Prajurit Ukraina masih terus berjuang melawan Rusia. Foto: AFP
Prajurit Ukraina masih terus berjuang melawan Rusia. Foto: AFP

Kaleidoskop 2022: Perang Berkepanjangan Rusia-Ukraina (Part 3)

Willy Haryono • 29 Desember 2022 16:47
Jakarta: Memasuki empat bulan terakhir 2022, belum ada tanda-tanda perang Rusia-Ukraina akan berakhir. Sejumlah pihak meyakini bahwa perang ini akan berlanjut hingga tahun depan, 2023.
 
Rusia sudah mulai menawarkan diri untuk berdialog damai, namun Ukraina belum dapat menerima syarat-syarat yang ditentukan, terutama mengenai menyerahkan wilayah yang saat ini diduduki Moskow.
 
Mengutip beragam sumber, berikut lini masa perang Rusia-Ukraina di empat bulan terakhir 2022:

September 2022

Tim inspektur IAEA akhirnya tiba di PLTN Zaporizhzhia pada 1 September setelah mendapat izin dari kubu Ukraina dan Rusia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rusia menghentikan pasokan gas ke Jerman via Nord Stream 1 selama tiga hari atas alasan perbaikan. Selang tiga hari kemudian, pasokan gas tetap dihentikan tanpa ada kejelasan tanggal. Perusahaan Gazprom menyebut rusaknya Nord Stream 1 diakibatkan oleh sanksi ekonomi Barat terhadap Rusia.
 
Setelah inspeksi tim IAEA ke PLTN Zaporizhzhia, pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa itu terputus dari jaringan energi utama dan hanya mengandalkan tenaga cadangan. Rusia menyalahkan peristiwa ini kepada Ukraina yang disebut terus berusaha merebut kembali PLTN Zaporizhzhia.
 
Menurut laporan Sky News, Rusia telah membeli sejumlah roket dari Korea Utara. Sebelumnya, Rusia juga dikabarkan mendapat pasokan drone "kamikaze" dari Iran.
 
Sebagai bagian dari serangan balasan, pasukan Ukraina berhasil merebut kembali Kupiansk dan Izium pada 10 September. Di hari yang sama, pasukan Ukraina juga berhasil mencapai Lysychansk di Luhansk Oblast. Zelensky mengatakan bahwa pihaknya telah berhasil merebut kembali area seluas 2.000 kilometer persegi sejak dimulainya serangan balasan.
 
Satu hari setelahnya, Kemenhan Rusia merilis sebuah peta yang mengonfirmasi bahwa pasukan Rusia di Kharkiv telah mundur ke tepi barat Sungai Oskol. Permukiman warga di Kozachya Lopan, Vovchansk and Lyptsi dikonfirmasi telah direbut kembali oleh Ukraina. Di hari yang sama, Rusia menarik hampir semua pasukannya dari Kharkiv Oblast.
 
Merespons serangan balasan Kyiv, Rusia meluncurkan rentetan rudal ke beberapa infrastruktur krusial Ukraina. Serangan ini memicu pemadaman listrik dan pasokan air bersih ke sejumlah wilayah, termasuk Kharkiv dan Donetsk Oblast.
 
Kanselir Jerman Olaf Scholz berbicara dengan Putin via telepon. Kepada awak media, Scholz mengatakan bahwa Putin terdengar tidak merasa bahwa invasinya ke Ukraina bukan merupakan suatu kesalahan, meski pasukan Rusia telah mengalami banyak kemunduran.
 
Sementara menurut Sekjen PBB Antonio Guterres, prospek terjadinya negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina relatif rendah.
 
Di medan pertempuran dekat Kherson, pasukan Rusia mundur dari Kiselyovka, sebuah permukiman warga yang berjarak sekitar 15 kilometer dari kota Kherson. Pasukan Ukraina mengumumkan bahwa pergerakan mereka di wilayah Kherson telah maju sejauh 12 km, dan 13 pemukiman di sekitarnya telah berhasil direbut kembali dari Rusia.
 
Dalam sebuah pidato, Putin mengumumkan mobilisasi parsial untuk membantu operasi militer di Ukraina. Putin mengatakan pasukan cadangan akan dipanggil untuk bertempur di Ukraina, dengan fokus kepada mereka yang memiliki pengalaman militer. Pasukan cadangan di sini meliputi semua warga Rusia, dengan pengecualian terkait usia, mengidap penyakit atau berstatus narapidana.
 
Selang beberapa hari kemudian, sejumlah wilayah yang diduduki Rusia di Ukraina menggelar referendum untuk bergabung dengan Negeri Beruang Merah. Presiden AS Joe Biden dan Kanselir Jerman Olaf Scholz mengecam referendum tersebut sebagai sesuatu yang ilegal.
 
Hasil referendum empat wilayah pendudukan dirilis, dengan keempatnya mendukung dianeksasi Rusia: Donetsk 99,23 persen, Luhansk 98,42 persen, Kherson 87,05 persen, dan Zaporizhzhia 93,11 persen.
 
Ledakan terjadi di jaringan pipa Nord Stream, dan NATO menyalahkan peristiwa tersebut sebagai sebuah sabotase.
 
Di hari terakhir September, Putin mengumumkan klaim atas Donetsk, Luhansk, Kherson dan Zaporizhzhia dan menyebut keempatnya sebagai "empat wilayah baru" Federasi Rusia.

Oktober 2022

Serangan balasan Ukraina terus berlanjut. Ukraina berhasil merebut kembali kota Lyman dan juga Yampil. Pemimpin Chechen Ramzan Kadyrov meminta Putin mengambil tindakan yang lebih drastis setelah jatuhnya kota Lyman.
 
Selang beberapa hari setelahnya, pasukan Ukraina berhasil merebut kembali permukiman warga di Nyzhe Zolone, Pidlyman, Nyznya Zhuravka, Borova and Shyikivka. Perebutan kelimanya menandai akhir dari pendudukan Rusia di Kharkiv Oblast.
 
Pasukan Ukraina juga merebut kembali permukiman warga di Kherson Oblast, termasuk Davydiv Brid, Lyubymivka, Khreshchenivka, Zolota Balka, Bilyaivka, Ukrainka and Velyka Oleksandrivka.
 
Sebuah ledakan di Jembatan Krimea menyebabkan bagian tersebut terbakar dan sebagian runtuh yang mengakibatkan kematian sedikitnya 3 orang pada 8 Oktober. Dua hari kemudian, Rusia meluncurkan serangan rudal besar-besaran di seluruh wilayah Ukraina, termasuk Kyiv, menewaskan setidaknya 23 warga sipil dan melukai lebih dari 10 lainnya. Putin mengatakan serangan tersebut adalah balasan atas ledakan di Jembatan Krimea.
 
Majelis Umum PBB mengeluarkan Resolusi ES-11/4 dengan dukungan dari mayoritas anggota. Resolusi itu menyerukan negara-negara dunia untuk tidak mengakui empat wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia.
 
Menjelang pekan ketiga Oktober, pasukan Rusia menyerang "infrastruktur krusial" di utara Kyiv dan di Zhytomyr, menyebabkan pemadaman listrik dan air di Zhytomyr. Zelensky mengatakan bahwa rentetan serangan Rusia telah menghancurkan sepertiga pembangkit listrik Ukraina.
 
Sementara itu di kota Kherson, Rusia mengevakuasi warga sipil di tengah semakin mendekatnya pasukan Ukraina. Ukraina menyerukan warga kota Kherson untuk mengabaikan seruan evakuasi.
 
Sepanjang pekan terakhir Oktober, Rusia terus melancarkan serangan yang menghantam infrastruktur energi Ukraina. Pemadaman listrik berskala masif pun tak terhindarkan.

November 2022

Rusia mengumumkan akhir dari mobilisasi parsial di hari pertama November. Dalam sebuah skema pertukaran tahanan, 107 prajurit Ukraina telah dikembalikan oleh Rusia.
 
Putin menandatangani sebuah dekrit yang memungkinkan orang yang dihukum karena kejahatan serius untuk dimobilisasi menjadi tentara Rusia.
 
Pasukan Rusia mundur dari kota Kherson ke arah tepi timur Sungai Dnipro pada 9 November. Dua hari kemudian, pasukan Ukraina berhasil masuk ke kota Kherson tanpa perlawanan berarti.
 
Majelis Umum PBB meloloskan sebuah resolusi yang menyebutkan Rusia bertanggung jawab atas semua kerusakan yang ditimbulkan di Ukraina. Resolusi itu juga mendesak Rusia untuk melakukan reparasi.
 
Pada pertengahan November, Rusia meluncurkan sekitar 85 hingga 100 rudal ke sejumlah kota di Ukraina. Rentetan serangan ini memicu pemadaman listrik dan air bersih terhadap lebih dari 10 juta warga Ukraina.
 
Parlemen Eropa mendeklarasikan Rusia sebagai "negara pendukung terorisme" pada 23 November, atas tindakan Moskow selama ini yang dinilai menyerang warga sipil secara sistematis. Di hari yang sama, Rusia kembali meluncurkan puluhan rudal ke permukiman warga dan infrastruktur energi Ukraina.
 
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menegaskan bahwa aliansi pimpinannya berkomitmen untuk mendukung Ukraina selama apapun. Ia juga menjanjikan Ukraina bahwa NATO akan menerima negara tersebut sebagai anggota suatu saat nanti.
 
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengusulkan pembentukan pengadilan PBB untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang yang dilakukan Rusia. Pembentukan pengadilan baru ini diserukan karena Rusia tidak mengakui Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Desember 2022

Penasihat Kepresidenan Ukraina Mykhailo Podolyak mengatakan bahwa 10 ribu hingga 13 ribu prajurit Ukraina telah tewas terbunuh sejak invasi Rusia pada 24 Februari. Di Rusia, Putin mengakui bahwa "operasi militer khusus" Rusia di Ukraina telah berlangsung lebih lama dari perkiraan.
 
Rusia menggunakan drone buatan Iran untuk menyerang dua fasilitas energi di Odesa, menjadikan semua infrastruktur non-krusial di pelabuhan Ukraina kehilangan energi. Sekitar 1,5 juta warga Ukraina juga kehilangan aliran listrik setelah serangan tersebut.
 
Ukraina melancarkan serangan rudal ke kota Melitopol yang diduduki Rusia, termasuk di barak militer Rusia. Menurut administrator Melitopol yang dipasang di Rusia, empat rudal menghantam kota, menewaskan dua orang.
 
Zelensky mengatakan bahwa pasukan Rusia telah menghancurkan Bakhmut, dan mengubah kota tersebut menjadi "puing-puing terbakar." Ia kemudian meminta G7 untuk mengirim tank baja, artileri dan senjata jarak jauh. Negara-negara G7 bertekad untuk memenuhi kebutuhan Ukraina.
 
Tiga ledakan terdengar di pusat ibu kota Kyiv. Zelensky mengatakan bahwa pertahanan udara Ukraina telah menembak jatuh 13 drone "kamikaze" Rusia buatan Iran.
 
Andrii Yermak, Kepala Staf Kantor Presiden Ukraina, menyatakan bahwa mereka telah membebaskan sekitar 64 personel militer dan seorang warga negara Amerika Serikat dalam kesepakatan pertukaran tahanan dengan Rusia.
 
Pemerintah Ukraina mendesak Russia untuk segera menarik pasukan pada hari Natal untuk mengakhiri konflik. Rusia menegaskan bahwa tidak akan ada "gencatan senjata natal" sampai Ukraina mengakui area-area pendudukan.
 
Rentetan rudal kembali diluncurkan Rusia, menghancurkan infrastruktur di Kyiv, Kharkiv, Poltava, dan Kremenchuk. Dari total 76 rudal yang ditembakkan, Ukraina mengeklaim telah berhasil menembak jatuh 60.
 
Angkatan Udara Ukraina mengatakan bahwa Rusia menyerang sejumlah infrastruktur dengan 35 drone kamikaze, 30 di antaranya berhasil ditembak jatuh. Putin mengatakan situasi di empat wilayah aneksasi Rusia di Ukraina "sangat sulit."
 
Untuk kali pertama sejak invasi Rusia, Zelensky mengunjungi Amerika Serikat dan bertemu Presiden Joe Biden, Wapres Kamala Harris dan Ketua DPR Nancy Pelosi.
 
Satu hari setelah kunjungan Zelensky, Putin menyebut konflik di Ukraina sebagai "perang," bukan "operasi militer khusus." Di Hari Raya Natal, Putin menegaskan bahwa Rusia siap bernegosiasi dengan Ukraina. Namun Ukraina dan mitra-mitra Barat menolak tawaran tersebut.
 
Satu hari kemudian, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov melayangkan ultimatum kepada Ukraina: "terima proposal kami atau militer akan bertindak." Dalam pidato Hari Raya Natal, Zelensky mengatakan bahwa tahun 2023 akan menjadi tahun krusial bagi Ukraina.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif