WHO rekomendasikan Paxlovid untuk pasien covid-19 gejala ringan./AFP
WHO rekomendasikan Paxlovid untuk pasien covid-19 gejala ringan./AFP

WHO Sangat Merekomendasikan Pil Paxlovid Pfizer untuk Pasien Covid-19

Internasional WHO covid-19 Pfizer Obat Covid-19 Paxlovid
Marcheilla Ariesta • 22 April 2022 10:32
Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sangat merekomendasikan pil antivirus covid-19 buatan Pfizer, Paxlovid untuk pasien dengan bentuk penyakit yang lebih ringan, tapi berisiko tinggi dirawat di rumah sakit.
 
"Kombinasi nirmatrelvir dan ritonavir dari Pfizer adalah pilihan unggul pengobatan untuk orang yang tidak divaksinasi, lanjut usia, atau orang dengan gangguan kekebalan dengan covid-19," kata para ahli WHO dalam jurnal medis BMJ, dilansir dari AFP, Jumat, 22 April 2022.
 
Untuk pasien yang sama, WHO juga membuat rekomendasi bersyarat dari obat antivirus remdesivir yang dibuat oleh perusahaan biotek Amerika Serikat (AS), Gilead.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


WHO merekomendasikan Paxlovid daripada Remdesivir, bahkan lebih dari pil Molnupiravir buatan Merck dan antibodi monoklonal.
 
"Perawatan oral Pfizer mencegah rawat inap lebih dari alternatif yang tersedia, memiliki lebih sedikit kekhawatiran sehubungan dengan bahaya daripada molnupiravir, dan lebih mudah diberikan daripada Remdesivir dan antibodi intravena,” kata para ahli WHO.
 
Baca juga: Setujui Paxlovid, Tiongkok Terindikasi Hendak Akhiri Strategi 'Nol Kasus'
 
Rekomendasi baru ini didasarkan pada temuan dari dua percobaan yang melibatkan hampir 3.100 pasien yang menunjukkan bahwa Paxlovid mengurangi risiko masuk rumah sakit hingga 85 persen.
 
Percobaan tersebut menunjukkan tidak ada perbedaan penting dalam kematian. "Dan sedikit atau tidak ada risiko efek samping yang mengarah pada penghentian (penggunaan) obat," lanjut mereka.
 
Rekomendasi ini berlaku untuk orang yang berusia di atas 18 tahun, tetapi tidak untuk wanita hamil atau menyusui. Rekomendasi juga tidak berlaku untuk pasien dengan risiko komplikasi penyakit yang rendah, karena manfaatnya akan minimal.
 
Pakar WHO juga menolak memberikan pendapat untuk pasien dengan bentuk penyakit yang parah, karena kurangnya data.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif