Politisi Perancis telah dipanggil oleh otoritas Italia buat mempertahankan posisi negara mereka menyusul peristiwa yang terjadi pada 30 Maret.
Kantor jaksa penuntut umum di Turin juga telah membuka penyelidikan guna mendapatkan kejelasan soal tindakan lima perwira polisi Prancis bersenjata, yang menyerbu ke pusat migran di Bardonecchia, sebuah kota sekitar satu km di dalam perbatasan Italia.
Namun Paris membela tindakan polisi, mengklaim "mereka tidak melanggar kedaulatan Italia".
"Tidak ada pelanggaran apa pun, polisi hanya menerapkan perjanjian yang ditandatangani pada 1990, yang memungkinkan petugas polisi untuk melakukan kontrol di kedua sisi perbatasan," kata Menteri Aksi Publik dan Akun Prancis Gerald Darmanin, seperti disitir The Express, Selasa 3 April 2018.
Menteri Darmanin juga mengklaim bahwa baik perwira polisi Italia dan Prancis kerapmasuk tanpa izin melintasi perbatasan, "rata-rata sekali atau dua kali sebulan".
Darmanin dan Direktur Jenderal perbatasan Prancis, Rodolphe Gintz, telah diminta untuk bertemu dengan pihak berwenang Italia di Roma sesegera mungkin, pekan ini.
Darmanin setuju bahwa pemerintah Perancis tidak akan melakukan operasi serupa sampai perwakilan dari kedua negara bertemu demi menghindari insiden diplomatik lagi.
Organisasi non-profit, yang terkejut, para relawan Rainbow4Africa melaporkan "tindakan brutal" 30 Maret.
Mereka mengatakan bahwa sekitar pukul 9 malam waktu setempat lima polisi bersenjata menyerbu masuk ke pusat migran. Mereka membawa seorang imigran muda yang menumpang kereta api beberapa menit sebelumnya.
Mereka kemudian memaksanya melakukan tes urinal karena menduga dia kurir narkoba.
Caterina, yang berada di pusat itu selama serangan Prancis, mengatakan: “Semua orang sangat kecewa, kami belum pernah melihat tindakan brutal seperti itu.
Aksi itu memicu kemarahan dari para pemimpin politik Italia di semua partai.
Pemimpin Lega dan calon perdana menteri Italia berikutnya Matteo Salvini mengatakan: "Kita harus mengusir diplomat Perancis daripada yang Rusia."
Mantan perdana menteri Italia Enrico Letta menulis di Twitter: "Serangan Perancis di Bardonecchia adalah kesalahan terbaru yang dibuat selama krisis migran."
Augusta Montaruli, anggota parlemen sayap kanan dari Italia, juga memprotes tindakan yang diambil oleh para perwira.
Dia berkata: "Tindakan ini menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap Italia dan memicu preseden yang tidak dapat diterima."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News