Dituduh Sembunyikan Penyerang Paris, Pemilik Penginapan Dibebaskan

Arpan Rahman 15 Februari 2018 17:47 WIB
teror di prancis
Dituduh Sembunyikan Penyerang Paris, Pemilik Penginapan Dibebaskan
Jawad Bendaoud dinyatakan tidak bersalah terkait serangan teror di Paris 2015 (Foto: AFP).
Paris: Pengadilan Prancis telah membebaskan seorang pria yang dituduh menyembunyikan para teroris sesudah mereka melakukan serangan Paris November 2015. Putusan mengejutkan ini mengakhiri persidangan pidana pertama atas serangan terorisme yang paling mematikan di masa damai Prancis.
 
 
Hakim ketua mengatakan, pengadilan Paris menemukan Jawad Bendaoud, 31, tidak bersalah karena menyediakan penginapan bagi dua penyerang dan membantu mereka bersembunyi dari polisi saat mereka menjadi penjahat paling dicari di Prancis.
 
Menunjuk Bendaoud pada sebuah putusan pengadilan, pada Rabu, Isabelle Prevost-Desprez mengatakan bahwa bukti tersebut "tidak cukup untuk membuktikan kesalahan Anda".
 
Bendaoud, yang berdiri di balik kotak kaca, mencium jauh ke publik dan pengacaranya saat mendengar pembebasannya. Dia menghadapi hukuman enam tahun penjara jika dinyatakan bersalah karena menyimpan teroris.
 
Bendaoud membantah mengenal identitas orang-orang yang dia sewakan sebuah flat kecil di pinggiran utara Paris, Saint-Denis. Salah satu dari dua orang yang dia lindungi adalah Abdelhamid Abaaoud, otak yang dicurigai melakukan serangan pada 13 November 2015.
 
Pengadilan tersebut juga menjatuhkan putusan dan menghukum dua terdakwa lainnya pada Rabu.
 
Mohamed Soumah, dituduh bertindak sebagai perantara dengan Bendaoud demi mendapatkan penginapan bagi dua buronan tersebut, dihukum lima tahun penjara. Youssef Ait-Boulahcen, dituduh mengetahui keberadaan para ekstremis dan tidak memberi tahu pihak berwenang, dijatuhi hukuman tiga tahun ditambah satu tahun penangguhan. Keduanya menolak tuduhan.
 
Bendaoud sudah dipenjara selama 27 bulan menunggu persidangannya. Tidak jelas kapan dia akan dibebaskan.
 
Kelompok militan Islamic State (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan terkoordinasi yang menewaskan 130 orang.
 
Dari sembilan orang yang langsung melakukan serangan tersebut, tujuh meninggal di lokasi kejadian. Yang lainnya terbunuh lima hari kemudian saat polisi mengepung flat Saint-Denis.
 
Selama persidangan, Bendaoud mengatakan bahwa dia menyewakan flat itu bagi kedua orang tersebut hanya untuk mendapat uang. Dia mengklaim bahwa dia mengira pada saat itu semua ekstrimis sudah tewas dalam serangan.
 
Bendaoud juga berkata kepada pengadilan bahwa dia tidak ada hubungannya dengan teroris atau ideologi militan karena: "Saya mencintai kehidupan, wanita, anak laki-laki, dan ibu saya terlalu besar," seperti dilansir Guardian, Kamis 15 Februari 2018.
 
Penyidik ??tidak menemukan berkas ekstremis atau jejak situs jihad di komputer dan telepon yang dipakai Bendaoud. Tidak ada yang menunjukkan kemungkinan "radikalisasi".
 
Bendaoud mendadak terkenal dalam wawancara TV saat polisi menggrebek flat tersebut. Dia mendekati perimeter keamanan dan berbicara kepada wartawan untuk menyatakan dia tidak bersalah.
 
"Saya tidak sadar mereka adalah teroris. Saya diberitahu untuk menyewakan flat kepada dua orang selama tiga hari, saya membantu dengan normal," katanya kepada seorang reporter sebelum seorang petugas polisi menahannya saat masih bicara di depan kamera.
 
Sementara persidangan tidak secara langsung menangani serangan tersebut, sekitar 500 korban serangan dan keluarga mereka bergabung dalam aksi hukum sebagai pihak sipil dalam kasus tersebut, atau terdaftar sebagai penggugat.




(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id