Symposium Internasional FAO di Italia

Indonesia Beri Solusi Tingkatkan Minat Pemuda Bertani

M Studio 24 November 2018 10:52 WIB
berita kementan
Indonesia Beri Solusi Tingkatkan Minat Pemuda Bertani
Kepala BKP Kementerian Pertanian Agung Hendriadi selaku Ketua Delegasi Republik Indonesia (Delri) melakukan pertemuan Bilateral dengan Private Sector Mechanism (PSM) FAO (Foto:Dok.Kementan)
Jakarta: Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi selaku Ketua Delegasi Republik Indonesia (Delri) melakukan pertemuan Bilateral dengan Private Sector Mechanism (PSM) FAO.

Pertemuan dilakukan di sela Symposium Internasional bertema Agricultural Innovation for Family Farmers: Unlocking the Potential of Agricultural Innovation to Achieve the Sustainable Development Goals, di FAO Head Quarter, Roma, Italia, 21-23 November 2018.

Sembilan orang perwakilan sektor swasta pangan dan pertanian yang tergabung dalam PSM-FAO, yaitu Filipina, Belgia, Amerika Serikat, Swiss, Kenya, Norway, Uruguay, Vietnam, dan Indonesia, sangat serius mendengarkan penjelasan Agung Hendriadi.


Diskusi tersebut sangat menarik, karena yang menjadi topik adalah Peran Pemuda dalam Pertanian dan Peluang Investasi di Indonesia.

Agung Hendriadi menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian mempunyai kebijakan bahwa pertanian tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi pangan semata, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani. 

Menurut Agung, persoalan yang sama dengan negara lain juga dihadapi oleh Indonesia, yaitu sektor pertanian semakin ditinggalkan generasi muda. 

"Sebanyak 70 persen generasi muda cenderung beralih ke sektor lain, sehingga pertanian lebih didominasi oleh orang berusia lanjut (old farmers)," kata Agung. 

Menyikapi hal tersebut, pemerintah Indonesia membuat Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita),  yaitu pelembagaan dari suatu komitmen negara untuk memberdayakan pemuda dan merawat identitas nusantara sebagai bangsa agraris. 

"Regenerasi petani dan pemanfaatan lahan pertanian seluas-luasnya agar menjadi produktif adalah pola gerak Gempita. Para pemuda dihadirkan ke dalam pertanian yg ditunjang dengan inovasi tekhnologi pertanian untuk peningkatan produktivitas, peningkatan akses terhadap permodalan serta peningkatan kemampuan untuk melaksanakan pertanian yang berkelanjutan," kata Agung. 

Tak hanya itu, untuk menyiapkan generasi muda terjun ke sektor pertanian, Kementerian Pertanian menyelenggarakan pendidikan tinggi vokasi enam Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan).

Sesi diskusi tersebut semakin menarik ketika membahas isu-isu bilateral, yakni bagaimana mengembalikan generasi muda ke sektor pertanian. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana mengubah pola pikir generasi muda dan membuat pertanian menjadi suatu kegiatan yang menarik, serta memberikan prospek kehidupan masa depan yang baik, sehingga generasi muda tertarik menekuni bidang pertanian.

Isu lain yang juga menarik adalah peluang investasi di Indonesia, khususnya sektor pertanian. 

Terkait peluang investasi di Indonesia, Agung menyampaikan bahwa pada dasarnya Indonesia terbuka untuk melakukan kerja sama dengan pihak swasta baik dari dalam maupun luar negeri sepanjang mempunyai visi yang sama dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

Yang lebih penting, investasi yang dilakukan harus dapat menjadikan sektor pertanian semakin kuat, berkelanjutan, dan menjadikan petani sebagai pelaku utama pertanian (bukan objek). 

"Kami harapkan investasi yang dilakukan tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi pangan, tetapi harus mampu meningkatkan kesejahteraan petani," kata Agung.

Merespons hal yang disampaikan Agung, salah seorang anggota PSM-FAO menyatakan sangat tertarik dengan sistem yang ada di Indonesia, yaitu menjadikan petani sebagai pelaku pertanian. Hal itu tampak dari kegiatan Musrenbangdes.

"Kami sangat tertarik dengan penjelasan yang disampaikan Indonesia. Kami berminat melakukan penjajakan untuk berinvestasi," ujar perwakilan dari Amerika Serikat.

Forum ini memberikan kesempatan kepada petani termasuk pemuda tani untuk menyampaikan ide-ide dan inovasi untuk meningkatkan akses mereka kepada teknologi, permodalan, infrastruktur, dan akses. Diharapkan mereka mampu mengenali kebutuhan dalam melaksanakan kegiatan usaha tani,  serta menentukan sendiri usaha tani yang akan mereka kembangkan.



(ROS)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id