"Bapak Presiden berusaha menciptakan kediktatoran konstitusional dengan mengumpulkan semua kekuasaan untuk dirinya," ucap Demirtas di markas HDP di Ankara, seperti dikutip AFP, Senin (6/4/2015).
Erdogan, yang terpilih sebagai presiden tahun lalu, dituding ingin membangun ulang konstitusi negara demi menciptakan gaya kepresidenan eksekutif.
"Konstitusi di Turki saat ini untuk sementara sedang terhenti," klaim Demirtas.
"Turki akan menghadapi tantangan besar jika seseorang yang tidak mengenai konstitusi, membangun sistem kekuasaan satu orang di bahwa sistem presidensial di kemudian hari," tutup dia.
Dalam pemilihan umum pada Juni lalu, Erdogan meminta pendukungnya memilih 400 pejabat partainya. Dengan begitu, partai AKP milik Erdogan dapat mengubah konstitusi.
Namun, AKP juga membutuhkan dukungan dari kaum Kurdi, yang diperkirakan berjumlah 20 persen dari total populasi Turki.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News