Aksi teror di Spanyol menyebabkan 14 orang tewas (Foto: AFP).
Aksi teror di Spanyol menyebabkan 14 orang tewas (Foto: AFP).

Tersangka Teror Barcelona Rencanakan Serangan Lebih Besar

Arpan Rahman • 19 Agustus 2017 18:08
medcom.id, Madrid: Tersangka serangan teror ganda di Spanyol sudah merencanakan serangan yang lebih besar daripada serangan mobil mematikan yang mereka lakukan, kata polisi. Sementara rasa pilu muncul dari keluarga yang tercabik kengerian.
 
Seorang pria Italia berusia 35 tahun terbunuh di antara 14 orang, terkapar di depan istri dan anak-anaknya di Barcelona saat seorang sopir menabrakkan mobil van menghantam kerumunan orang di jalan raya Las Ramblas yang sibuk, Kamis 17 Agustus. Pelaku kemudian melarikan diri dengan berjalan kaki.
 
Polisi berkata telah menembak mati lima "tersangka teroris" yang menubruk para pejalan kaki di resor pantai Catalan di Cambrils dalam serangan kedua pada dini hari Jumat 18 Agustus. Lantas menahan empat orang lainnya saat Spanyol bangkit dari kekerasan mematikan tersebut.
 
Polisi regional Catalonia mengidentifikasi tiga tersangka yang tewas sebagai warga negara Maroko. Mereka ialah Moussa Oukabir, 17, Said Aallaa, 18, dan Mohamed Hychami, 24.
 
 
Polisi mengatakan, Jumat, bahwa mereka mencurigai 12 orang terlibat dalam serangan tersebut: lima orang yang terbunuh, empat sudah ditangkap, dan tiga orang yang telah diidentifikasi namun masih buron.
 
Pejabat menduga bahwa dua dari tiga orang itu mungkin telah meninggal dalam ledakan di sebuah rumah di kota Alcanar, sekitar 200 kilometer selatan Barcelona pada Rabu malam.
 
Rencana lebih besar
 
Awalnya diduga ledakan gas kebetulan, polisi lalu menghubungkan letusan tersebut dengan serangan di Barcelona. Sembari ??mempercayai bahwa penghuni rumah sedang mempersiapkan serangan yang lebih besar, kemungkinan bom kendaraan, dengan memakai tabung gas tapi tergelincir.
 
Polisi memindahkan puluhan tabung gas dari rumah itu, menurut fotografer AFP di lokasi kejadian.
 
"Mereka sedang mempersiapkan satu atau beberapa serangan di Barcelona, ??dan sebuah ledakan di Alcanar menghentikan ini semua karena mereka tidak lagi memiliki materi yang mereka perlukan untuk melakukan serangan yang lebih besar lagi," kata Josep Lluis Trapero dari kepolisian Catalonia.
 
Setelah ledakan, para tersangka dengan cepat melakukan serangan "kurang sempurna". Melibatkan kendaraan yang menghantam para pejalan kaki di Barcelona dan Cambrils, tambahnya.
 
Para tersangka Cambrils memiliki kapak dan pisau di dalam mobil serta sabuk peledak palsu yang menempel di tubuh mereka, kata polisi.
 
Tingkat koordinasi yang tinggi
 
Kedua serangan Spanyol tersebut memiliki modus operandi yang sama. Para pengemudi sengaja menargetkan pejalan kaki dengan kendaraan mereka, gaya terbaru dalam serangkaian serangan semacam itu di Eropa.
 
Resor Mediterania, Nice di Prancis sangat terpukul pada 14 Juli 2016, ketika seorang pria menabrakkan truk ke kerumunan, menewaskan 86 orang.
 
Otso Iho dari Jane -- Pusat Terorisme dan Pemberantasan -- mengatakan serangan Spanyol, sepanjang dua kota yang berbeda, tampaknya merupakan "tingkat koordinasi yang jauh lebih tinggi daripada yang biasanya muncul dalam serangan sebelumnya."
 
Hal ini juga diyakini sebagai pertama kalinya Islamic State (ISIS) mengklaim sebuah serangan di Spanyol.
 
Di saat berduka, Jumat, Perdana Menteri Mariano Rajoy, Raja Felipe VI, dan presiden Catalonia - di mana kedua serangan tersebut terjadi -- mampir sesaat di Barcelona. Mereka disambut oleh kerumunan warga yang bertepuk tangan dan berteriak "tidak takut".
 
Namun, sebagai pertanda ketegangan yang dipicu oleh serangan tersebut, sekitar 20 militan sayap kanan mencoba melakukan demonstrasi pada pawai tersebut. Beberapa orang mengusung spanduk yang bertuliskan "Jangan Ada Masjid Lagi" atau "Pengungsi tidak diterima lagi".
 
Perkelahian terjadi antara militan sayap kanan dan kerumunan.
 
Kerabat dipisahkan
 
Rincian mulai muncul, pada Jumat, mengenai identitas korban, begitu juga kisah tragis keluarga yang terpisah maut.
 
Saksi di Barcelona menggambarkan bagaimana van menabrak kerumunan, meninggalkan mayat-mayat berserakan di sepanjang jalan raya saat orang-orang melarikan diri demi menyelamatkan hidup mereka, berteriak-teriak panik.
 
"Kami berada di bus wisata kota, kami berada 6 meter dari lokasi saat kejadian," kata Alex Luque, pelajar 19 tahun dari New York.
 
"Kami mendengar van dan tabrakannya ke arah orang-orang dan kemudian kami melihat orang-orang berlari," lanjutnya seperti dikutip AFP, Sabtu 19 Agustus 2017.
 
Hanya delapan jam berselang, para penyerang menyerbu pada dini hari Jumat di Cambrils. Mobil Audi A3 menabrak pejalan kaki, melukai enam warga sipil dan seorang petugas polisi. Satu warga sipil, seorang wanita, kemudian meninggal karena luka-lukanya.
 
Polisi menembak mati kelima penyerang tersebut. Mereka juga mengatakan telah menangkap empat tersangka -- tiga orang Maroko dan seorang Spanyol.
 
Polisi berkata, mereka belum mengidentifikasi siapa yang mengendarai van putih yang melaju ke arah keramaian orang di Barcelona.
 
Setidaknya tiga lusin kebangsaan di antara korban tewas dan cedera, dari negara-negara termasuk Aljazair, Australia, China, Prancis, Irlandia, Peru, dan Venezuela, menurut lembaga perlindungan sipil Spanyol.
 
 
Pemerintah Catalan mengaku tujuh korban serangan telah diidentifikasi -- lima warga negara Spanyol, satu Italia, dan seorang Portugis.
 
Lima puluh sembilan korban luka-luka tetap berada di rumah sakit, termasuk 15 orang yang dalam kondisi kritis, kata kementerian dalam negeri Catalan.
 
Kenangan Madrid 2004
 
Pemerintah Spanyol sekarang harus memutuskan apakah akan menaikkan tingkat ancaman teror dari empat menjadi lima (maksimal) pada puncak musim turis.
 
Spanyol, tujuan wisata terpopuler ketiga di dunia dengan industri yang menyumbang 11 persen dari ekonomi negara tersebut, sampai sekarang terhindar dari gelombang serangan ekstremis baru-baru ini yang mengguncang Prancis, Belgia, dan Jerman.
 
Negeri Matador bahkan melihat lonjakan wisatawan saat para pengunjung meninggalkan destinasi bersimbah mentari lainnya seperti Tunisia dan Mesir. 
 
Tapi juga tidak asing dengan serangan militan. Pada Maret 2004, Spanyol terpukul oleh serangan yang masih dinilai paling mematikan di Eropa, saat bom di kereta komuter Madrid menewaskan 191 orang dalam sebuah serangan yang diklaim oleh ekstrimis yang diilhami Al Qaeda.
 
Spanyol pun harus berurusan dengan kampanye kekerasan selama beberapa dekade yang dilancarkan oleh kelompok separatis Basque ETA, yang baru mengumumkan gencatan senjata pada 2011.
 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan