NEWSTICKER
Pemeriksaan suhu tubuh warga di AS mencegah penyebaran virus korona. Foto: AFP
Pemeriksaan suhu tubuh warga di AS mencegah penyebaran virus korona. Foto: AFP

Panik Covid-19, Penjualan Senjata Meningkat di AS

Internasional amerika serikat Virus Korona Coronavirus virus corona
Marcheilla Ariesta • 27 Maret 2020 08:48
Los Angeles: Penjualan senjata meningkat di Amerika Serikat dalam dua pekan terakhir ketika wabah virus korona covid-19 makin memburuk. Warga menimbun senjata dan amunisi karena khawatir pandemi tersebut dapat menyebabkan kerusuhan sosial.
 
"Kami mengalami peningkatan penjualan sekitar 800 persen," kata David Stone, pemilik Dong's Guns, Ammo and Reloading di Tulsa, Oklahoma.
 
"Saya masih belum kehabisan kaliber, namun stok hampir kosong," imbuhnya dilansir dari Channel News Asia, Kamis 26 Maret 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Stone menambahkan mayoritas pelanggan membeli senjata api dan amunisi sebanyak-banyaknya. Menurut dia, panic buying ini merupakan ketakutan akan virus korona.
 
"Saya sendiri tidak memahaminya, dan saya pikir itu tidak masuk akal," ujar dia.
 
Tak hanya Stone, beberapa pemilik toko senjata lain di seluruh Amerika Serikat juga mengatakan melihat lonjakan penjualan. Menurut mereka, masyarakat takut tatanan sosial akan terurai jika krisis kesehatan dan ekonomi yang disebabkan covid-19 meningkat.
 
Tiffany Teasdale, pemilik Lynnwood Gun di Washington mengatakan penjualan besar terlihat saat pelanggan berbaris satu jam sebelum toko dibuka.
 
"Kami dulu menjual 20 hingga 25 senjata hanya pada 'hari sibuk'. Namun, hari ini kita melihat lebih dari 150 senjata terjual," terangnya.
 
Teasdale mengatakan senapan tidak memadai untuk seluruh negeri. Para pelanggan juga membeli amunisi untuk pistol.
 
Dia menuturkan seorang pelanggan yang datang ke tokonya pernah bercerita memutuskan untuk mempersenjatai diri setelah menyaksikan dua perempuan berebut air botolan terakhir di sebuah toko.
 
"Para pelanggan kami juga takut karena penegak hukum diberitahu untuk tidak merespons sebab kekurangan staf. Jadi banyak orang takut jika akan ada orang yang masuk rumah mereka untuk mencuri uang tunai, kertas toilet, air botolan dan makanan mereka," pungkasnya.
 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat mengatakan kemungkinan Amerika Serikat menjadi salah satu negara episentrum virus di benua tersebut. Namun, mereka juga menambahkan jika lockdown saja tak cukup atasi korona.
 
Menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang patut dilakukan saat ini selain lockdown adalah memperkuat langkah-langkah pengujian dan perawatan.
 
Saat ini, korban terinfeksi virus korona di dunia mencapai 532.684 jiwa. Sementara korban meninggal sebanyak 24.054 jiwa dan pasien yang berhasil disembuhkan 122.193 orang. Amerika Serikat kini menjadi negara tertinggi dengan infeksi korona yang mencapai 85.486 orang.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif