Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. (Dave Chan / AFP)
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. (Dave Chan / AFP)

PM Kanada Terkejut atas Penemuan Tulang Belulang 215 Anak-Anak

Internasional penemuan jenazah kanada Justin Trudeau
Willy Haryono • 01 Juni 2021 11:36
Ottawa: Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengaku sangat terkejut atas penemuan tulang belulang 215 anak-anak di lokasi bekas tempat berdirinya sebuah sekolah untuk suku pribumi. Pernyataan Trudeau disampaikan saat sejumlah pemimpin suku pribumi Kanada menyerukan pemeriksaan semua lokasi semacam itu.
 
Chief Rosanne Casimir dari kelompok etnis Tk'emlúps te Secwepemc mengatakan bahwa tulang belulang itu ditemukan akhir pekan kemarin dengan menggunakan peralatan radar canggih yang mampu menembus perut Bumi.
 
Tulang belulang 215 anak-anak itu ditemukan di sebuah situs bekas berdirinya Sekolah Hunian Kamloops India.
 
"Sebagai perdana menteri, saya begitu terkejut dan terpukul atas kebijakan memalukan yang mencuri anak-anak suku pribumi dari tempat tinggal mereka," kata Trudeau, dilansir dari laman The Week pada Selasa, 1 Juni 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nahasnya, penemuan kemarin itu bukanlah sebuah pengecualian dan juga bukan insiden terisolasi. Kami harus mengakui kebenaran tersebut," lanjutnya.
 
PM Trudeau meminta semua warga untuk menerima kenyataan pahit ini, bahwa di masa lalu, peristiwa kekerasan yang menimpa anak-anak suku pribumi memang terjadi di sejumlah wilayah Kanada.
 
Pemerintah Kanada telah meminta maaf mengenai tragedi semacam itu melalui parlemen di tahun 2008. Kala itu, Kanada mengakui bahwa kekerasan fisik dan seksual memang terjadi di sejumlah sekolah suku pribumi di masa lalu.
 
Baca:  Tulang Belulang 215 Anak-Anak Ditemukan di Bekas Sekolah Kanada
 
Dari 1883 hingga 1996, hampir 150 ribu anak-anak pribumi di Kanada dipisahkan dari keluarga mereka, sebagian dilakukan secara paksa. Anak-anak itu kemudian dikirim ke sekolah yang didanai pemerintah atau dijalankan gereja dalam upaya mengasimilasi mereka.
 
Di sekolah-sekolah itu, banyak anak menghadapi penelantaran serta penyiksaan fisik serta seksual. Selama 'pembelajaran' di sekolah, anak-anak pribumi dilarang menggunakan bahasa atau budaya mereka.
 
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada menyimpulkan dalam laporan 2015 bahwa apa yang terjadi di sekolah-sekolah itu dapat dikategorikan sebagai "genosida kebudayaan."
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif