UNESCO menyebut segala bentuk perubahan status Hagia Sophia harus dibicarakan karena situs tersebut merupakan salah satu Warisan Budaya Dunia.
"Hagia Sophia adalah mahakarya arsitektur dan testimoni unik terhadap interaksi antara Eropa dan Asia selama berabad-abad," ujar Azoulay dalam keterangan di situs UN News, Sabtu 11 Juli 2020.
"Statusnya sebagai museum merefleksikan nilai-nilai universal, yang menjadikannya sebagai simbol kuat untuk dialog," sambungnya.
Keputusan Turki mengubah status Hagia Sophia dinilai telah berdampak pada nilai-nilai universal tersebut. Menurut UNESCO, negara pemilik Warisan Budaya Dunia memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap perubahan apapun tidak berdampak pada perubahan nilai universal (Outstanding Universal Value).
Untuk mengubah status Warisan Budaya Dunia, sebuah negara harus terlebih dahulu menyampaikan notifikasi kepada UNESCO, untuk nantinya akan diperiksa oleh Komite Warisan Dunia.
"Merupakan hal penting untuk menghindari adanya langkah implementasi, apalagi tanpa adanya diskusi terlebih dahulu dengan UNESCO, yang dapat berdampak pada akses fisik kepada situs (Hagia Sophia)," ucap Ernesto Ottone, Asisten Dirjen UNESCO untuk Budaya.
"Langkah-langkah (Turki) semacam itu dapat disebut sebagai pelanggaran aturan berdasarkan Konvensi Warisan Dunia 1972," pungkasnya.
Jumat kemarin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan perubahan status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Perubahan diumumkan usai pengadilan Turki menganulir statusnya sebagai museum yang ditetapkan pada 1934.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News