Truk yang ditemukan di Inggris berisi mayat yang diduga berasal dari Tiongkok. Foto: AFP
Truk yang ditemukan di Inggris berisi mayat yang diduga berasal dari Tiongkok. Foto: AFP

Kematian 39 Imigran, Geng Penyelundup Tiongkok Diburu

Internasional inggris tiongkok
Arpan Rahman • 25 Oktober 2019 15:08
Essex: Komplotan penyelundup Tiongkok dikhawatirkan berada di balik kematian 39 imigran yang ditemukan membeku di belakang sebuah truk di Essex, Inggris.
 
Para penyelundup mungkin merencanakan perjalanan itu sebagai bagian dari rantai perdagangan manusia yang menguntungkan. Polisi diberi lebih banyak waktu untuk menanyai sopir Mo Robinson setelah mayat-mayat ditemukan dalam truknya di Grays, Essex, Inggris.
 
Salah satu sumber mengatakan, "Mereka yang meninggal memiliki harapan akan masa depan di negara yang baik."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Geng memangsa orang-orang yang putus asa untuk melarikan diri dari kemelaratan demi kehidupan yang lebih baik di Barat. Harapan para imigran ikut mati bersama mereka, terperangkap dalam kengerian yang tak terbayangkan dalam truk berpendingin di dermaga Essex, setelah melakukan perjalanan 8.000 km dari tanah air mereka yang miskin.
 
Sopir truk Robinson dikatakan pingsan ketika dia menemukan mayat-mayat menumpuk di trailer yang dia bawa dari Purfleet di Grays.
 
Pria berusia 25 tahun itu berhasil menghubungi 999 tetapi ditangkap atas dugaan pembunuhan. Tetapi teman-temannya bersikeras dia tidak akan tahu bahwa dia membawa muatan manusia.


Tangan Triad


Dikhawatirkan mereka datang ke Inggris dengan bantuan dari para penyelundup manusia yang memiliki hubungan dengan gangster Triad yang kejam di Tiongkok.
 
Mereka dikatakan memikat korban dengan janji kehidupan yang lebih baik sebelum meminta bayaran ribuan pound untuk melakukan perjalanan berbahaya ke Barat dalam layanan ‘penggerak terbang’ dengan biaya GBP30.000 atau Rp541 juta.
 
Mereka biasanya diterbangkan dari wilayah Fujian di Tiongkok ke Eropa, semua membayar biaya. Mereka kemudian ditempatkan di truk barang dan didorong dalam kegelapan, tanpa makanan, ventilasi, air atau fasilitas toilet.
 
Seorang sumber, yang tidak ingin diidentifikasi, berkata: "Ini bukan kejahatan dalam budaya Tiongkok, ini adalah kesempatan. Ini adalah perjanjian antara penyelundup dan pelanggan mereka. Mereka rela, mereka tidak merasa malu melanggar hukum”.
 
"Ada kebanggaan bahwa mereka keluar dari Fujian dan memiliki kesempatan hidup yang baik dengan uang yang baik di tempat-tempat seperti Irlandia Utara, Inggris, Skotlandia di mana ada manfaat yang baik,” ucapnya.
 
"Ya, perjalanan itu sulit, tidak nyaman, dan menakutkan, tetapi pertaruhan biasanya sepadan. Peluang hidup yang baik sepadan dengan risikonya. Dalam hal ini tidak berhasil. Ada yang salah tetapi penyelundup akan beraksi lagi,” imbuh sosok yang tidak ingin disebutkan namanya itu.
 
"Tidak akan ada air mata. Di Fujian hanya ada sedikit lapangan kerja, sedikit uang atau peluang, jadi kami mendapatkannya di tempat lain. Pelanggan ini dibayar GBP200 atau Rp3,6 juta sebulan di Tiongkok dan hidup dalam kondisi yang mengerikan. Di Inggris, mereka bisa mendapatkan GBP2.000 atau Rp36 juta sebulan dalam pekerjaan tanpa tanggung jawab, mendapatkan tunjangan, menikah dan menjalani kehidupan yang layak,” jelasnya.
 
"Orang-orang yang meninggal dalam kontainer ini memiliki harapan akan masa depan di negara yang baik. Kelompok lain akan menunggu kesempatan mereka untuk naik truk sekarang di suatu tempat di Eropa. Ini tidak akan menunda mereka. Rencananya biasanya berfungsi. Penyelundup memiliki kontak di mana-mana. Mereka adalah orang-orang yang praktis, bukan emosional. Mereka telah kehilangan GBP1,2 juta dalam pendapatan ini. Jadi mereka akan mencari lagi," katanya, dikutip dari Daily Mirror, Jumat, 25 Oktober 2019.
 
Sumber itu mengklaim para imigran yang berhasil ke Barat mulai membayar kembali penyelundup begitu mereka mendapatkan pekerjaan, lebih dari tiga tahun. Jika mereka tidak dapat membayar, geng akan menekan keluarga mereka di Tiongkok untuk menyerahkan uang tunai.
 
Sumber itu berbicara ketika polisi mulai memindahkan mayat para imigran dari truk ke kamar mayat. Petugas berusaha mencari tahu apakah pengemudi Robinson, dari Portadown, Co Armagh, tahu 39 mayat di trailer ada dalam truknya.
 
Orangtuanya, Mark, 50, dan Nichola, diyakini telah terbang dari Irlandia Utara untuk mendukung putra mereka di Inggris. Petugas menggeledah rumah modern di desa terdekat Laurelvale.
Mereka juga menyerbu rumah seharga GBP300.000 dekat Markethill, di mana diyakini tersangka tinggal bersama pacarnya yang hamil. Properti ketiga di daerah itu juga digeledah.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif