Prancis 'Mundur' di Bawah Tekanan Demonstran BBM

Willy Haryono 05 Desember 2018 11:45 WIB
politik prancis
Prancis 'Mundur' di Bawah Tekanan Demonstran BBM
Demonstran rompi kuning berhadapan dengan polisi di La Rochelle, Prancis, 3 Desember 2018. (Foto: AFP/ABDULMONAM EASSA)
Paris: Pemerintah Prancis 'menyerah' di bawah tekanan demonstran yang mengecam keras rencana penaikan harga bahan bakar minyak. Aksi unjuk rasa menentang harga tersebut sudah berlangsung lebih dari dua pekan lalu.

Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe mengumumkan penundaan rencana penaikan pajak BBM dan tarif dasar listrik dalam sebuah pidato di televisi, Selasa 4 Desember 2018. Penundaan dilakukan demi meredam demonstrasi yang diwarnai bentrok dan vandalisme di banyak kota di Prancis, terutama Paris.

"Kemarahan (pedemo) ini, kalian semua pasti sudah melihat dan mendengarnya," tutur Philippe merujuk pada aksi unjuk rasa menentang harga BBM."


"Kebijakan perpajakan tidak seharusnya mengancam persatuan negara," lanjut dia, seperti dikutip dari kantor berita AFP.

Rencana menaikkan pajak BBM jenis petrol dan diesel di Prancis pada 1 Januari 2019 akan ditunda hingga enam ke depan. Penaikan tarif dasar listrik serta gas juga ditunda sepanjang musim dingin.

Bentrokan di tengah unjuk rasa menentang harga BBM ini disebut-sebut sebagai yang terparah melanda Prancis dalam beberapa dekade terakhir. Empat orang dilaporkan tewas dalam unjuk rasa yang tersebar di seantero Prancis.

Sejak unjuk rasa dimulai pada pertengahan November, Presiden Emmanuel Macron cenderung tetap kukuh mempertahankan kebijakan menaikkan harga BBM. Penundaan ini menandai kali pertamanya Macron 'menyerah' terhadap tekanan demonstran yang kompak mengenakan rompi kuning.

Pemerintah Prancis sempat mewacanakan menerapkan status darurat keamanan terkait unjuk rasa ini. Kepolisian Prancis menilai status darurat dapat mencegah terjadinya bentrokan lebih lanjut.

Harga diesel, jenis BBM yang banyak digunakan di mobil-mobil Prancis, meningkat sekitar 23 persen dalam 12 bulan terakhir menjadi 1,51 euro atau setara Rp25 ribu per liter. AFP melaporkan itu merupakan titik tertinggi sejak awal 2000-an.



(WIL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id