PM Libya Fayez al-Sarraj (kiri) dan kepala LNA Jenderal Khalifa Haftar. (Foto: AFP/FETHI BELAID)
PM Libya Fayez al-Sarraj (kiri) dan kepala LNA Jenderal Khalifa Haftar. (Foto: AFP/FETHI BELAID)

Kubu Bertikai Libya akan Tandatangani Gencatan Senjata

Internasional konflik libya
Willy Haryono • 13 Januari 2020 10:42
Moskow: Dua kubu bertikai konflik Libya dijadwalkan menandatangani perjanjian gencatan senjata di Moskow, Rusia, hari ini, Senin 13 Januari 2020. Gencatan senjata telah diberlakukan di Libya akhir pekan kemarin, menghentikan pertempuran yang telah berlangsung selama lebih kurang sembilan bulan.
 
Libya, negara kaya sumber daya minyak di Afrika Utara, telah dilanda konflik berdarah sejak tergulingnya diktator Moamer Kadhafi pada 2011. Konflik yang terjadi setelah itu melibatkan banyak kekuatan asing.
 
Pemerintahan Perjanjian Nasional Libya (GNA) yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa telah diserang Pasukan Nasional Libya (LNA) di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar sejak April 2019. Senin pekan kemarin, LNA telah berhasil menguasai sebagian besar kota Sirte.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Senin ini, dilansir dari AFP, kepala GNA Fayez al-Sarraj menyerukan kepada semua warga Libya untuk "membuka lembaran baru, menolak perselisihan dan bersama-sama berusaha bergerak menuju stabilitas dan perdamaian."
 
Satu hari sebelumnya, gencatan senjata di Libya mulai diberlakukan pada Minggu dini hari. Gencatan senjata tersebut diserukan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan juga Presiden Rusia Vladimir Putin.
 
Sejak dimulainya serangan LNA ke arah ibu kota Tripoli, lebih dari 280 warga sipil dan 2.000 milisi tewas. Menurut data PBB, konflik antara LNA dan GNA juga telah membuat 146 ribu warga Libya kehilangan tempat tinggal.
 
Gencatan senjata akhirnya terwujud berkat usaha keras Turki dan Rusia di bidang diplomatik. Keduanya mengklaim sebagai pemain kunci dalam konflik Libya.
 
Kepala Dewan Agung Libya Khaled al-Mechri mengatakan, penandatanganan perjanjian gencatan senjata di Moskow akan membuka jalan menuju dihidupkannya kembali proses politik.
 
Lev Dengov, perwakilan Rusia di Libya, mengatakan bahwa GNA dan LNA harus dapat menentukan "masa depan Libya, termasuk kemungkinan menandatangani perjanjian gencatan senjata beserta detail-detailnya."
 
Dengov mengaku tidak tahu mengenai apakah Sarraj dan Haftar akan bertemu secara langsung di Moskow. Sarraj akan berada di Moskow bersama Mechri, sementara Haftar ditemani juru bicara parlemen, Aguila Salah.
 
Menurut media Ria Novosti, Haftar saat ini sudah tiba di Moskow. Sementara Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dan Menhan Hulusi Akar juga dijadwalkan tiba di Moskow hari ini.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif