Iran Bergolak usai AS Mundur dari Perjanjian Nuklir
Unjuk rasa terjadi di Teheran, Iran, 25 Juni 2018. (Foto: AFP/ATTA KENARE)
Helsinki: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Iran dilanda gelombang protes berskala nasional usai AS mundur dari perjanjian nuklir 2015. Washington mendukung unjuk rasa tersebut.

"Iran dilanda gelombang protes di semua kotanya," ujar Trump kepada Fox News, seperti dikutip dari AFP, Senin 16 Juli 2018.

Diwawancara usai pertemuannya dengan Presiden Vladimir Putin di Helsinki, Trump mengatakan Rusia masih mendukung perjanjian Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) karena memang masih berbisnis dengan Teheran.


"Inflasi (Iran) merajalela, terus melambung. Rezim Iran tidak ingin rakyatnya tahu bahwa mereka didukung AS 100 persen,' ungkap Trump.

"Terjadi protes besar di seantero negeri, mungkin terbesar dari yang pernah terjadi sebelumnya. Semua itu terjadi sejak saya mundur dari perjanjian," lanjut dia.

Meski ditentang sejumlah negara sekutu, Trump menarik diri dari JCPOA pada Mei lalu. JCPOA disepakati Iran dan sejumlah negara besar termasuk AS pada 2015.

Usai menarik diri, Trump menjatuhkan kembali sanksi ekonomi kepada Iran yang sebelumnya dibekukan berkat JCPOA. Sanksi ini membuat banyak perusahaan multinasional tidak dapat berbisnis di Iran.

Iran mengecam langkah AS, dan menilai langkah Trump membuat Washington terisolasi di komunitas global.

"Logika ilegal AS tidak didukung satu pun organisasi internasional," ujar Presiden Iran Hassan Rouhani pada akhir pekan kemarin.

Inflasi di Iran melambung tinggi sejak pengunduran diri AS dari JCPOA. Saat ini, nilai mata uang Iran terhadap dolar AS turun 50 persen, yang kemudian memicu unjuk rasa sejumlah pedagang di Grand Bazaar Teheran.

Sejumlah unjuk rasa lainnya juga terjadi di Iran dalam beberapa pekan terakhir, meski skalanya tidak terlalu besar.



(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id