Para pemimpin global mendiskusikan konflik Libya di Berlin, Jerman, 19 Januari 2020. (Foto: AFP/Sputnik/ALEKSEY NIKOLSKYI)
Para pemimpin global mendiskusikan konflik Libya di Berlin, Jerman, 19 Januari 2020. (Foto: AFP/Sputnik/ALEKSEY NIKOLSKYI)

Kekuatan Global Sepakat Akhiri Intervensi Konflik Libya

Internasional konflik libya
Willy Haryono • 20 Januari 2020 10:27
Berlin: Sejumlah pemimpin global sepakat mengakhiri segala bentuk intervensi terhadap konflik Libya. Mereka juga berjanji menegakkan kebijakan embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diterapkan terhadap Libya.
 
Presiden Rusia, Turki dan Prancis merupakan tiga kepala negara yang hadir dalam dialog damai konflik Libya di Berlin, Minggu 19 Januari 2020. Ketiganya sepakat mengakhiri segala bentuk intervensi di Libya, baik melalui penyediaan senjata, pasukan atau pendanaan.
 
Namun pertemuan kali kedua di ibu kota Jerman ini gagal menghadirkan "dialog serius" antar kubu bertikai Libya. Kepala pemerintahan resmi Libya Fayez al-Sarraj dan jenderal Khalifa Haftar sama-sama tidak bertatap muka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pertemuan perdana di Moskow, Sarraj dan Haftar juga tidak bertemu sama sekali.
 
"Situasi di Libya sangat parah. Memastikan sebuah gencatan senjata akan dihormati kubu bertikai bukan perkara mudah," kata Kanselir Jerman Angela Merkel yang menjadi tuan rumah pertemuan, dikutip dari AFP.
 
"Tapi saya berharap konferensi ini dapat memberikan kesempatan untuk mempertahankan gencatan senjata," sambung dia. Pada Minggu 12 Januari, dua kubu bertikai di Libya -- GNA dan LNA -- mendeklarasikan gencatan senjata, namun hingga kini belum menyepakatinya secara tertulis.
 
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menyebut "masih ada beberapa pertanyaan mengenai bagaimana cara mempertahankan komitmen gencatan senjata secara baik dan efektif."
 
Kendati begitu, Pompeo optimistis dua pertemuan di Moskow dan Berlin dapat mengurangi intensitas pertempuran di Libya.
 
Libya dilanda perang antar sejumlah faksi bersenjata sejak tergulingnya diktator Moamer Kadhafi pada 2011. Sementara dalam konflik terbaru, LNA yang dipimpin Haftar sudah berusaha merebut Tripoli dari tangan GNA sejak April tahun lalu.
 
Pertempuran GNA dan LNA telah menewaskan lebih dari 280 warga sipil dan 2.000 prajurit serta membuat puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif