Yenny Wahid ketika berinteraksi dengan masyarakat Indonesia di Berlin, Jerman. (Foto: Dok.KBRI Berlin).
Yenny Wahid ketika berinteraksi dengan masyarakat Indonesia di Berlin, Jerman. (Foto: Dok.KBRI Berlin).

Cegah Perpecahan, Rakyat Indonesia Perlu Banyak Dialog

Internasional kemenlu Yenny Wahid
Fajar Nugraha • 26 Juni 2019 07:52
Berlin: Fenomena ‘divided nations’ atau bangsa yang terpecah terjadi di beberapa negara. Tak terkecuali Indonesia yang bisa terancam dengan kondisi tersebut.
 
Direktur Wahid Institut, Yenny Wahid, mengimbau masyarakat Indonesia di Jerman untuk memperbanyak dialog dan komunikasi antar elemen bangsa. Hal tersebut diperlukan untuk antisipasi fenomena ‘divided nations’ ini.
 
Ketika bertemu dengan sekitar 70 warga negara Indonesia di Berlin, Jerman, Yenny mengungkapkan hasil survei Wahid Institut yang menekankan perlunya membangun pemahaman lebih baik melalui dialog konstruktif di semua lapisan masyarakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kita perlu banyak ketemu banyak dialog. Mengedapankan titik-titik persamaan dan menjembatani perbedaan. Kalau sudah saling mengerti, saling paham, Insya Allah saling tuding dan saling curiga akan berkurang,” jelas Yenny di KBRI Berlin, Minggu 23 Juni 2019.
 
“Media sosial juga menjadi alat untuk memperoleh keuntungan finansial dengan cara menyebarkan hoax untuk menciptakan perpecahan,” ucap putri Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid itu, dalam keterangan tertulis KBRI Berlin yang diterima Medcom.id, Rabu, 26 Juni 2019.
 
“Kita perlu membangun konter narasi terhadap berbagai hoaks dan fakenews (berita palsu) yang berkembang di media sosial. Ini juga salah satu bentuk dialog yang penting kita kembangkan terus menerus,” tegasnya.
 
Cegah Perpecahan, Rakyat Indonesia Perlu Banyak Dialog
Direktur Wahid Institut, Yenny Wahid bertemu dengan WNI di Berlin, Jerman. (Foto: Dok. KBRI Berlin).
 

Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno,-yang menjadi moderator acara ini,- menyebutkan salah satu aspek penting dalam diskursus kebebasan berpendapat adalah pencapaian titik keseimbangan antara kebebasan pendapat dengan kepentingan umum dan kebebasan pendapat orang lain.
 
“Hukum internasional tentang keseimbangan kebebasan berpendapat dengan kepentingan umum sudah diatur secara jelas. Selain itu juga terdapat berbagai yurisprudensi tentang hal ini,” tutur Dubes Havas.
 
“Di Eropa sendiri terjadi debat yang luas tentang keseimbangan freedom of speech dengan hate speech dan hoax - fake news,” imbuhnya.
 
Saat ditanya Dubes Havas mengenai peran ulama dan penceramah wanita di Indonesia saat ini, Yenny menjelaskan bahwa saat ini jumlah penceramah wanita meningkat. Dalam beberapa hal ulama dan penceramah wanita lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan agama kepada umat.
 
Wanita juga memegang peran penting dalam memberantas sikap intoleransi di kalangan masyarakat, terutama melalui pendidikan yang bermula dari keluarga.
 
Beberapa isu lain juga mengemuka selama dialog, antara lain terkait dengan politik identitas, arah demokrasi Indonesia ke depan, serta peran dan sinergitas Wahid Institut menghadapi perkembangan situasi Indonesia saat ini.
 
Pada kesempatan kunjungan di Berlin, puteri ketiga Almarhum Gus Dur ini juga melakukan pertemuan dengan Kepala Departemen Agama dan Kerja Sama Internasional Kemenlu Jerman, Duta Besar Volker Berresheim pada 24 Juni 2019.
 
Dalam pertemuan dibahas mengenai kontribusi Indonesia untuk memajukan dialog antar umat beragama, khususnya terkait dengan KTT Religion for Peace yang akan diselenggarakan di Jerman bulan Agustus mendatang. Di hari yang sama Yenny juga bertemu dengan mitranya dari Robert Bosch Stiftung, Sandra Breka. Pada kesempatan tersebut dibahas mengenai rencana kerja sama Wahid Institut dengan yayasan ini.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif