Ilustrasi oleh Medcom.id.
Ilustrasi oleh Medcom.id.

Rencanakan Serangan Teror, Remaja Neo-Nazi Ditahan

Internasional kekerasan inggris
Arpan Rahman • 08 Januari 2020 19:12
Durham: Orang termuda yang dihukum karena merencanakan serangan teror di Inggris telah ditahan selama lebih dari enam tahun.
 
Terpidana sekarang berusia 17 tahun menulis tentang ‘perang ras yang tak terhindarkan’ di buku hariannya. Beserta lokasi terdaftar di kota asalnya Durham dalam sebuah manual ‘perang gerilya’.
 
Juri mendapati bocah itu, yang tidak bisa disebutkan namanya karena alasan hukum, bersalah atas persiapan aksi teroris antara Oktober 2017 dan Maret 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia dijatuhi hukuman enam tahun delapan bulan di Pengadilan Tinggi Manchester. Hakim David Stockdale berkata kepada bocah itu: "Ini adalah pelanggaran yang sangat serius." Dia juga memerintahkan penahanan diikuti oleh perpanjangan masa lisensi lima tahun.
 
Pengadilan selama enam pekan mendengar bahwa ia adalah penganut ‘neo-Nazisme okultisme’ (percaya kepada hal mistis), dan menggambarkan dirinya sebagai ‘sadis alamiah’.
 
Persiapan serangannya termasuk meneliti bahan peledak dan berusaha mendapatkan bahan kimia amonium nitrat yang berbahaya.
 
Dia juga menulis tentang rencana untuk melakukan pembakaran yang menargetkan rumah-rumah ibadat di daerah Durham menggunakan bom molotov.
 
Menunjuk terdakwa, hakim menggambarkannya sebagai "pemuda sangat cerdas" yang banyak membaca. Dia katakan, bukti dalam persidangan "menceritakan kisah mengerikan tersendiri", dan meskipun usianya yang muda merupakan faktor yang meringankan, itu juga merupakan aspek "yang paling mengganggu" dari kasus tersebut.
 
"Anda menderita gangguan spektrum autis", katanya, seraya membubuhkan itu adalah kesimpulan yang sama di antara para ahli.
 
Hakim juga mengatakan remaja itu telah menulis surat kepadanya yang menyatakan ‘penyesalan’.
 
Selain dinyatakan bersalah atas persiapan tindakan teroris, ia juga dihukum karena menyebarkan publikasi teroris, memiliki artikel untuk tujuan yang berkaitan dengan terorisme, dan tiga tuduhan memiliki dokumen atau catatan yang berisi informasi yang mungkin berguna bagi teroris.
 
Pengadilan menyidangkan bahwa dia telah mengunjungi situs web penggunaan senjata api dan berkomunikasi dengan juru lelang senjata.
 
Setelah penangkapannya pada Maret 2019, polisi menemukannya memiliki instruksi yang menunjukkan pembuatan bom dan risin -- dan bahwa ia telah mendistribusikan manual senjata api secara daring dengan mengunggahnya ke situs web neo-Nazi.
 
Sebelumnya dalam sidang hukuman, jaksa penuntut Michelle Nelson menggambarkannya "secara keseluruhan melanggar seluruh undang-undang terorisme".
 
Hal yang meringankan, Nigel Evans mengatakan, kurangnya penyesalan remaja itu mungkin "ditafsirkan sebagai bagian dari autisme, ADHD-nya", dan orang tuanya, yang sebelumnya "tidak percaya ada sesuatu yang salah", "sekarang sepenuhnya terlibat".
 
Berbicara setelah jatuhnya hukuman, Detektif Martin Snowden dari Kepolisian Durham berkata: "Tidak pernah merupakan keputusan yang mudah untuk menyelidiki, menangkap, dan menuntut anak-anak seusia ini.
 
"Kami hanya melakukan ini ketika kami berpikir itu adalah pilihan terakhir bagi kami untuk memutuskan," serunya, dilansir dari BBC, Selasa 7 Januari 2020.
 
"Pencegahan selalu lebih baik daripada penuntutan -- kami selalu lebih suka untuk terlibat lebih awal dan mengalihkannya dari keyakinan dan kegiatan ini," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif