Nasib Perdana Menteri Inggris Boris Johnson ditentukan dalam pemilu. Foto: AFP
Nasib Perdana Menteri Inggris Boris Johnson ditentukan dalam pemilu. Foto: AFP

Warga Inggris Memilih di Pemilu Brexit

Internasional politik inggris inggris brexit
Arpan Rahman • 12 Desember 2019 13:08
London: Warga Inggris menuju ke tempat pemungutan suara pada Kamis untuk menentukan masa depan segera Brexit. Pemilu ini digambarkan sebagai yang paling penting dalam satu generasi.
 
Lebih dari 4.000 tempat pemungutan suara di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Termasuk sebuah kincir angin, beberapa pub, salon rambut, dan toko chip, buka pukul 07.00 untuk hari pemungutan suara hingga pukul 22.00.
 
Semua mata akan tertuju pada cuaca musim dingin, dengan prakiraan suhu yang hampir beku, hujan dan bahkan salju yang dapat memengaruhi jumlah pemilih pada pemilu Desember perdana dalam hampir satu abad.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Diperebutkan 650 kursi di parlemen Inggris, yang telah menemui jalan buntu sejak referendum tahun 2016 tentang keanggotaan Uni Eropa yang menghasilkan mayoritas suara untuk meninggalkannya.
 
Perdana Menteri Boris Johnson, menggantikan Theresa May pada Juli setelah May tidak dapat meminta parlemen menyetujui persetujuan perpisahannya di UE, berharap mendapatkan mandat dan juga mayoritas.
 
Johnson dari Partai Konservatif hanya membutuhkan sembilan kursi lagi untuk mayoritas, yang akan memungkinkan dia mendorong kesepakatan Brexit tersendiri dengan Brussels dan membawa Inggris keluar dari blok pada akhir Januari.
 
Johnson mengatakan Kamis adalah kesempatan untuk mengakhiri lebih dari tiga tahun kebuntuan dan ketidakpastian politik.
 
"Bayangkan betapa indahnya duduk makan malam kalkun Natal dengan Brexit yang diputuskan," katanya dalam pesan terakhir kepada para pemilih.

Hadangan Corbyn


Pihak yang hendak menghentikan Johnson adalah oposisi utama Partai Buruh. Kemenangan akan menjadikan pemimpinnya yang berusia 70 tahun, Jeremy Corbyn, perdana menteri pertama Partai Buruh sejak Gordon Brown pada 2010 dan perdana menteri pertama tertua sejak Viscount Palmerston pada 1855.
 
Corbyn mengusulkan untuk menegosiasikan kembali persyaratan keluar yang lebih lunak dengan Brussels dalam waktu tiga bulan dan menempatkannya ke referendum baru, di samping opsi untuk tetap berada di blok beranggota 27 negara, setelah kampanye tiga bulan.
 
Perpanjangan hak pilih akan memungkinkan jutaan warga negara Uni Eropa di Inggris untuk memberikan suara dalam referendum.
 
Corbyn mengatakan Inggris berada di persimpangan jalan dan pemilu itu "benar-benar bersejarah". "Pilihlah harapan. Pilih perubahan nyata," katanya, dikutip dari AFP, Kamis 12 Desember 2019.
 
Pemilu ini menampilkan 3.321 kandidat, dari yang berusia 18 tahun hingga oktogenarian, di daerah pemilihan yang meliputi Shetland di lepas timur laut Skotlandia, hingga Kepulauan Scilly yang berjarak lebih dari 1.200 kilometer dari Cornwall, di barat daya Inggris.
 
Indikasi pertama dari hasil keseluruhan akan muncul dalam jajak pendapat yang keluar pada pukul 22.00. Hasil aktual pertama diperkirakan sekitar pukul 23.00. Sisanya akan didapatkan dalam semalam.
 
Johnson telah menekankan pesannya 'Selesaikan Brexit' dengan latar belakang kelelahan pemilih pada pemilu, yang ketiga dalam waktu kurang dari lima tahun, dan proses Brexit yang berliku-liku.
 
Tetapi Uni Eropa sendiri sudah mengindikasikan peluang untuk mendapatkan kesepakatan perdagangan yang komprehensif sebelum batas waktu Desember 2020 tidak realistis.
 
Lagi pula akan meningkatkan prospek Inggris menghadapi skenario ‘tidak ada kesepakatan’, menjerumuskan bisnis dan ekonomi Inggris ke dalam ketidakpastian baru.
 
Corbyn, sementara itu, harus menepis keraguan tentang sikap Brexit yang netral, dan klaim anti-Semitisme di dalam Partai Buruh.
 
Pertanyaan juga telah diajukan tentang biaya program radikal kiri untuk investasi sektor publik besar-besaran dan renasionalisasi beberapa sektor utama.
 
Dia telah memposisikan Buruh sebagai satu-satunya pembela sistem perawatan kesehatan negara yang diidamkan di Inggris yang menurutnya ingin dijual oleh Johnson dalam kesepakatan dagang 'beracun' pascaBrexit dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Suara mayoritas


Lembaga jajak pendapat YouGov bulan lalu meramalkan bahwa Konservatif Johnson akan memiliki mayoritas 68 kursi yang nyaman tetapi pada Selasa menunjukkan bahwa proyeksi dipangkas menjadi 28.
 
Brexit telah mengubah kesetiaan politik tradisional dan hasil kejutan bisa keluar, dengan pemungutan suara taktis diharapkan sepanjang Keluar/Tetap, daripada garis partai.
 
Partai Buruh menyebut "Tembok Merah" di Inggris utara, yang sebagian besar memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, sedang diawasi ketat keuntungan Konservatif, seperti juga Wales utara, benteng tradisional lain dari sayap kiri.
 
"Ada lebih banyak volatilitas daripada yang pernah ada sebelumnya," kata Chris Curtis, manajer riset politik di YouGov, menunjuk pada peningkatan jumlah pemilih.
 
"Pada tahap ini, hasil yang paling mungkin adalah mayoritas Konservatif," katanya kepada AFP.
 
"Namun, parlemen yang tersandera adalah mungkin tetapi juga mayoritas Konservatif yang jauh lebih besar bukanlah sesuatu yang bisa kita abaikan," pungkasnya.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif