PM Inggris Boris Johnson bersikeras tinggalkan Uni Eropa meskipun tidak ada kesepakatan. Foto: AFP
PM Inggris Boris Johnson bersikeras tinggalkan Uni Eropa meskipun tidak ada kesepakatan. Foto: AFP

Prancis Minta Uni Eropa Tenang Menyikapi Inggris

Internasional uni eropa brexit
Arpan Rahman • 13 September 2019 16:03
Paris: Kepanikan menyebar di markas Uni Eropa (UE) Brussels, Belgia bahwa Inggris dapat meninggalkan UE tanpa kesepakatan pada 31 Oktober. Menteri Urusan Eropa Prancis mendesak UE untuk tenang.
 
Amelie de Montchalin memperingatkan anggota UE tentang meningkatnya ketegangan jika Inggris meninggalkan blok itu tanpa kesepakatan. Sementara hubungan baik harus tetap terjalin antara Paris dan London tidak peduli apa hasil dari proses Brexit.
 
"Kita bertanggung jawab untuk tetap tenang, karena kita akan memiliki hubungan di masa depan," dengan Inggris setelah Brexit, De Montchalin berkata kepada radio France Info. Ia bersikeras bahwa "bukan pekerjaannya, atau perannya," untuk mengomentari kehidupan politik Inggris.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita berada pada saat yang sangat penting," katanya, ketika diminta untuk mengomentari drama Brexit yang sedang berlangsung dan meningkatnya kekhawatiran Inggris dapat meninggalkan blok itu bulan depan tanpa kesepakatan.
 
Perpisahan yang akan datang menimbulkan "tantangan besar" yang belum terselesaikan, dia memperingatkan.
 
"Kita tidak bisa bermain-main dengan warga, kita tidak bisa bermain-main dengan bisnis, dan karenanya kita harus benar-benar mengatur diri kita sendiri untuk memastikan perlindungan dan stabilitas keluarga, warga negara Inggris di Prancis dan warga negara Eropa dan Prancis di Inggris," ujar de Montchalin disitir dari Daily Express, Jumat 13 September 2019.
 
"Kami memiliki logistik, petugas bea cukai, layanan kesehatan hewan, tetapi masih ada banyak pertanyaan di pihak Inggris yang masih belum terjawab. Kami membutuhkan mereka untuk memikul tanggung jawab mereka dan memberi tahu kami apa yang mereka inginkan dan bukan hanya apa yang tidak mereka inginkan,” imbuhnya.
 
"Dalam diplomasi, selalu lebih baik untuk dapat berbicara dengan semua orang," tuturnya menambahkan bahwa dia berbicara dengan Perdana Menteri Boris Johnson "hampir setiap hari" untuk "memastikan dialog".
 
Prancis telah berulang kali berperan sebagai garis keras dalam negosiasi Brexit. Pada Minggu, muncul tanda setelah Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian mengatakan bahwa, sebagaimana keadaannya, UE tidak akan memberikan perpanjangan kepada Britania melebihi 31 Oktober.
 
"Ini sangat mengkhawatirkan. Inggris harus memberi tahu kami apa yang mereka inginkan," katanya kepada radio Europe 1.
 
"Kami tidak akan melakukan ini setiap tiga bulan," tegas Le Drian.
 
Setelah tiga tahun negosiasi, masih belum jelas tentang ketentuan apa yang akan ditinggalkan Inggris, pilihannya mulai dari kesepakatan menit terakhir atau penundaan hingga perpisahan tanpa kesepakatan yang berantakan.
 
Johnson menegaskan Inggris akan pergi tepat waktu, sepakat atau tidak ada kesepakatan. Tetapi anggota parlemen oposisi yang mengusung agenda parlemen pekan lalu telah mengesahkan undang-undang yang memerintahkannya untuk mencari penundaan kecuali jika dia mencapai kesepakatan dengan blok tersebut.
 
Meninggalkan blok Brussels dengan suatu kesepakatan akan memungkinkan Inggris mempertahankan hubungan perdagangan yang ada selama masa transisi. Sementara itu juga menghancurkan hubungan baru dengan Uni Eropa.
 
Tanpa kesepakatan seperti itu, Inggris akan dilanda segudang pembatasan perdagangan.
 
Pengusung Brexit, bagaimanapun, mengatakan bahwa meskipun mungkin ada beberapa gangguan dari kesepakatan, itu tidak akan terlalu parah, dan bahwa Inggris akan mendapat manfaat dalam jangka panjang.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif