Situs kota kuno Palmyra (Foto: AFP)
Situs kota kuno Palmyra (Foto: AFP)

UNESCO Kutuk Hancurnya Situs Warisan Dunia di Palmyra

Arpan Rahman • 21 Januari 2017 16:30
medcom.id, Paris: UNESCO menerima beberapa laporan dan citra satelit yang dirilis, Jumat 20 Januari, oleh UNITAR-UNOSAT mengkonfirmasikan kehancuran tetrapylon di Palmyra dan beberapa bagian dari proscenium teater.
 
"Kehancuran ini adalah kejahatan perang baru dan kerugian besar bagi rakyat Suriah dan bagi umat manusia," kata Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova dalam siaran pers yang disitat Metrotvnews.com dari situs resmi UNESCO, Sabtu (21/1/2017). 
 
"Pukulan baru ini terhadap warisan budaya, hanya beberapa jam setelah UNESCO menerima laporan tentang eksekusi massal di teater, menunjukkan bahwa pembersihan budaya dipimpin oleh ekstremis berupaya menghancurkan, baik kehidupan manusia dan monumen bersejarah, untuk mencabut rakyat Suriah dari masa lalunya dan masa depan.

Inilah sebabnya mengapa perlindungan atas warisan tidak terlepas dari perlindungan kehidupan manusia, dan kita semua harus bersatu untuk menempatkannya di tengah-tengah semua upaya untuk membangun perdamaian," tambah Bokova.
 
Tetrapylon berupa sebuah monumen yang menandai persimpangan jalan utama di sepanjang jalan bertiang di Palmyra. Peninggalan ini bukti kemegahan era sekitar 270 Masehi, di mana Ratu Zenobia telah mencapai puncak kekuasaannya.
 
"Tetrapylon adalah simbol arsitektur dari semangat pertemuan dan keterbukaan Palmyra dan ini juga salah satu alasan mengapa dihancurkan. Posisi dan bentuknya yang unik dalam arsitektur kuno dan membuktikan kekhususan identitas Palmyrene, sebagai sumber kebanggaan dan martabat untuk semua orang Suriah hari ini," kata Dirjen UNESCO.
 
Teater Palmyra, berasal dari abad ke-2, dibangun di pusat serambi bertiang berbentuk setengah lingkaran yang terletak di sebelah barat daya dari jalan bertiang utama. Citra satelit menunjukkan kerusakan pada dinding proscenium yang sebelumnya terawat baik, dihiasi dengan sepuluh lengkung dan sembilan ceruk persegi panjang ditempatkan secara bergantian.
 
UNESCO menegaskan kembali seruannya kepada masyarakat internasional untuk bersatu melawan pembersihan budaya.
 
Sebagai sebuah oasis di gurun Suriah, arah timur laut dari Damaskus, Palmyra berisi reruntuhan monumental dari sebuah kota besar yang menjadi salah satu pusat kebudayaan yang paling penting dari dunia kuno.
 
Sejak abad ke-1 sampai abad ke-2, seni dan arsitektur dari Palmyra, berdiri di persimpangan beberapa peradaban, campuran teknik Yunani-Romawi dengan tradisi lokal dan pengaruh Persia. Situs Palmyra tercantum di daftar Warisan Dunia UNESCO pada 1980 dan telah dimasukkan di daftar Warisan Dunia dalam Bahaya sejak 2013.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan