Kebakaran yang melanda tempat penampungan pengungsi di Yunani. Foto: AFP
Kebakaran yang melanda tempat penampungan pengungsi di Yunani. Foto: AFP

Kebakaran Landa Penampungan Pengungsi Terbesar di Yunani

Internasional kebakaran yunani
Fajar Nugraha • 10 September 2020 06:43
Moria: Kebakaran terjadi di kamp pengungsi terbesar di Yunani, Moria. Petugas pemadam kebakaran mencoba untuk menahan api sehari setelah ribuan pengungsi melarikan diri dari api di penampungan itu.
 
Api merebak di tempat penampungan pada Rabu 9 September malam di kamp pengungsi terbesar Yunani. Sehari sebelumnya kobaran api memaksa ribuan pengungsi untuk meninggalkan fasilitas tersebut. Kebakaran meletus di beberapa bagian kamp yang belum terbakar pada Selasa malam.
 
Otoritas Yunani telah meluncurkan penyelidikan untuk menentukan siapa yang memulai kobaran api setelah laporan media lokal menyarankan para migran melakukannya untuk memprotes langkah-langkah penguncian yang diberlakukan untuk menahan wabah virus korona di kamp.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menteri Migrasi Yunani Notis Mitarachi mendukung tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa meskipun penyebab awal kebakaran masih belum diketahui, "yang pasti adalah bahwa kebakaran tersebut dimulai karena karantina oleh pencari suaka di fasilitas tersebut."
 
"Contoh perilaku melanggar hukum seperti yang kami alami kemarin tidak akan dibiarkan begitu saja," kata Mitarachi, seperti dikutip Deutsche Welle, Kamis 10 September 2020.
 
"Perilaku seperti itu tidak dapat diterima, dan juga penghormatan terhadap hukum dan ketertiban merupakan prasyarat yang diperlukan untuk proses suaka,” imbuhnya.
 
Tetapi para kritikus juga menuding otoritas Yunani serta Uni Eropa karena gagal menemukan solusi berkelanjutan untuk menangani fasilitas migrasi Yunani yang terlalu padat. Sebelum kebakaran, kamp pengungsi Moria menampung lebih dari 12.000 orang, empat kali lebih banyak dari kapasitas maksimum yang dimaksudkan.

 
Erik Marquardt, Anggota Parlemen Eropa (MEP) dari Partai Hijau Jerman, mengatakan kepada DW bahwa kebakaran tersebut mewakili "bencana politik" bagi Eropa karena gagal mengelola krisis migrasi 2015 dengan lebih baik.
 
"Situasi yang kami hadapi adalah masalah besar. Malapetaka seperti ini dapat terjadi setiap saat. Kita seharusnya merasa malu untuk itu,” tegas Marquardt.
 
Marquardt meminta pemerintah Jerman untuk mengatasi masalah mendasar di kamp-kamp serupa, mengatakan mereka harus memikul beban untuk merelokasi beberapa dari mereka yang terlantar akibat kebakaran ke Jerman.
 
"Berapa banyak lagi penderitaan yang dibutuhkan untuk membuat semua pemimpin nasional bertindak, membuat Komisi Eropa bertindak dan berkomitmen untuk merelokasi orang-orang ini dari kamp-kamp ini, jauh dari situasi yang mengerikan ini?,” ucap Damian Boeselager, anggota parlemen Jerman lainnya, mengatakan kepada DW.

Jerman menawarkan dukungan


Namun, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan bahwa pemerintah Jerman telah menghubungi pihak berwenang Yunani dan menawarkan dukungan.
 
"Kami tidak akan meninggalkan Yunani sendirian dengan situasi ini - dan yang terpenting - kami tidak akan meninggalkan orang-orang di kamp ini sendirian," kata Maas.
 
"Saya percaya bahwa Uni Eropa secara keseluruhan memiliki tanggung jawab,” imbuhnya.
 
Tokoh Eropa lainnya mendukung seruan untuk pendekatan Eropa terhadap migrasi tidak teratur.
 
"Ini adalah bom waktu," kata Jan Egeland, yang memimpin Dewan Pengungsi Norwegia kepada DW.
 
"Sekarang sudah tidak berlaku dan mudah-mudahan ini adalah panggilan bangun yang dibutuhkan para pemimpin di ibu kota Eropa,” pungkasnya.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif