Warga Pantai Gading bersorak usai mengetahui ICC telah memerintahkan pembebasan mantan presiden Laurent Gbagbo, 15 Januari 2019. (Foto: AFP/SIA KAMBOU)
Warga Pantai Gading bersorak usai mengetahui ICC telah memerintahkan pembebasan mantan presiden Laurent Gbagbo, 15 Januari 2019. (Foto: AFP/SIA KAMBOU)

Pengadilan ICC Bebaskan Mantan Presiden Pantai Gading

Internasional pantai gading
Arpan Rahman • 16 Januari 2019 15:46
Den Haag: Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) memerintahkan pembebasan mantan Presiden Pantai Gading Laurent Gbagbo terkait tuduhan kasus pembunuhan dan pemerkosaan massal. Selain Gbagbo, mantan Menteri Muda Pantai Gading Charles Ble Goude juga dilepaskan dari semua tuntutan.
 
Gbagbo dan Goude diseret ke ICC atas tuduhan serangkaian aksi kekerasan pascapemilihan umum di Pantai Gading pada 2011. Kala itu, Gbagbo menolak menyerahkan kekuasaan ke Alassane Quattara, presiden Pantai Gading saat ini. Penolakan berujung pada tewasnya sekitar 3.000 orang.
 
Setelah pasukan Prancis dan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengintervensi, Gbagbo dikeluarkan paksa dari sebuah tempat persembunyian bersama istrinya, Simone.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seperti disitat dari laman Guardian, Jajaran hakim ICC menyatakan Gbagbo dan Goude tidak memiliki rencana untuk tetap berkuasa di Pantai Gading pada 2011. Oleh karena itu, ICC menilai keduanya sudah "tidak perlu lagi membela diri, karena tim jaksa juga tidak dapat menghadirkan bukti-bukti kuat."
 
Keputusan ini merupakan pukulan telak bagi jaksa ICC. Namun pengadilan dilanjutkan kembali hari ini, Rabu 16 Januari 2019, di mana jaksa masih memiliki opsi untuk mengajukan banding atas putusan ICC.
 
Sejak 2011, ICC sempat dituduh berat sebelah karena tidak melayangkan tuntutan apapun kepada para komandan Pantai Gading yang pro-Quattara, yang juga dituduh melakukan sejumlah aksi kekerasan. Quattara, yang terpilih lagi menjadi presiden pada 2015, dituding menggunakan ICC untuk membungkam oposisi.
 
Kepala Jaksa ICC, Fatou Bensouda, mengonfirmasi bahwa penyelidikan terhadap Pantai Gading masih akan berlanjut, termasuk kemungkinan soal pembantaian di Duekoue pada Maret 2011 yang menewaskan 800 orang.
 
"Pihak kami akan terus melakukan yang terbaik. Penderitaan para korban di Pantai Gading akan selalu berada di benak kami," ungkap Bensouda.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi