Pierre Krahenbuhl mengundurkan diri di tengah penyelidikan isu manajemen. Foto: AFP
Pierre Krahenbuhl mengundurkan diri di tengah penyelidikan isu manajemen. Foto: AFP

Bos Badan Bantuan Palestina Mundur karena Masalah Manajemen

Internasional palestina pbb UNRWA
Arpan Rahman • 07 November 2019 14:25
New York: Kepala badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina (UNRWA) Pierre Krahenbuhl telah mengundurkan diri. Mundurnya bos UNRWA segera setelah temuan awal penyelidikan internal menemukan ‘masalah manajemen’ yang perlu ditangani.
 
"Beberapa saat yang lalu, Komisaris Jenderal (Badan Bantuan dan Pekerjaan) UNRWA, Pierre Krahenbuhl, memberi tahu Sekretaris Jenderal bahwa ia akan segera mengundurkan diri, secara efektif," kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, dikutip dari Al Jazeera, Kamis 7 November 2019.
 
UNRWA mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa Krahenbuhl telah mengundurkan diri, tanpa memberikan rincian tambahan. PBB sebelumnya mengumumkan bahwa Krahenbuhl sudah diberikan cuti administratif sementara penyelidikan berlanjut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebuah laporan rahasia etika agensi internal, pertama kali dilaporkan Al Jazeera pada Juli. Isinya menuduh Krahenbuhl dan ‘lingkaran dalam’-nya ‘penyalahgunaan wewenang untuk keuntungan pribadi, demi menekan perbedaan pendapat yang sah dan buat mencapai tujuan pribadi mereka’.
 
Laporan itu menuduh ‘lingkaran dalam’ itu terdiri dari Wakil Komisaris Jenderal Sandra Mitchell -- yang mengundurkan diri dari jabatannya pada akhir Juli -- Kepala Staf Hakam Shahwan -- yang meninggalkan badan pada awal Juli -- dan Penasihat Senior untuk Komisaris Jenderal Maria Mohammedi.
 
Diklaim bahwa anggota lingkaran dalam "terlibat dalam pelanggaran, nepotisme, pembalasan, dan penyalahgunaan wewenang lainnya" menyusul jatuhnya keputusan Amerika Serikat untuk memotong kontribusinya ke UNRWA pada 2018. Washington secara historis adalah donor individu terbesar badan tersebut.
 
“Krisis pendanaan menjadi alasan untuk konsentrasi ekstrem kekuasaan pengambilan keputusan di anggota 'kelompok' dan khususnya, mantan kepala staf; peningkatan ketidakpedulian terhadap aturan lembaga dan prosedur yang ditetapkan, dengan pengecualian yang menjadi norma; dan melanjutkan perjalanan yang berlebihan dari komisaris jenderal,” imbuh laporan itu.
 
“Perkembangan ini mengarah pada eksodus staf senior dan lainnya,” katanya, dan budaya kerja "ditandai oleh moral rendah, takut pembalasan, ketidakpercayaan, kerahasiaan, intimidasi, dan marginalisasi, dan manajemen yang sangat disfungsional, dengan gangguan signifikan pada struktur akuntabilitas reguler".
 
Laporan itu menyimpulkan dugaan perilaku individu itu menghadirkan ‘risiko besar bagi reputasi PBB’ dan mengatakan ‘pemindahan segera mereka harus dipertimbangkan dengan cermat’.


Perilaku Krahenbuhl


Banyak dokumen yang berfokus pada tuduhan seputar perilaku Krahenbuhl, warga negara Swiss yang menjabat pekerjaan utama agensi tersebut pada Maret 2014. Termasuk klaim bahwa hubungan Krahenbuhl dengan Mohammedi, penasihat seniornya, melampaui ‘profesional’, menciptakan ‘lingkungan beracun’ bagi kolega mereka.
 
Seorang mantan direktur UNRWA yang membaca laporan etika mengaku merasa itu akurat. Tetapi Krahenbuhl mengatakan kepada Al Jazeera pada waktu itu bahwa ia ‘tanpa pamrih’ menolak karakterisasi UNRWA dan kepemimpinan seniornya yang ditetapkan dalam laporan etika.
 
Mohammedi, sementara itu, mengatakan dia "tidak pernah melihat laporan etika dan menolak tuduhan tentang perilakunya sebagai ‘salah’ dan ‘berniat buruk’”.
 
Juru Bicara UNRWA Tamara al-Rifai, mengatakan pada Rabu bahwa Mohammedi akan melanjutkan perannya saat ini di agensi tersebut, menambahkan bahwa belum jelas kapan temuan penyelidikan akan diumumkan.
 
Badan tersebut didirikan pada tahun-tahun setelah lebih dari 700.000 warga Palestina diusir atau melarikan diri dari tanah mereka selama berdirinya negara Israel 1948. Badan ini menyediakan layanan pendidikan dan sekolah penting bagi jutaan pengungsi miskin di Lebanon, Yordania, Suriah, dan wilayah Palestina.
 
Menyusul laporan Al Jazeera, Belgia, Belanda, dan Swiss menghentikan kontribusi mereka ke UNRWA. Dalam pernyataannya pada Rabu, UNRWA mengatakan pihaknya juga telah memulai tinjauan internal yang "mengungkapkan sejumlah bidang yang perlu diperkuat".
 
Badan itu mengatakan mulai tindakan korektif dan akan mengejar inisiatif lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
 
Pernyataan itu mengutip Antonio Guterres, Sekjen PBB, menyerukan kepada para donor untuk berkomitmen mendanai UNRWA sehingga "ia mampu menjalankan perannya yang unik dan vital dalam melayani lebih dari 5,5 juta pengungsi Palestina".
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif