Ribuan orang berunjuk rasa di Prancis dalam menentang tingginya angka kekerasan domestik terhadap wanita, Sabtu 23 November 2019..  (Foto: Alain Jocard/AFP via Getty Images)
Ribuan orang berunjuk rasa di Prancis dalam menentang tingginya angka kekerasan domestik terhadap wanita, Sabtu 23 November 2019.. (Foto: Alain Jocard/AFP via Getty Images)

Ribuan Warga Prancis Kecam Kekerasan Gender

Internasional prancis kekerasan dalam rumah tangga
Arpan Rahman • 24 November 2019 17:10
Paris: Ribuan orang berunjuk rasa di Prancis dalam menentang tingginya angka kekerasan domestik terhadap wanita, Sabtu 23 November 2019. Presiden Emmanuel Macron melabeli kondisi semacam ini sebagai sebuah "aib Prancis."
 
Aksi demonstrasi terbesar berlangsung di Paris. Jalanan ibu kota berubah menjadi lautan warna ungu dan putih dari pakaian para pengunjuk rasa. Mereka semua membawa spanduk dan juga bendera, yang menyerukan agar kekerasan terhadap wanita atau femicide segera ditindak tegas pemerintah.
 
Total 116 perempuan di Prancis tewas dibunuh sepanjang tahun ini. Menurut investigasi media AFP, pembunuhan ratusan wanita itu dilakukan oleh suami, kekasih atau mantan kekasih mereka. Sementara data dari grup bernama "Femicides by Companions or Ex" mencatat adanya 137 kematian perempuan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Secara rata-rata, satu perempuan di Prancis tewas dibunuh per tiga hari. Angka rata-rata itu bersandingan dengan total 220 ribu kasus kekerasan dalam rumah tangga di Prancis pada setiap tahunnya.
 
Meski memiliki catatan baik dalam hal kesetaraan gender dan penegakan hak wanita, Prancis memiliki angka rata-rata tertinggi dalam kasus KDRT di Eropa. Sejumlah pihak menilai tingginya kasus KDRT berujung kematian di Prancis sebagiannya diakibatkan lambannya respons polisi.
 
Unjuk rasa menentang kekerasan gender di Prancis berlangsung di Hari Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita Internasional PBB.
 
Selain di Paris, 30 aksi protes serupa juga berlangsung di beberapa wilayah di Prancis. Gelombang protes ini melibatkan hampir 70 organisasi, partai politik, serikat dan asosiasi.
 
Di Paris, sejumlah bintang film dan serial televisi ikut serta dalam unjuk rasa. Aksi massa dimulai dari sekitar gedung opera Paris, dengan sejumlah pedemo membawa plakat yang memperlihatkan gambar kekerasan terhadap wanita.
 
Polisi di seantero Eropa biasanya menganggap KDRT sebagai urusan pribadi. Hal ini membuat banyak aparat gagal menyelamatkan korban di momen-momen krusial. Peneliti Uni Eropa Albon Dearing menyebut Prancis sebagai negara terburuk dalam urusan KDRT dari seluruh negara di Benua Biru.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif