Den Haag, Belanda, hari ini, Selasa 10 Desember 2019, berlangsung adil. Sidang di Mahkamah Internasional (ICJ) ini berlangsung atas pengaduan Gambia atas dugaan terjadinya genosida oleh Myanmar terhadap Rohingya.
 
"10 Desember (2019) akan menjadi hari bersejarah bagi Rohingya. Ini adalah awal mulai dari keadilan dan akuntabilitas atas penderitaan Rohingya yang telah berlangsung selama berdekade-dekade," kata Hla Kyaw, Ketua Dewan Rohingya Eropa, kepada kantor berita Anadolu Agency.
 
"Kami sudah terlalu lama menunggu keadilan. Semoga ICJ dapat memproses persidangan ini dengan cepat dan menyuguhkan keadilan bagi semua Rohingya," tambah dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hla juga menyerukan komunitas internasional untuk bersama-sama menciptakan semacam "zona aman" bagi Muslim Rohingya sembari menanti Myanmar memberikan status kewarganegaraan. Selama ini, Myanmar menganggap Rohingya sebagai pendatang gelap dari Bangladesh.
 
"Saat ini Rohingya masih mendapat diskriminasi, seperti pembatasan akses pendidikan, kebebasan beragama, perawatan medis dan masih banyak lagi," tegas Hla.
 
Khairul Boshor, Ketua Asosiasi Muslim Myanmar Belanda, melontarkan pernyataan senada. Menurutnya, komunitas internasional harus bersatu dan menekan Myanmar agar mau bersikap adil terhadap Rohingya.
 
"Saya rasa ini merupakan tanggung jawab moral kita bersama untuk memberikan keadilan bagi Rohingya," tutur Khairul.
 
Khairul mengaku yakin persidangan di ICJ akan berakhir dengan kemenangan Gambia sebagai pihak pengadu. Menurut Khairul, banyak bukti faktual yang dapat digunakan untuk memperlihatkan bahwa otoritas Myanmar melakukan genosida dan pembersihan etnis terhadap Rohingya.
 
"Saya yakin Gambia akan keluar sebagai pemenangnya. Saya yakin karena ICJ mengeluarkan putusannya berdasarkan bukti-bukti otentik," sebut Khairul.
 
Lebih dari 730 ribu Rohingya melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh sejak Agustus 2016. Eksodus massal terjadi usai sebuah grup pemberontak menyerang pos keamanan Myanmar di Rakhine, yang dibalas otoritas keamanan dengan operasi brutal terhadap Rohingya.
 
Operasi militer tersebut, yang melibatkan dugaan pembunuhan massal dan perkosaan, dinilai pengamat Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pembersihan etnis dan mungkin juga genosida.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif