Ketua tim pakar WHO untuk Tiongkok Bruce Aylward memperlihatkan grafik virus korona COVID-19 di Jenewa, Swiss, 25 Februari 2020. (Foto: AFP/FABRICE COFFRINI)
Ketua tim pakar WHO untuk Tiongkok Bruce Aylward memperlihatkan grafik virus korona COVID-19 di Jenewa, Swiss, 25 Februari 2020. (Foto: AFP/FABRICE COFFRINI)

WHO: Beberapa Negara Tidak Siap Tangani Korona

Internasional Virus Korona Coronavirus virus corona
Willy Haryono • 26 Februari 2020 07:50
Jenewa: Virus korona COVID-19 terus bermunculan di banyak negara, setelah pertama kali terdeteksi di Tiongkok pada akhir Desember 2019. Angka kematian orang terjangkit korona di level global telah melampaui 2.700, dengan total kasus mencapai 80 ribu lebih per hari ini, Rabu 26 Februari 2020.
 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memuji berbagai langkah Tiongkok dalam menekan angka penyebaran, yang terlihat dari terjadinya tren penurunan jumlah kematian dan kasus korona. Kini, WHO khawatir terhadap kasus korona di luar Tiongkok.
 
"Beberapa negara tidak siap menangani wabah (korona)," ucap Bruce Aylward, kepala dari tim pakar WHO yang telah dikirim ke Tiongkok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk menangani (wabah) ini dalam skala besar, semua pihak harus siap, dan harus dilakukan dengan cepat," kata Aylward di markas WHO di Jenewa, seperti dikutip dari AFP.
 
Sebelumnya, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa wabah korona di Tiongkok telah melewati puncaknya. Namun, senada dengan Aylward, ia juga khawatir terhadap kemunculan sejumlah kasus korona di luar Tiongkok.
 
Tedros khawatir virus korona COVID-19 dapat menjadi pandemik global, dan menyerukan seluruh negara di dunia untuk mempersiapkan diri.
 
Senin kemarin, Afghanistan, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Oman telah mengumumkan kasus perdana korona COVID-19. Satu hari setelahnya, Austria, Kroasia, Swiss dan juga Aljazair masing-masing mengumumkan kasus perdana korona.
 
Korea Selatan menjadi sorotan di tengah wabah ini, dengan jumlah kasus korona yang mulai mendekati angka 1.000 dengan 10 kematian.
 
Italia dan Iran juga menjadi sorotan, karena jumlah kematian akibat korona menjadi yang tertinggi di luar Tiongkok.
 
Untuk Iran, sejumlah staf medismengeluhkan minimnya peralatan dalam menangani virus korona di rumah sakit.
 
"Kami berada di garis terdepan dalam merawat orang-orang yang diduga terinfeksi, namun kami tidak memiliki pakaian atau masker pelindung standar," kata seorang perawat di kota Rasht.
 
"Kami hanya memakai pakaian untuk operasi, kami tahu itu tidak akan efektif. Kami juga tidak memiliki cairan desinfektan dan pembersih yang diperlukan," imbuhnya.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif