NEWSTICKER
Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel. Foto: AFP
Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel. Foto: AFP

Setelah Brexit, Inggris Luncurkan Sistem Imigrasi Baru

Internasional inggris
Fajar Nugraha • 19 Februari 2020 20:09
London: Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel Rabu 19 Februari meluncurkan sistem imigrasi berbasis poin terbaru. Sistem ini menurut Pemerintah Inggris akan membuka Negeri Ratu Elizabeth bagi warga dunia yang paling cerdas dan terbaik dari seluruh dunia.
 
Sistem baru, yang mulai berlaku 1 Januari 2021 akan mengakhiri pergerakan bebas, menegaskan kembali kendali perbatasan dan memulihkan kepercayaan publik Inggris.
 
Tidak hanya itu, sistem tersebut akan memberikan poin untuk keterampilan tertentu, kualifikasi, gaji atau profesi. Sementara visa hanya akan diberikan kepada mereka yang mendapatkan poin cukup.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Pemerintah mendengarkan pesan yang jelas dari referendum 2016 dan Pemilihan Umum 2019, serta akan mengakhiri ketergantungan pada tenaga kerja murah dan berketerampilan rendah yang datang ke negara ini,” pernyataan resmi Pemerintah Inggris, yang dikutip Medcom.id, Rabu, 19 Februari 2020.
 
“Tingkat migrasi secara keseluruhan akan berkurang, dengan keamanan yang lebih ketat dan pengalaman yang lebih baik bagi mereka yang datang ke Inggris,” imbuh pernyataan itu.
 
Sistem global tunggal yang baru akan memperlakukan warga negara UE (Uni Eropa) dan non-UE secara setara. Ini akan memberikan prioritas utama kepada mereka yang memiliki keterampilan tertinggi dan bakat terbesar, termasuk ilmuwan, insinyur dan akademisi.
 
Skema bakat global juga akan dibuka untuk warga negara Uni Eropa yang akan memungkinkan para ilmuwan dan peneliti yang sangat terampil untuk datang ke Inggris tanpa tawaran pekerjaan.
 
“Hari ini adalah momen bersejarah bagi seluruh negeri. Kami mengakhiri pergerakan bebas, mengambil kembali kendali atas perbatasan kami dan memenuhi prioritas orang-orang dengan memperkenalkan sistem imigrasi berbasis poin baru di Inggris, yang akan menurunkan jumlah migrasi secara keseluruhan,” ujar Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel.
 
“Kami akan menarik yang paling cerdas dan terbaik dari seluruh dunia, meningkatkan ekonomi dan komunitas kami serta melepaskan potensi penuh negara ini,” ungkapnya.
 
Menurut Pemerintah Inggris, penerapan poin akan secara hati-hati ditetapkan untuk menarik bakat yang dibutuhkan Inggris. Pekerja yang terampil harus memenuhi sejumlah kriteria yang relevan, termasuk keterampilan khusus dan kemampuan berbicara bahasa Inggris, untuk dapat bekerja di Inggris. Semua pelamar akan diminta untuk memiliki tawaran pekerjaan dan, sesuai dengan rekomendasi Komite Penasihat Migrasi (Migration Advisory Committee/MAC). Sedangkan ambang gaji minimum akan ditetapkan sebesar 25.600 poundsterling atau setara Rp454,9 juta.
 
Sistem berbasis poin yang baru juga akan memperluas ambang keterampilan bagi pekerja terampil. Mereka yang ingin tinggal dan bekerja di Inggris sekarang harus memenuhi syarat hingga tingkat A atau setara, daripada tingkat gelar di bawah sistem saat ini. Ini akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dan memastikan bisnis Inggris memiliki akses ke kumpulan pekerja terampil yang luas.
 
Kebijakan baru ini dianggap sejalan dengan komitmen manifesto pemerintah tidak akan ada rute khusus untuk pekerja berketerampilan rendah. Diperkirakan 70 persen dari tenaga kerja UE saat ini tidak akan memenuhi persyaratan rute pekerja terampil, yang akan membantu menurunkan jumlah keseluruhan di masa depan.
 
“Ilmu pengetahuan Inggris bersifat global. Karya pasca studi baru dan visa bakat global akan membantu kami untuk menarik siswa dan peneliti paling cerdas di dunia, dari mana pun mereka berasal,” ucap Presiden Imperial College London Profesor Alice Gast.
 
“Dari perlombaan untuk mengembangkan vaksin korona hingga energi bersih, kolaborasi internasional sains Inggris mendorong inovasi dan keunggulan,” tutur Gast.
 
Selain itu, visa pelajar juga akan berbasis poin dan dibuka untuk warga negara UE, memastikan talenta dari seluruh dunia memiliki akses ke universitas kelas dunia di Inggris. Mereka yang ingin belajar di Inggris perlu menunjukkan bahwa mereka memiliki tawaran dari lembaga pendidikan yang disetujui, bahwa mereka dapat menghidupi diri sendiri secara finansial dan mampu berbahasa Inggris.
 
Selain itu, uji coba pekerja musiman juga akan diperluas pada waktunya untuk panen 2020 dari 2.500 menjadi 10.000 tempat, menanggapi persyaratan sementara khusus dari sektor pertanian.
 
Warga negara Uni Eropa dan warga negara non-visa lainnya tidak akan memerlukan visa untuk masuk ke Inggris ketika mengunjungi Inggris hingga enam bulan. Namun, penggunaan kartu identitas nasional akan dihapus untuk perjalanan ke Inggris dan Kementerian Dalam Negeri akan menetapkan rencana pada waktunya.
 
Dipaparkan pula bahwa warga negara Uni Eropa yang tinggal di Inggris pada 31 Desember 2020 masih dapat mengajukan permohonan untuk menetap di Inggris melalui Skema Penyelesaian UE hingga Juni 2021.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif