Presiden baru Jerman Frank-Walter Steinmeier. (Foto: AFP)
Presiden baru Jerman Frank-Walter Steinmeier. (Foto: AFP)

Presiden Baru Jerman Sebut Erdogan Rusak Kesuksesan Turki

Willy Haryono • 22 Maret 2017 21:09
medcom.id, Berlin: Presiden baru Jerman Frank-Walter Steinmeier menggunakan pidato perdananya untuk mengingatkan Recep Tayyip Erdogan yang dinilanya berpotensi merusak segala kesuksesan yang telah dicapai Turki dalam beberapa tahun terakhir. 
 
Steinmeier, mantan Menteri Luar Negeri Jerman, mengatakan Turki juga dapat merusak hubungan diplomatik dengan menuduh Berlin menggunakan taktik Nazi dalam melarang kedatangan menteri Ankara untuk berkampanye terkait referendum.
 
"Pandangan khawatir terhadap Turki, bahwa segala yang telah dibangun negara itu selama beberapa tahun dan dekade terakhir perlahan runtuh," ucap Steinmeier dalam pidato inaugurasinya, seperti dikutip Reuters, Rabu 22 Maret 2017. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Presiden Erdogan, Anda merusak segala yang Anda, dan orang lain, telah bangun," sambung dia. 
 
"Akhiri perbandingan dengan Nazi! Jangan putuskan hubungan dengan mereka yang ingin menjalin kemitraan dengan Turki! Hormati aturan hukum dan kebebasan media serta jurnalis! dan bebaskan Deniz Yucel," tegas Steinmeier, merujuk pada seorang jurnalis berdarah Jerman-Turki.
 
Menurut Steinmeier, Turki adalah negara berbeda tiga dekade lalu karena ekonomi yang lebih kuat, adanya reformasi dan berkembangnya persahabatan dengan Eropa.
 
"Kami merasakan hubungan istimewa dari jalan yang diambil Turki (dua dekade silam), dan juga karena banyak orang berdarah Turki yang tinggal dan bekerja di Jerman," ungkap Steinmeier. 
 
Ketegangan Turki dengan Jerman dan Belanda dimulai saat Erdogan mengecam larangan acara kampanye referendum di kedua negara tersebut. 
 
Ia kesal karena Jerman dan Belanda melarang kedatangan dua menterinya terkait referendum. Ratusan ribu orang asal Turki tinggal di kedua negara tersebut, dan Ankara ingin mendapatkan dukungan dari mereka.
 
Referendum pada April mendatang akan menentukan apakah kekuasaan seorang presiden di Turki diperluas atau tidak. 
 
Erdogan menuduh Belanda sebagai "sisa-sisa Nazi" dan juga menuding Merkel mendukung grup militan Kurdi PKK. 
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif