Perdana Menteri Inggris Theresa May harus cepat bergerak mengatasi penolakan parlemen atas kesepakatan Brexit. (Foto: AFP).
Perdana Menteri Inggris Theresa May harus cepat bergerak mengatasi penolakan parlemen atas kesepakatan Brexit. (Foto: AFP).

Tiga Skenario Bagi PM Inggris Usai Penolakan Brexit

Internasional brexit
Fajar Nugraha • 16 Januari 2019 21:17
London: Parlemen Inggris menolak kesepakatan Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa) yang diajukan oleh Perdana Menteri Theresa May. Hasil voting 15 Januari itu memicu masalah bagi posisi May sebagai Perdana Menteri Inggris.
 
Baca juga: Brexit Ditolak, PM Inggris Hadapi Mosi Tidak Percaya.
 
Namun ada tiga skenario utama yang bisa diambil cepat oleh Pemerintah Inggris untuk mengatasi masalah ini. Waktunya hingga 29 Maret 2019, di mana Inggris akan resmi berpisah dengan Uni Eropa setelah bersama selama 46 tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mencoba lagi
 
Pemerintah Inggris dan para pemimpin di Uni Eropa (UE) mengatakan, kesepakatan Brexit itu adalah kompromi yang terbaik dihasilkan. Meskipun ditolak parlemen, PM May menegaskan bahwa kesepakatan itu adalah satu-satunya pilihan.
 
Anggota parlemen dari Partai Konservatif,-partai yang mengusung May,- mengatakan bahwa kesepakatan itu tetap menjaga kedekatan Inggris dengan UE. Sementara pihak oposisi melihat pemerintah gagal untuk melindungi hubungan ekonomi dengan blok negara Eropa barat itu.
 
Kedua belah pihak di parlemen juga tidak menyukai rencana tetap membuka perbatasan Irlandia. Selama ini Irlandia dianggap sebagai pintu belakang, yang bisa memaksa Inggris mengikuti aturan perdagangan Eropa.
 
PM May sebelumnya sudah mengupayakan konsensi dengan para pemimpin UE, tetapi mereka menolak mengubah kesepakatan itu. Tetapi para pengkritik tidak yakin.
 
Pada Selasa, May memperingatkan tidak ada ‘kesepakatan alternatif’ mengenai UE. Tetapi dia menegaskan terbuka untuk melakukan diskusi dengan para anggota parlemen mengenai ‘hal yang bisa dinegosiasikan’ dan bisa ‘mengeksplorasinya bersama Uni Eropa’. Adapun Jaksa Agung Geoffrey Cox menyebutkan bahwa kesepakatan Brexit akan kembali bentuk dan isi yang sama.
 
Tidak ada kesepakatan
 
Ini disebut sebagai skenario kiamat yang bisa memicu terjadinya resesi di Inggris serta memperlambat pertumbuhan ekonomi Uni Eropa. Ini adalah skenario pasti jika Parlemen Inggris tetap menolak kesepakatan itu dan tidak ada solusi tercapai sebelum 29 Maret.
 
Kesepakatan yang dibuat PM May bermaksud agar Inggris sebagai kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia, bisa mempertahankan kesepakatan dagangnya dengan Uni Eropa. Selama ini, UE merupakan pasar ekspor besar bagi Negeri Ratu Elizabeth.
 
Perubahan tiba-tiba menuju standar berbeda akan menimbulkan dampak ekonomi di berbagai sektor. Bahkan ada kemungkinan harga berbagai kebutuhan akan naik di Inggris dan bisa menimbulkan gangguan alur logistik seperti di pelabuhan.
 
Pemerintah Inggris sendiri sudah melakukan persiapan selama beberapa minggu jika tidak ada kesepakatan tercapai.
 
Muncul pula spekulasi di London dan Brussels (Belgia markas Uni Eropa) bahwa PM May akan menunda Brexit demi menghindari skenario tidak ada kesepakatan.
 
Referendum kedua
 
Para pendukung Uni Eropa di Inggris terus menuntut dilakukannya voting ulang atas keanggotaan Inggris di organisasi ini.
 
Tidak ada hukum yang melarang Inggris mengulang voting itu. Tetapi banyak yang mempertanyakan, jika tindakan itu tidak demokratis.
 
Referendum kedua hanya menunjukkan perpecahan di Inggris. Survei menunjukkan bahwa rakyat Inggris masih terpisah mengenai isu ini.
 
May sebelumnya memperingatkan bahwa voting kedua bisa menimbulkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki atas integritas politik Inggris.
 
Salah satu yang memungkinkan saat ini adalah menunda perpisahan Inggris dari UE. Meskipun para diplomat UE memperingatkan hal itu hanya bisa diberikan beberapa bulan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif