Sekelompok prajurit Inggris ikut serta dalam latihan gabungan NATO. (Foto: Daniel Mihailescu/AFP via Getty Images)
Sekelompok prajurit Inggris ikut serta dalam latihan gabungan NATO. (Foto: Daniel Mihailescu/AFP via Getty Images)

Lawan Ekstremisme, Militer Inggris akan Dikirim ke Mali

Internasional inggris konflik mali
Arpan Rahman • 02 Maret 2020 16:03
London: Inggris berencana meningkatkan dukungan militer secara signifikan dalam melawan gerakan pemberontakan di Afrika Barat. Dalam sebulan terakhir, personel militer Inggris telah membantu melatih pasukan lokal dalam memerangi ekstremisme di Sahel -- sebutan untuk wilayah di Afrika antara Sahara dan Sudanian Savanna.
 
Sahel telah menjadi medan pertempuran antara pasukan lokal dan pemberontak sejak hampir satu dekade terakhir.
 
Untuk membantu menangani para pemberontak dan ekstremis di Sahel, Inggris berencana mengirim 250 prajurit ke Mali. Mereka semua akan bergabung dengan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejumlah pihak menyebut misi menjaga perdamaian di Sahel adalah salah satu yang tersulit di dunia.
 
Di Senegal, sebuah tim beranggotakan 30 prajurit Inggris telah melatih personel pasukan khusus dari sejumlah negara Afrika Barat. Pelatihan digelar di bawah program Amerika Serikat yang melibatkan lebih dari 1.600 prajurit.
 
Mayor John House memimpin elemen Inggris dalam pelatihan di Senegal. Fokus pelatihan adaah meningkatkan kemampuan tentara dalam operasi anti-terorisme. Ia mengatakan sudah menjadi kepentingan Inggris untuk terlibat lebih dalam di Sahel.
 
"Jika kita tidak bertindak, maka masalah akan semakin mendekat ke negara kita," kata House, disitat dari BBC, Senin 2 Maret 2020. "Semakin banyak personel militer kita di kawasan, maka efeknya akan semakin terasa di Inggris," lanjutnya.
 
Perwira militer dari Komando Operasi Khusus AS, Mayor Chris Giaquinto, juga menyampaikan pernyataan senada.
 
"Para ekstremis ingin menciptakan zona aman di Afrika untuk meningkatkan kekuataan dan memfasilitasi serangan, mungkin di Eropa atau Amerika Serikat," ujarnya.
 
Saat ini terdapat sejumlah grup ekstremis yang beroperasi di Sahel. Dua grup yang dikenal paling sering melancarkan serangan adalah Islamic State (ISIS) dan al-Qaeda.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif