Jubir kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin./AFP
Jubir kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin./AFP

Turki Siap Jadi Pengurai Ketegangan Rusia-Ukraina

Marcheilla Ariesta • 19 Januari 2022 20:56
Ankara: Juru bicara kepresidenan Turki, Ibrahim Kalin mengatakan, Ankara bersedia berkontribusi dalam membantu mengurai ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Kalin mengatakan, ada banyak kekhawatiran yang ditimbulkan akibat ketegangan ini.
 
"Tetapi pertama-tama, izinkan saya menyatakan dengan sangat jelas bahwa kami tidak ingin melihat aksi militer, konfrontasi atau perang apa pun di Ukraina, atau antara Rusia dan Ukraina," katanya, dilansir dari TRT World, Rabu, 19 Januari 2022.
 
Hal ini menunjukkan bahwa Turki sepenuhnya mendukung integritas teritorial, kedaulatan politik dan kohesi sosial Ukraina. "Kami akan memberitahu kedua belah pihak, baik Ukraina dan Rusia, untuk menahan diri dari segala jenis keterlibatan militer," lanjutnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menggarisbawahi, dialog antara Barat dan Rusia seharusnya sudah dimulai sejak lama. Namun, pertemuan Dewan Rusia dan NATO terganggu dengan pencaplokan ilegal di Krimea.
 
"Ukraina telah membayar harga dengan kehilangan Krimea, aneksasi ilegal Krimea, yang kita semua kecam dan tidak terima," lanjutnya. Menurutnya, saat ini banyak hal besar yang dipertaruhkan di tengah ketegangan kedua negara.
 
Baca juga: Jelang Pertemuan dengan Ukraina dan Rusia, Blinken: AS Ingin Kedamaian
 
Kalin mengatakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. "Dia bahkan mengundang keduanya datang ke Turki, jika mereka ingin bertemu di sana dan menyelesaikan masalah serta perbedaan mereka," ungkap Kalin.
 
Ia menambahkan, dalam beberapa pekan ke depan, Erdogan akan melakukan perjalanan ke Ukraina. Walaupun begitu, sambung dia, Turki akan tetap berhubungan dekat dengan Rusia untuk menghindari segala jenis tindakan militer.
 
Pada 2014, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea setelah penggulingan pemimpin Ukraina yang bersahabat dengan Moskow dan juga mendukung pemberontakan separatis di Ukraina timur.
 
Menurut PBB, pertempuran antara pasukan pemerintah Ukraina dan separatis pro-Rusia di wilayah Donbas timur Ukraina telah menewaskan lebih dari 13.000 orang sejak 2014.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif