PM Inggris Theresa May hadapi ketidakpastian dalam pemilu (Foto: AFP).
PM Inggris Theresa May hadapi ketidakpastian dalam pemilu (Foto: AFP).

Inggris dalam Ketidakpastian Usai Konservatif Kehilangan Suara Mayoritas

Internasional politik inggris
Fajar Nugraha • 09 Juni 2017 09:59
medcom.id, London: Perdana Menteri Inggris Theresa May diperkirakan akan memenangkan percepatan pemilu. Namun Partai Konservatif diperkirakan kehilangan suara mayoritas di parlemen.
Hasil akhir masih belum sepenuhnya selesai, namun Partai Konservatif yang dipimpin Perdana Menteri Theresa May bersaing ketat dengan Partai Buruh yang dipimpin Jeremy Corbyn.
 
(Baca: Partai Konservatif Inggris Terancam Kehilangan Suara Mayoritas).
Prediksi menyebutkan bahwa Partai Konservatif meraih 314 kursi, sedangkan Partai Buruh meraih 229 kursi. Setiap partai membutuhkan 326 kursi untuk memimpin suara mayoritas dari Parlemen Inggris yang diisi 650 kursi.
Kondisi ini membuahkan keraguan mengenai siapa yang akan memimpin Inggris, di saat dalam pembicaraan Brexit.
"Jika memang hasil akhir menunjukkan seperti yang diprediksi, maka Theresa May tidak akan memegang suara parlemen mayoritas," ujar pengamat politik dari London School of Economics, Profesor Tony Travers, seperti dikutip AFP, Jumat 9 Juni 2017.
"Ini jelas sangat bertolak belakang dari upayanya mengadakan percepatan pemilu. Dia harus melakukan negosiasi Brexit dalam posisi lemah," imbuh Profesor Travers.
Usai penghitungan sementara Poundsterling jatuh terhadap dolar hingga USD1,2719. Investor saat ini mempertanyakan siapa yang akan memegang peranan dalam proses Brexit.
Partai sayap kanan UK Independence Party (UKIP), yang memenangkan 12,5 persen suara dua tahun lalu, secara mengejutkan tidak mendapatkan suara sama sekali. UKIP adalah pendorong untuk Inggris untuk keluar dari Uni Eropa.
Sementara partai pro-Uni Eropa, Liberal Democrat,-yang mengkampanyekan referendum UE kedua,- diproyeksikan menambahkan wakil mereka di parlemen hingga 14 kursi.
 
Tekanan untuk mundur

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


PM May yang memimpin Inggris usai referendum Uni Eropa, memulai proses keluar dari UE pada 29 Maret.
 
Satu hari kemudian, May mendesak percepatan pemilu agar mendapatkan mandat kuat untuk memimpin Inggris keluar dari pasar tunggal Eropa. Mandat itu ditujukan juga untuk mengendalikan imigrasi.
 
Para petinggi Uni Eropa di Brussels berharap pemilu Inggris ini bisa membuahkan kompromi. Tetapi dengan kondisi saat ini, sepertinya dipenuhi tanda tanya.
 
"Parlemen gantung adalah hasil buruk bagi perspektif pasar, karena menciptakan ketidakpastiaan bagi menghadapi negosiasi Brexit," tutur analis pasar di OANDA, Craig Erlam.
 
Meskipun melakukan kampanye anti Brexit, Partai Buruh menerima hasil referendum. Mereka tetap fokus untuk menjaga hubungan ekonomi dengan blok negara Eropa itu.
 
Satu bulan lalu, Partai Buruh diperkirakan tidak akan memenangkan pemilu. Terutama setelah diwarnai perpecahan dalam partai.
 
Tetapi pengumuman PM May mengenai reformasi dana veteran, mengubah permainan. Terutama pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn melakukan kampanye kuat di akar rumput dan serangan teror yang terjadi di Negeri Ratu Elizabeth.
 
"Tampak jelas pertaruhan (May) tidak terbayarkan," pungkas dosen senior University of Bristol, Paula Surridge.
 
"Meskipun jika dia mampu mendapatkan cukup kursi, tetap akan dianggap sebagai kegagalan. Hal ini tentunya membuahkan tekanan agar dirinya segera mundur," jelas Surridge.
 
Mantan Menteri Keuangan George Osborne mengatakan, jika dia kehilangan kursi,"amat diragukan dirinya akan kuat memegang jabatan pemimpin partai".

 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif